Jadwal Kajian Rutin & Privat Bahasa Arab | Pesantren Terbuka "As-Sunnah" Selayar

Tidak Berwudhu Setelah Mandi Junub, Benarkah...???

Soal : Semoga Allah menjaga kalian, saya pernah mendengar bahwa orang yang junub dan berhadats besar maka cukup mandi tidak perlu berwudhu', dan orang tersebut bisa langsung sholat tanpa whudu' karena mandi junub sudah cukup. Bagaimana tingkat keshohihan pendapat tersebut dan dari mana para ulama mengambil kesimpulan hukum seperti itu? Apakah masuk juga dalam masalah tersebut, mandi jum'at dan mandi untuk sekedar membersihkan badan? Bagaimana jika saya menyentuh kemaluan pada saat mandi, apakah harus berwudhu', dimana menyentuh kemaluan bisa membatalkan wudhu' menurut salah satu pendapat dalam masalah ini? Semoga Allah menjaga kalian...

Jawab : Segala puji hanya milik Allah, dan semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Rasul Utusan Allah serta kepada seluruh keluarga dan para shahabatnya,

Apa yang Anda sebutkan terkait dengan keberadaan orang yang mandi junub, bahwa hal tersebut telah mencukupinya dari wudhu', ini adalah pendapat yang benar. Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wata'ala :
{وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا} [المائدة: 6]
dan jika kamu junub maka mandilah, [QS. Al Maidah : 6]

Allah ta'ala tidak memerintahkan selain mandi, ini menunjukkan bahwa mandi telah mencukupi. Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :

إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِي عَلَى رَأْسِكِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تُفِيضِينَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِينَ
Sesungguhnya cukup bagimu menyiram kepalamu tiga cidukan kemudian membasahi seluruh badanmu dengan air, maka engkau jadi suci hanya dengan melakukan seperti itu. [HR. Muslim]

Beliau shollallahu 'alaihi wasallam tidak memerintahkan untuk berwudhu'. Alasan lainnya karena hadats kecil itu masuk dalam hadats besar, sebagai pengikut.

Aisyah radhiallohu 'anha berkata :
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يتوضأ بعد الغسل
Dahulu Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam tidak berwudhu setelah mandi junub [HSR. An Nasa'i]

Dari Ibnu Umar radhiallohu 'anhuma, bahwasanya beliau berkata kepada seseorang yang berkata kepadanya : Sesungguhnya saya berwudhu' setelah mandi, maka beliau berkata kepadanya : Sungguh engkau terlalu dalam.

Abu Bakar Ibnul Arabi berkata : Tidak terjadi silang pendapat dikalangan para ulama dalam hal bahwasanya wudhu' masuk dalam cakupan mandi, dan bahwasanya niat bersuci atau mandi junub itu muncul untuk bersuci dari hadats dan menghilangkannya, karena batasan-batasan junub itu lebih luas dibanding batasan-batasan hadats, maka sesuatu yang lebih sempit masuk dalam cakupan niat sesuatu yang lebih luas, dan niat sesuatu yang lebih besar itu mencukupinya.

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : Mandi -jika dilakukan karena junub-, maka sesungguhnya mandi tersebut sudah mencukupi dari wudhu'; berdasarkan firman Allah subhanahu wata'ala :

{وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا} [المائدة: 6]
dan jika kamu junub maka mandilah, [QS. Al Maidah : 6]

Jadi apabila seseorang wajib mandi junub, lalu berendam di telaga atau di sungai dan yang semisalnya, dan dia niatkan hal tersebut untuk mandi junub mengangkat hadats besar, berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung, maka sesungguhnya terangkatlah hadats darinya, baik yang kecil dan maupun yang besar; karena Allah subhanahu wata'ala tidak mewajibkan saat junub kecuali agar kita bersuci, yaitu mandi membasahi seluruh tubuh dengan air, meskipun yang afdhal bagi orang yang mandi junub hendaknya wudhu' terlebih dahulu; dimana Nabi shollallahu 'alaihi wasallam mencuci kemaluannya setelah mencuci kedua tangannya, kemudian berwudhu' seperti wudhu' ketika hendak sholat, kemudian menyiramkan air ke kepalanya, apabila dia sudah yakin telah membasahi seluruh kulit kepalanya, maka dia siram sebanyak tiga kali, kemudian mencuci seluruh bagian tubuhnya yang tersisa.


Adapun mandi sekedar membersihkan dan menyegarkan badan dan demikian pula mandi sunnah seperti mandi jum'at, maka tidak cukup tanpa wudhu', karena itu tidak sama pengertiannya seperti mandi junub, jadi barangsiapa yang mandi sunnah atau mandi untuk membersihkan dan menyegarkan badan dan jika tidak meniatkan mengangkat hadats kecil dan dengan mencuci anggota wudhu' secara berurutan pada saat mandi maka dia harus mengulangi wudhu'nya setelah selesai mandi.

Al Kharasyi berkata dalam kitab Syarah Mukhtashar Khalil : Apabila orang yang bersuci mencukupkan diri dengan mandi tanpa berwudhu', maka itu telah mencukupinya, namun ini berlaku hanya pada mandi wajib saja. Adapun selain mandi wajib maka tidak cukup tanpa berwudhu, dia tetap harus berwudhu' jika ingin mengerjakan sholat.

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata : Adapun jika mandinya selain mandi junub; seperti misalnya mandi jum'at dan mandi untuk membersihkan dan menyegarkan badan, maka tidak cukup tanpa wudhu' meskipun dia niatkan seperti itu; karena tidak adanya membasuh secara berurutan, yaitu anggota-anggota wudhu' yang wajib dibasuh, dan karena tidak adanya niat bersuci dari hadats besar yang bisa masuk di dalamnya bersuci dari hadats kecil dengan satu niat, sebagaimana dalam mandi junub.

Apabila orang yang mandi berhadats saat mandi baik karena menyentuh kemaluan atau karena pembatal-pembatal wudhu' lainnya, maka dia wajib mengulangi wudhu'nya setelah selesai mandi, karena dia belum mengerjakan wudhu' tersendiri setelah berhadats, dan tidak mandi lagi yang wudhu' masuk didalamnya, sebagai pengikut.

Ibnu Qosim rahimahullah dalam Ha-syiyah ar Raudh berkata : Apabila dia belum berwudhu' lalu menyiram seluruh tubuhnya, Ibnu Abdil Barr dan ulama lainnya berpendapat : Sungguh dia telah menunaikan kewajibannya, berdasarkan firman Allah subhanahu wata'ala :

{وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا} [المائدة: 6]
dan jika kamu junub maka mandilah, [QS. Al Maidah : 6]

Dan pendapat ini merupakan ijma' yang tidak ada perbedaan pendapat didalamnya. Apabila dia meniatkan keduanya -mengangkat hadats besar dan kecil- kemudian berhadats maka dia selesaikan mandinya dengan sempurna kemudian berwudhu'.


Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : Tidak wajib bagi dia untuk berwudhu setelah mandi, kecuali apabila terjadi salah satu dari pembatal-pembatal wudhu' pada saat mandi atau setelah mandi, maka wajib baginya untuk berwudhu' saat ingin melaksakanan sholat,. Adapun apabila dia tidak berhadats maka mandi junub yang dilakukannya mencukupi tanpa wudhu', baik dia telah berwudhu sebelum mandi atau belum berwudhu'.

Wallohu a'lam.


Sumber : غسل الجنابة هل يغني عن الوضوء وماذا لو أحدث أثناءه


Kalau sudah mandi junub apa harus wudhu lagi
Mandi Junub | Wudhu


Teks Arab


السؤال
حفظكم الله، سمعت أن من عليه جنابة كبرى فإن الغسل يكفيه عن الوضوء ويستطيع الشخص الصلاة بدون وضوء لأن الغسل من الجنابة يكفي. ماصحة هذا القول ومن أين استنبطه أهل العلم؟ وهل يدخل في ذلك غسل يوم الجمعة وغسل التنظف؟ وماذا إذا مسست فرجي أثناء الغسل هل لا بد من الوضوء كون مس الذكر ينقض الوضوء على قول في المسألة والله يحفظكم؟
الإجابــة
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد:
فما ذكرته من كون من اغتسل من جنابة أجزأه ذلك عن الوضوء، كلام صحيح، ودليل ذلك قوله تعالى: وإن كنتم جنبا فاطهروا. فلم يأمر بغير الاغتسال فدل على إجزائه، وقال صلى الله عليه وسلم لأم سلمة :إنما يكفيك أن تحثي على رأسك ثلاث حثيات ثم تفيضين الماء على سائر جسدك فتطهرين. أخرجه مسلم. ولم يأمر بوضوء، ولأن الحدث الأصغر يدخل في الأكبر تبعا. قالت عائشة: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يتوضأ بعد الغسل.
وعن ابن عمر رضي الله عنهما أنه قال لرجل - قال له: إني أتوضأ بعد الغسل - فقال له: لقد تعمقت.
وقال أبو بكر بن العربي: لم يختلف العلماء أن الوضوء داخل تحت الغسل، وأن نية طهارة الجنابة تأتي على طهارة الحدث وتقضي عليها، لأن موانع الجنابة أكثر من موانع الحدث، فدخل الأقل في نية الاكثر، وأجزأت نية الأكبر عنه.
وقال الشيخ العثيمين رحمه الله: الاستحمام - إن كان عن جنابة - فإنه يكفي عن الوضوء؛ لقوله تعالى: {وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا}.[المَائدة: 6]. فإذا كان على الإِنسان جنابة وانغمس في بركة أو في نهر أو ما أشبه ذلك، ونوى بذلك رفع الجنابة وتمضمض واستنشق، فإنه يرتفع الحدَث عنه الأصغر والأكبر؛ لأن الله تعالى لم يُوجب عند الجنابة سوى أنْ نَطهَّر، أي: أن نَعُمَّ جميع البدن بالماء غسلاً، وإن كان الأفضل أنَّ المُغتسِلَ من الجنابة يتوضأ أولاً؛ حيثُ كان النبي صلى الله عليه وسلم يغسل فَرْجَه بعد أن يغسل كفَّيه ثم يتوضأ وضوءَه للصلاةِ، ثم يُفيض الماء على رأسه، فإذا ظنَّ أنه أَرْوَى بشرتَه أفاض عليه ثلاث مرات، ثم يغسل باقي جسده. انتهى.
وأما غسل التنظف والتبرد وكذا الغسل المسنون كغسل الجمعة فإنه لا يكفي عن الوضوء، لأنه ليس في معنى الغسل من الجنابة، فمن اغتسل غسلا مسنونا أو غسل تنظف وتبرد فإن لم ينو رفع الحدث الأصغر ويغسل أعضاء الوضوء مرتبا في أثناء الغسل فإنه لا بد له من إعادة الوضوء بعد الغسل.
قال الخرشي في شرح مختصر خليل: فإن اقتصر المتطهر على الغسل دون الوضوء أجزأه ، وهذا في الغسل الواجب، أما غيره فلا يجزئ عن الوضوء، ولا بد من الوضوء إذا أراد الصلاة. انتهى.
وقال الشيخ ابن باز رحمه الله: أما إن كان الغسل لغير ذلك ; كغسل الجمعة , وغسل التبرد والنظافة ، فلا يجزئ عن الوضوء ولو نوى ذلك ; لعدم الترتيب , وهو فرض من فروض الوضوء, ولعدم وجود طهارة كبرى تندرج فيها الطهارة الصغرى بالنية, كما في غسل الجنابة. انتهى.
وإذا أحدث المغتسل في أثناء الغسل بمس الذكر أو غيره من نواقض الوضوء، فإن عليه إعادة الوضوء بعد الغسل، لأنه لم يأت بعد الحدث بوضوء مستقل ولا بغسل يدخل الوضوء فيه تبعا.
قال ابن قاسم رحمه الله في حاشية الروض: فإذا لم يتوضأ وعم جميع بدنه فقال ابن عبد البر وغيره: قد أدى ما عليه لقوله: { وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا }. وهو إجماع لا خلاف فيه. اهـ. فإن نواهما ثم أحدث أتم غسله ثم توضأ. انتهى.
وقال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله: ولا يجب عليه أن يتوضأ بعد الغسل ، إلا إذا حصل ناقض من نواقض الوضوء أثناء الغسل أو بعده، فيجب عليه أن يتوضأ للصلاة، وأما إذا لم يحدث فإن غسله من الجنابة يجزئ عن الوضوء سواء توضأ قبل الغسل أم لم يتوضأ.
والله أعلم.

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Al-Bukhari 6089 & Muslim 46)