Sekiranya KITA Punya ke-SABAR-an, Apa saja FADHILAH dan Keutamaannya?

11/27/2016 Add Comment
Fadhilah Keutamaan Sabar
Fadhilah SABAR di dalam al Qur'an al Karim:

1- علق الله الفلاح به في قوله: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} [آل عمران: 200].
1. Allah ta'ala mengaitkan antara keberuntungan dengan kesabaran, dalam firman-Nya: {Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.} [Ali Imran (3): 200].
2- الإخبار عن مضاعفة أجر الصابرين على غيره: {أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا} [القصص: 54] وقال: {إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ} [الزمر: 10]
2. Pemberitahuan tentang pelipatgandaan ganjaran pahala bagi orang-orang yang bersabar atas yang lainnya: {Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka,} [al Qosos (28): 54], dan Allah ta'ala berfirman: {Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.} [Azzumar (39): 10]
3- تعليق الإمامة في الدين به وباليقين: {وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ} [السجدة: 24].
3. Keterkaitan antara kepemimpinan dalam agama dengan kesabaran dan keyakinan: {Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.} [Assajadah (32): 24]
4- ظفرهم بمعية الله لهم : {إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ} [البقرة: 153].
4. Kemenangan mereka, karena Allah bersamanya: {sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.} [al Baqarah (2): 153 & al Anfal (8): 46]
5- أنه جمع لهم ثلاثة أمور لم تجمع لغيرهم: {أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ} [البقرة: 157].
5. Sesungguhnya Allah ta'ala mengumpulkan bagi mereka tiga perkara yang tidak terkumpul bagi selain mereka: {Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.} [al Baqarah (2): 157]
6- أنه جعل الصبر عوناً وعدة، وأمر بالاستعانة به : {وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ} [البقرة: 45].
6. Sesungguhnya Allah ta'ala menjadikan kesabaran sebagai bantuan dan pelengkap, serta Allah ta'ala perintahkan untuk meminta pertolongan dengan kesabaran: {Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.} [al Baqarah (2): 45]
7- أنه علق النصر بالصبر والتقوى فقال: {بَلَى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آلَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ} [آل عمران: 125].
7. Sesungguhnya Allah ta'ala mengaitkan pertolongan dengan kesabaran dan taqwa, Allah ta'ala berfirman: {Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.} [Ali Imran (3): 125]
8- أنه تعالى جعل الصبر والتقوى جنة عظيمة من كيد العدو ومكره فما استجن العبد بأعظم منهما: {وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا} [آل عمران: 120].
8. Sesungguhnya Allah ta'ala menjadikan kesabaran dan taqwa sebagai tameng yang kokoh dari tipu daya dan makar musuh, maka tidaklah seorang hamba memakai tameng dengan sesuatu yang sangat kokoh dibanding keduanya: {Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.} [Ali Imran (3): 120]
9- أن الملائكة تسلم في الجنة على المؤمنين بصبرهم {وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ * سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ} [الرعد: 23، 24].
9. Sesungguhnya malaikat memberikan salam di surga atas orang-orang yang beriman karena kesabaran mereka, {sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.} [Arro'du (13): 23-24]
10- أنه سبحانه رتب المغفرة والأجر الكبير على الصبر والعمل الصالح فقال: {إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ} [هود: 11].
10. Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala menetapkan maghfirah dan pahala yang besar diatas kesabaran dan amal sholeh, Allah ta'ala berfirman: {kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.} [Hud (11): 11]
11- أنه سبحانه جعل الصبر على المصائب من عزم الأمور: أي مما يعزم من الأمور التي إنما يعزم على أجلها وأشرفها: {وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ} [الشورى: 43].
11. Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala menjadikan kesabaran atas musibah termasuk perkara-perkara yang diutamakan yaitu termasuk dari perkara-perkara yang diniatkan dengan sungguh-sungguh yang diniatkan karena keagungan dan kemuliaannya : {Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.} [Asysyura (42): 43]
12- أنه سبحانه جعل محبته للصابرين: {وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ} [آل عمران: 146].
12. Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala menjadikan kecintaannya terhadap orang-orang yang bersabar: {Allah menyukai orang-orang yang sabar.} [Ali Imran (3): 146]
13- أنه تعالى قال عن خصال الخير: إنه لا يلقاها إلا الصابرون: {وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ} [فصلت: 35].
13. Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala berfirman tentang sifat-sifat yang baik: bahwasanya tidak ada yang bisa mendapatkannya kecuali orang-orang yang bersabar: {Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.} [Fushishilat (41): 35]
14- أنه سبحانه أخبر أنما ينتفع بآياته ويتعظ بها الصبار الشكور: {إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ} [الشورى: 33].
14. Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala mengabarkan bahwasanya yang mendapatkan manfaat dengan ayat-ayat-Nya dan mengambil wejangan dengannya hanyalah orang yang sangat penyabar dan banyak bersyukur: {Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat penyabar dan banyak bersyukur.} [Ibrahim (14): 5; Lukman (31): 31; Saba' (34): 19; Asysyura (42): 33]
15- أنه سبحانه أثنى على عبده أيوب أجل الثناء وأجمله لصبره فقال: {إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ} [ص: 44]، فمن لم يصبر فبئس العبد هو.
15. Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala memuji hamba-Nya Ayyub -alaihissalam- dengan pujian yang sangat agung dan indah karena kesabarannya, Allah ta'ala berfirman: {Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).} [Shod 38): 44], maka barangsiapa yang tidak bersabar maka dia adalah seburuk-buruk hamba.
16- أنه حكم بالخسران التام على كل من لم يؤمن ويعمل الصالحات ولم يكن من أهل الحق والصبر: {وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا...} [العصر: 1 - 3].
16. Sesungguhnya Allah ta'ala menetapkan kerugian yang sempurna atas setiap orang yang tidak beriman dan tidak beramal sholeh serta tidak termasuk orang -yang nasehat menasehati supaya menetapi- al Haq dan kesabaran: {Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman...} [Surah Al Ashr (103): 1-3]
قال الإمام الشافعي:"لو فكر الناس كلهم في هذه الآية لوسعتهم، وذلك أن العبد كماله في تكميل قوتيه: قوة العلم، وقوة العمل، وهما: الإيمان والعمل الصالح وكما هو محتاج لتكميل نفسه فهو محتاج لتكميل غيره، وهو التواصي بالحق، وقاعدة ذلك وساقه إنما يقوم بالصبر".
Al Imam Asy Syafi'i berkata: Sekiranya manusia seluruhya mau memikirkan tentang ayat ini tentu telah mencukupi bagi mereka, dan itu karena sesungguhnya seorang hamba, kesempurnaannya terletak pada penyempurnaan kekuatannya: kekuatan ilmu dan kekuatan amal, dan keduanya adalah -sama dengan- iman dan amal sholeh, kemudian sebagaimana dia perlu menyempurnakan dirinya maka dia juga perlu menyempurnakan orang lain, dan itu dengan nasehat menasehati supaya menetapi al Haq, dimana pondasi serta bangunan utama hal tersebut hanya bisa tegak dengan kesabaran.
17- أنه سبحانه خص أهل الميمنة بأنهم أهل الصبر والمرحمة الذين قامت بهم هاتان الخصلتان ووصوا بهما غيرهم فقال تعالى: {ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ * أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ} [البلد: 17، 18].
17. Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala memberikan kekhususan kepada -orang-orang- golongan kanan karena mereka adalah orang-orang yang punya kesabaran dan kasih sayang, mereka adalah orang-orang yang tegak pada mereka kedua sifat ini dan mereka memberikan pesan -nasehat- akan kedua sifat ini kepada orang selain mereka, Allah ta'ala berfirman: {Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (yaitu orang-orang yang memiliki sifat demikian itu) adalah golongan kanan.} [Al Balad (90): 17 & 18]
18- أنه تبارك وتعالى قرن الصبر بمقامات الإيمان وأركان الإسلام وقيم الإسلام ومثله العليا، فقرنه بالصلاة {وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ} [البقرة: 45] وقرنه بالأعمال الصالحة عموماً {إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ} [هود: 11]، وجعله قرين التقوى {إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ} [يوسف: 90]، وقرين الشكر {إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ} [إبراهيم: 5]، وقرين الحق {وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ} [العصر: 3]، وقرين المرحمة {وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ} [البلد: 17]، وقرين اليقين {لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ} [السجدة: 24]، وقرين التوكل {نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ * الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ} [العنكبوت: 58، 59]، وقرين التسبيح والاستغفار {فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ} [غافر: 55]، وقرنه بالجهاد {وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ } [محمد: 31].
18. Sesungguhnya Allah tabaraka wata'ala menggandengkan kesabaran dengan berbagai penegak keimanan dan rukun islam dan dengan hal berharga dan sifat tertinggi dalam islam. Allah ta'ala menggandengkan kesabaran dengan sholat {Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.} [Al Baqarah (2): 45]. Allah menggandengkan kesabaran dengan amal sholeh secara umum {kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh;} [Hud (11): 11]. Allah ta'ala menjadikan kesabaran bergandengan dengan taqwa {Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar,} [Yusuf (12) : 90], dan bergandengan dengan syukur {Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat penyabar dan banyak bersyukur.} [Ibrahim (14): 5; Lukman (31): 31; Saba' (34): 19; Asysyura (42): 33], dan bergandengan dengan al Haq {dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.} [Al Ashr (103): 3], dan bergandengan dengan berkasih sayang {dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.} [Al Balad (90): 17], dan bergandengan dengan keyakinan {ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.} [Assajadah (32): 24], dan bergandengan dengan tawakkal {Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya.} [Al Ankabut (29): 58-59], serta bergandengan dengan tasbih dan istighfar memohon ampun: {Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.} [Ghafir (40): 55]. Allah ta'ala juga menggandengkan kesabaran dengan jihad {Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu,} [Muhammad (47): 31].
19- إيجاب الجزاء لهم بأحسن أعمالهم {وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [النحل: 96].
19. Penetapan balasan pahala bagi mereka -orang yang sabar- dengan pahala yang lebih baik dari amal mereka: {Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.} [Annahl (16): 96].

Sumber: الصبر في القرآن - محمد بن عبدالعزيز الخضيري

Pengertian HIKMAH Menurut Etimologi dan Terminologi

11/23/2016 Add Comment
Arti Hikmah | Pengertian Hikmah | Islam
معنى الحِكْمَة لغةً واصطلاحًا
Arti HIKMAH menurut bahasa Arab dan secara istilah

معنى الحِكْمَة لغةً: الحَكَمَةُ: ما أحاط بحَنَكَي الفرس، سُمِّيت بذلك؛ لأنَّها تمنعه من الجري الشَّديد، وتُذلِّل الدَّابَّة لراكبها، حتى تمنعها من الجِماح [1]
Makna HIKMAH secara bahasa: الحَكَمَةُ (tali kekang): Sesuatu yang mengitari dua bibir/mulut kuda, disebut demikian karena الحَكَمَةُ (tali kekang) ini mencegah kuda lari kencang, dan menundukkan binatang tunggangan bagi pengendaranya hingga mencegahnya dari lari tak terkendali, mogok atau tak mau lari.
، ومنه اشتقاق الحِكْمَة؛ لأنَّها تمنع صاحبها من أخلاق الأراذل.
dan darinyalah diambil pecahan kata الحِكْمَة (hikmah) karena hikmah ini mencegah pemiliknya dari akhlak yang jelek.
وأَحْكَمَ الأَمْرَ: أي أَتْقَنَه فاستَحْكَم، ومنعه عن الفساد، أو منعه من الخروج عمَّا يريد [2] .
أَحْكَمَ الأَمْرَ (mengerjakan suatu perkara dengan sempurna): artinya menyempurnakannya sehingga menjadi kuat dan kokoh, serta mencegahnya dari kerusakan atau mencegahnya keluar -jauh- dari apa yang dia inginkan.

معنى الحِكْمَة اصطلاحًا: قال أبو إسماعيل الهروي: (الحِكْمَة اسم لإحكام وضع الشيء في موضعه) [3] .
Makna HIKMAH secara istilah: Abu Ismail al Harawi berkata: Hikmah adalah nama yang disematkan bagi pelaksanaan dengan sempurna dari peletakan sesuatu pada tempatnya.
وقال ابن القيِّم: (الحِكْمَة: فعل ما ينبغي، على الوجه الذي ينبغي، في الوقت الذي ينبغي) [4] .
Ibnul Qoyyim berkata: Hikmah adalah mengerjakan sesuatu yang seharusnya -dikerjakan-, sesuai dengan bentuk yang seharusnya dan pada waktu yang seharusnya.
وقال النَّووي: (الحِكْمَة، عبارة عن العلم المتَّصف بالأحكام، المشتمل على المعرفة بالله تبارك وتعالى، المصحوب بنفاذ البصيرة، وتهذيب النَّفس، وتحقيق الحقِّ، والعمل به، والصدِّ عن اتِّباع الهوى والباطل، والحَكِيم من له ذلك)
An Nawawi berkata: Hikmah adalah ibarat tentang ilmu yang disifati dengan ketetapan, -ilmu- yang mencakup atas pengenalan akan Allah tabaraka wata'ala, -ilmu- yang disertai dengan pelaksanaan hujjah yang nyata, perbaikan diri, pelaksanaan al Haq dan pengamalannya serta pencegahan dari pengikutan terhadap hawa nafsu dan kebatilan. al Hakim (ahli hikmah) adalah orang yang memiliki hal tersebut.[5]



[1] dari kata جمح الفرس: Apabila kudanya pergi berlari dengan kencang dan menjadi kuat serta mengalahkan pengendaranya. [Lisan al Arab 2/426]
[2] [al Qamus al Muhith] Fairuz Abadi h. 1415, [Lisan al Arab] Ibnu Manzhur 12/143, [Mukhtar ash Shihah] Arrozi h. 62, [An Nihayah fie Garib al hadits] Ibnu al Atsir 1/119, [al Mishbah al Munir] al Qoyyumi 1/145, [Taj al Arus] az Zubaidi 8/253, [al Jami' li Ahkami al Qir'an] al Qurthubi 1/288, [al Mu'jam al Washith] 1/19
[3] [Manazil as Sa'irin] h. 78
[4] [Madarij as Salikin] Ibnul Qoyyim 2/449
[5] [Syarh an Nawawi ala Muslim] 2/33



Sumber: http://www.dorar.net/enc/akhlaq/452

Aksi Demo | Nasehat yang Menyejukkan atau Celaan yang Menyesakkan

11/10/2016 Add Comment
Demonstrasi, Bolehkah?

Gejolak unjuk rasa atau demonstrasi yang saat ini sedang marak, mengundang komentar banyak pengamat. Sebagian mereka mengatakan : “Aksi unjuk rasa ini dipelopori oleh oknum - oknum tertentu.” Adapula yang berkomentar : “Tidak mungkin adanya gejolak kesemangatan untuk aksi kecuali ada yang memicu atau ngompori.”

Sedangkan yang lain berkata : “Demonstrasi ini adalah ungkapan hati nurani rakyat.” Bahkan sebagian lagi mengatakan bahwa “demonstrasi” adalah bagian dari nasehat dan amar makruf nahi munkar, sehingga seolah-olah menjadi hal yang harus dilakukan.

Namun, kita harus melihat dari kacamata syariat, apakah benar demonstrasi yang dinamakan oleh penggiatnya sebagai metode nasehat dan amar ma’ruf nahi munkar merupakan manhaj (cara/metode) Nabi yang mulia shollallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya, ataukah sesuatu yang harus diluruskan?

Dan ketahuilah, tidaklah nama yang indah itu akan merubah hakikat sesuatu yang buruk, walau dibumbui dengan label Islami.

Dampak Buruk Demonstrasi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “demonstrasi” diartikan sebagai pernyataan protes yg dikemukakan secara massal; unjuk rasa.

Definisi ini sesuai dengan realita yang terjadi saat ini, di mana sebagian kelompok masyarakat (baca ; mahasiswa) melakukan aksi unjuk rasa “ketidaksetujuan” atas kebijakan pemerintah dalam berbagai hal secara massal.

Model ini membawa banyak dampak buruk yang amat mengganggu kepentingan masyarakat umum, karena kerap dilakukan pada tempat – tempat umum, fasilitas – fasilitas umum dan objek vital lainnya.

Ironisnya, unjuk rasa tersebut tidak hanya berisi penolakan terhadap kebijakan pemerintah, tetapi lebih dari itu, mereka juga menunjukkan sikap pembangkangan, menyebarkan aib, tidak hormat dan melecehkan pemerintah/penguasa.

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda, artinya : “Sesungguhnya riba yang paling mengerikan adalah mencemarkan kehormatan seorang muslim tanpa alasan” (Shahih, riwayat Abu Dawud dan Ahmad).

Kehormatan seorang muslim adalah haram, sedangkan dalam demonstrasi ini tidak jarang akan kita temukan berbagai macam pelecehan kehormatan seorang muslim dengan mencelanya.

Selain itu, hampir di setiap gerakan massa, diwarnai dengan hadirnya kaum wanita di jalan-jalan. Hal ini jelas bertentangan dengan syariat islam, karena Allah subhanahu wata'ala melarang wanita untuk keluar dari rumahnya kecuali dengan alasan yang syar’i.

Hal ini pula akan menimbulkan ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita yang bukan mahramnya secara terang-terangan! Maka cukuplah sabda Nabi yang mulia shollallahu 'alaihi wasallam berikut ini bagi mereka. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda ,artinya : “Tinggalkanlah olehmu bercampur baur dengan kaum wanita!” (HR. Bukhari).

Tidak hanya itu, demonstrasi adalah produk barat yang tidak pantas bagi seorang muslim untuk memasang label ‘islami’ padanya. Mengapa? karena Islam tidak mengajarkan cara seperti ini. Atau bahkan meyakininya sebagai metode dakwah yang islami. Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda, artinya : “Barangsiapa meniru suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).

Wallahul Musta’an (Hanya Kepala Allah kita memohon pertolongan) ...

Wajibnya Taat Kepada Pemerintah

Allah subhanahu wata'ala berfirman, artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa : 59).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan : "Ulil Amri mencakupi dua golongan, yaitu ulama dan penguasa." (Majmu' Fatawa, 18/158).

Maka wajib menjadikan kepemimpinan sebagai agama dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena mendekatkan diri kepada Allah dengan ketaatan kepada pemimpin dalam ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya merupakan ibadah yang paling utama (Majmû’ Fatâwâ, XXVIII/390-391).

Perlu dipahami bahwa kewajiban untuk taat kepada penguasa atau pemimpin adalah dalam perkara yang ma’ruf dan tidak bertentangan dengan syariat Allah subhanahu wata'ala.

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda, artinya ; “Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila diperintah berbuat kemaksiatan. Apabila penguasa memerintahkan melakukan kemaksiatan maka tidak perlu didengar dan ditaati (kemaksiatan itu)”. (HR. Bukhari 13/121, Muslim 3/1469).

al-Hafizh Ibnu Hajar al-Atsqalani rahimahullah berkata :
"Hadits ini menunjukkan wajibnya taat kepada penguasa, hal itu berlaku dalam perkara yang bukan maksiat. Hikmahnya taat kepada penguasa adalah agar menjaga persatuan kalimat, karena yang dinamakan sebagai perpecahan adalah kehancuran."

Menghormati Pemerintah

Tidak boleh bagi seorang pun untuk melecehkan penguasa, mencelanya, mengumpatnya atau membuka aibnya.

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam melarang keras sikap merendahkan penguasa, beliau shollallahu 'alaihi wasallam bersabda, artinya ; “Para penguasa adalah naungan Allah di muka bumi. Barangsiapa yang memuliakan penguasa, Allah akan memuliakannya. Barangsiapa yang menghina penguasa, Allah akan menghinakan dia” (HR.Baihaqi 17/6. Lihat as-Sahihah 5/376).

Semoga Allah subhanahu wata'ala merahmati Sahl bin Abdullah at-Tustari rahimahullah yang telah berkata :
"Manusia akan sentiasa berada dalam kebaikan selama mereka menghormati penguasa dan para ulama. Apabila mereka mengagungkan dua golongan ini, Allah subhanahu wata'ala akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Apabila mereka merendahkannya, berarti mereka telah menghancurkan dunia dan akhirat mereka sendiri." (Tafsir al-Qurthubi, 5/260).

Menasehati Kemungkaran Pemerintah

Pemerintah adalah bagian dari kaum muslimin yang berhak dinasihati. Akan tetapi menasihati penguasa tidak sama seperti menasihati kaum muslimin selain mereka.
Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda, artinya : "Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, dishahih kan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Zhilalul Jannah, (no. 1096)).

Dari hadits di atas, telah jelas bahwa menasihati pemerintah tidak boleh dilakukan secara terang - terangan, baik melalui demonstrasi, berbicara di mimbar-mimbar terbuka, ataupun melalui media – media yang dapat disebarkan secara terbuka.

Semoga para penggiat demonstrasi, membaca risalah ini...

Bersabarlah Wahai Saudaraku ...

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda, artinya : “Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai (kemungkaran) yang ada pada pemimpin negaranya, maka hendaklah ia bersabar, karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah (pemerintah) kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbasradhiyallahu’anhuma).

Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata : “Jika tidak memungkinkan untuk menasihati penguasa (dengan cara yang syar’i), maka solusi akhirnya adalah sabar dan doa, karena dahulu mereka –yakni sahabat melarang dari mencaci penguasa”. Kemudian beliau menyebutkan sanad satu atsar dari Anas bin Malik radhiallohu 'anhu, beliau (Anas) berkata, “Dahulu para pembesar sahabat Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam melarang dari mencaci para penguasa.” [Lihat At-Tamhid, Al-Imam Ibnu Abdil Barr, (21/287)].

Jangan Sampai Memberontak

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda, artinya : “Sebaik-baik penguasa adalah yang kalian mencintainya dan mereka mencintai kalian. Kalian mendo`akannya dan mereka mendo'akan kalian. Seburuk-buruk penguasa adalah yang kalian membencinya dan mereka pun membenci kalian, kalian mencacinya dan mereka mencaci kalian." Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam ditanya : "Wahai Rasulullah tidakkah kita memberontak dengan pedang?" beliau shollallahu 'alaihi wasallam menjawab : "Jangan, selama mereka masih menegakkan sholat." Apabila kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari penguasa kalian, maka bencilah perbuatannya dan janganlah kalian mencabut ketaatan dari mereka. (HR.Muslim, 3/1481).

Sungguh sejarah telah mencatat kekejaman seorang yang bernama Hajjaj bin Yusuf as-Tsaqofi. Dia telah banyak membunuh jiwa, sehingga sahabat yang mulia Abdullah bin Zubair radhiallohu 'anhu terbunuh. Lantas bagaimana sikap para sahabat yang lain, apakah mereka menyusun kekuatan untuk memberontak?

Tidak, sama sekali, bahkan mereka tetap menganjurkan untuk mendengar dan taat.

Mari Doakan Mereka

Abu Utsman Said bin Ismail rahimahullah berkata : "Nasihatilah penguasa, perbanyaklah mendo'akan kebaikan bagi mereka dengan ucapan, perbuatan dan hukum. Karena apabila mereka baik, rakyat akan baik. Janganlah kalian mendo'akan keburukan dan laknat bagi penguasa, karena bila keburukan mereka akan bertambah dan bertambah pula musibah bagi kaum muslimin. Do'akanlah mereka agar bertaubat dan meninggalkan keburukan sehingga musibah hilang dari kaum muslimin." (Syu'abul Iman, 13/99).

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: "Andaikan aku mempunyai do'a yang mustajab niscaya akan aku panjatkan untuk penguasa." (Dikeluarkan oleh Abu Nuaim dalam al-Hilyah, 8/91).

Dikisahkan, ada seorang Khawarij yang datang menemui Ali bin Abi Thalib radhiallohu 'anhu lalu berkata : "Wahai khalifah Ali, mengapa pemerintahanmu banyak dikritik oleh orang, tidak sebagaimana pemerintahan Abu Bakar dan Umar?

Maka sahabat Ali radhiallohu 'anhu menjawab : "Karena pada zaman Abu Bakar dan Umar yang menjadi rakyat adalah aku dan orang-orang yang sepertiku, sedangkan rakyatku adalah kamu dan orang-orang yang sepertimu!" (Syarh Riyadhus Shalihin, 3/43, oleh Ibnu Utsaimin).

Wallahu a’lam.

Sumber : http://wahdahgowa-almunir.blogspot.co.id/2012/03/demonstrasi-bolehkah.html

Edisi Melawan Lupa | Demonstrasi Menyisakan Luka

11/04/2016 Add Comment
HUKUM DEMONSTRASI | KEMUNGKARAN DEMONSTRASI (UNJUK RASA) | MENENTANG PENGUASA MUSLIM

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam.

Demonstrasi –seperti yang terjadi di sebagian negara muslim- untuk menggulingkan pemerintah atau meminta pemerintah muslim untuk mengundurkan diri, adalah suatu perbuatan yang bukan berasal dari ajaran Islam, tapi cara tersebut diadopsi dari perilaku orang-orang kafir.

Berikut ini kami sebutkan beberapa hal yang merupakan keburukan demonstrasi:

1. Tidak menjalankan perintah Nabi untuk menasehati penguasa secara diam-diam
Bimbingan dari Nabi adalah memberikan nasehat kepada penguasa/pemimpin muslim secara langsung (4 mata) tanpa harus diketahui oleh orang lain.

Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَّةً وَلَكِنْ يَأْخُذ بِيَدِه فَيَخْلُوا بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ (رواه الحاكم و ابن أبي عاصم في السنة عن عياض بن غنم)
Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa, hendaknya janganlah menyampaikannya secara terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia ambil tangannya, kemudian menyendiri bersamanya (dan menyampaikan nasehatnya). Jika diterima, itulah (yang diharapkan), jika tidak, maka ia telah menyampaikan kewajibannya (H.R alHakim dan Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah dari Iyaadl bin Ghonam).

Semoga kita juga bisa mengambil pelajaran dari sikap Sahabat Usamah bin Zaid yang ditanya oleh sebagian orang: ‘Mengapa engkau tidak menasehati Utsman’? Usamah bin Zaid menyatakan bahwa apakah kalau ia menasehati Utsman, harus diketahui orang lain? Beliau telah menyampaikan nasehat secara langsung kepada Utsman. Perhatikan pula kefaqihan Usamah bin Zaid. Ia menyatakan: Aku tidak ingin menjadi pembuka pintu (fitnah) (hadits riwayat alBukhari dan Muslim). Usamah bin Zaid sangat paham bahwa menegur penguasa secara terang-terangan akan membuka pintu kejelekan dan fitnah. Karena itu beliau menasehati Utsman bin Affan secara diam-diam.

Perhatikan pula sikap Sahabat Nabi Abdullah bin Abi Aufa ketika didatangi oleh Said bin Jumhan dan membicarakan kedzhaliman penguasa, Abdullah bin Abi Aufa segera menegur dengan keras dengan menarik tangannya, sambil menyatakan:
وَيْحَكَ يَا ابْنَ جُمْهَانَ عَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ عَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ إِنْ كَانَ السُّلْطَانُ يَسْمَعُ مِنْكَ فَأْتِهِ فِي بَيْتِهِ فَأَخْبِرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فَإِنْ قَبِلَ مِنْكَ وَإِلَّا فَدَعْهُ فَإِنَّكَ لَسْتَ بِأَعْلَمَ مِنْهُ
Celaka engkau wahai putra Jumhan! Hendaknya engkau berpegang teguh dengan as-Sawaadul a’dzham (Nabi dan para Sahabatnya), Hendaknya engkau berpegang teguh dengan as-Sawaadul a’dzham, Hendaknya engkau berpegang teguh dengan as-Sawaadul a’dzham. Jika sultan (penguasa) mau mendengar darimu, datangilah ke rumahnya dan khabarkan tentang apa yang engkau ketahui. Jika diterima, itulah (yang diharapkan), jika tidak, maka sesungguhnya engkau tidaklah lebih tahu dibandingkan dia (riwayat Ahmad).

Salah satu pelajaran penting dari Sahabat yang mulya ini –selain adab menasehati penguasa- adalah janganlah rakyat merasa ia lebih tahu dibandingkan penguasanya. Seringkali orang merasa bahwa apa yang dilakukan pemimpin salah. Kebijakannya menyimpang. Padahal ia hanya menilai dari sudut pandang yang terbatas, sudut pandang rakyat. Seringkali pemimpin lebih tahu karena sudut pandangnya lebih luas (karena wilayah kekuasaannya lebih luas), info yang didapatkan lebih lengkap.

Bahkan, sikap menasehati penguasa secara diam-diam (tidak terang-terangan) itu adalah hak penguasa yang semestinya ditunaikan oleh rakyat. Diriwayatkan bahwa Sahabat Nabi Umar bin al-Khoththob radliyallaahu ‘anhu pernah berkhutbah:
أَيَّتُهَا الرَّعِيَّة إِنَّ لَنَا عَلَيْكُمْ حَقًّا النَّصِيْحَةُ باِلْغَيْبِ وَالْمُعَاوَنَةُ عَلَى الْخَيْرِ
Wahai sekalian rakyat, sesungguhnya kami memiliki hak terhadap kalian: nasehat bilghoib (tanpa diketahui orang lain), dan menolong dalam kebaikan… (diriwayatkan oleh al-Hannad dalam az-Zuhud dan atThobary dalam Tarikhnya, dua jalur periwayatan ini saling menguatkan).

Said bin Jubair pernah bertanya tentang tata cara amar ma’ruf dan nahi munkar terhadap penguasa kepada Sahabat Nabi Ibnu Abbas radliyallaahu ‘anhu. Ibnu Abbas menyatakan:
إِنْ خِفْت أَنْ يَقْتُلَك فَلاَ تُؤَنِّبَ الإِمَامَ ، فَإِنْ كُنْتَ لاَ بُدَّ فَاعِلاً فَفِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ (مصنف ابن أبي شيبة)
Jika engkau khawatir penguasa akan membunuhmu, janganlah engkau mencela penguasa. Jika engkau harus melakukannya (memberikan nasehat) maka hendaknya dilakukan antara dirimu dan dirinya saja (4 mata)(riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya).

Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu pernah memberikan arahan:
إِذَا أَتَيْتَ الأَمِيرَ الْمُؤَمِنُ فَلاَ تؤتيه أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ(مصنف ابن أبي شيبة)
Jika engkau mendatangi pemimpin mukmin, janganlah bersama seorangpun dari manusia (yang lain) (riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya).

Sahabat Nabi Abu Bakrah radliyallaahu ‘anhu juga pernah mengingkari dan menegur dengan keras sikap Abu Bilal yang mencela terang-terangan pemimpin Abdullah bin Amir. Abu Bakrah menganggap sikap Abu Bilal itu adalah penghinaan terhadap sulthan, dan dikhawatirkan akan mendapatkan adzab kehinaan dari Allah (sebagaimana diriwayatkan oleh atTirmidzi dalam Sunannya).

2. Mencela Penguasa
Demonstrasi akan mengarahkan orang untuk mencela penguasa. Padahal orang yang beriman dilarang untuk mencela penguasa mereka. Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لاَ تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ وَ لاَ تغشُّوْهُم وَ لاَ تَعْصُوهُمْ وَ اتَّقُوا اللهَ وَ اصْبِرُوا فَإِنَّ الأَمْرَ قَرِيْبٌ ( رواه ابن أبي عاصم في السنة و البيهقي في شعب الإيمان وقال الألباني في ظلال الجنة إسناده جيد)
Jangan kalian cela pemimpin (umara’) kalian, jangan menipu mereka, jangan bermaksiat kepada mereka (dalam hal yang ma’ruf), dan bertaqwalah kepada Allah serta bersabarlah karena al-amr (urusan ini) telah dekat (H.R Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah dan dinyatakan oleh Syaikh al-Albany bahwa sanadnya jayyid (baik)).

Sahabat Nabi Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu menyatakan:
الأكابر من أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم ينهونا عن سب الأمراء
Pembesar-pembesar dari kalangan Sahabat Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam melarang dari mencela umara’ (pemimpin) (diriwayatkan oleh Abu Amr ad-Daany dalam as-Sunan al-Waridah fil Fitan).

Ubadah bin Nusaiy (salah seorang tabi’in yang mulya, murid dari Sahabat Nabi Abu Sa’id al-Khudry) menyatakan:
أَوَّلُ النِّفَاقِ الطَّعْنُ فِي اْلأَئِمَّة (تهذيب الكمال)
Awal kemunafikan adalah mencela para pemimpin (Tahdzibul Kamal (14/197) karya alImam al-Mizzi)

Mencela dan menjelek-jelekkan pemimpin muslim adalah sesuatu hal yang bertentangan dengan bimbingan al-Qur’an. Nabi Musa dan Nabi Harun diperintahkan untuk berdakwah kepada Fir’aun dengan ucapan yang lembut.
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
Maka ucapkanlah kepadanya ucapan yang lembut agar ia menjadi ingat atau takut (Q.S Thaha:44).

Kepada Fir’aun yang demikian kafir, Allah perintahkan kepada Nabi Musa dan Harun untuk menyampaikan dakwah dengan kata-kata yang halus dan bukan kata-kata kasar, hardikan, atau celaan, apalagi terhadap pemimpin yang masih muslim.

3. Bisa menyebabkan seseorang Mencabut Ketaatan terhadap Pemerintah Muslim
Demonstrasi yang dilakukan bisa meruntuhkan wibawa pemerintah di hadapan rakyat, karena kejelekan-kejelekannya dibeberkan. Hal tersebut pada akhirnya bisa menggiring pelaku demonstrasi tersebut atau orang lain yang terpengaruh dengannya untuk tidak mau taat lagi pada pemerintahnya meski dalam hal-hal yang ma’ruf.

Semestinya jika pemimpin memerintahkan kepada kemaksiatan, maka janganlah taat kepada kemaksiatan itu saja, namun tetap taat dalam hal-hal lain yang ma’ruf yang tidak mengandung kemaksiatan. Rasulullah shollalaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ (رواه مسلم)
Dan jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci ada pada pemimpin kalian, bencilah perbuatannya, tapi jangan cabut ketaatan (darinya)(H.R Muslim).

4. Tasyabbuh (Meniru tata cara orang Kafir)
Perbuatan demonstrasi tersebut adalah tasyabbuh dengan orang-orang kafir, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh al-Albany. Hendaknya seorang muslim khawatir dengan perilaku-perilaku yang meniru-niru akhlaq dan tata cara orang-orang kafir yang justru menimbulkan mudharat (kerusakan) yang lebih banyak. Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka mereka termasuk kaum tersebut (H.R Abu Dawud)

5. Mengajak Orang untuk Tidak Bersabar
Seorang muslim dibimbing oleh Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam untuk sabar dalam menghadapi kedzhaliman penguasa. Disebutkan dalam sebagian hadits:
مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَكَرِهَهُ فَلْيَصْبِرْ (متفق عليه)
Barangsiapa yang melihat pada pemimpinnya terdapat suatu hal yang ia benci, maka bersabarlah (Muttafaqun ‘alaih).

Diriwayatkan bahwa Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu pernah menyatakan:
إن الإمام يفسد قليلا ويصلح الله به كثيرا وما يصلح به أكثر مما يفسد فما عمل فيكم من طاعة الله فله الأجر وعليكم الشكر وما عمل فيكم من معصية الله فعليه الوزر وعليكم الصبر
Sesungguhnya pemimpin membuat kerusakan sedikit dan Allah memperbaiki dengannya hal yang banyak. Perbaikannya lebih banyak dari kerusakannya. Jika pemimpin di tengah-tengah kalian mengamalkan ketaatan kepada Allah, maka baginya pahala dan hendaknya kalian bersyukur, jika ia melakukan kemaksiatan, maka baginya dosa dan hendaknya engkau besabar (diriwayatkan oleh Abu ‘Amr ad-Daany dalam as-Sunan alWaridah fil fitan)

Ketika Yazid bin Mu’awiyah dibaiat sebagai pemimpin, sampailah kabar itu kepada Sahabat Nabi Ibnu Umar radliyallaahu ‘anhu, beliau berkata:
إنْ كَانَ خَيْرًا رَضِينَا ، وَإِنْ كَانَ شَرًّا صَبَرْنَا
Jika memang baik (kepemimpinannya) kami akan ridla, jika buruk, kami akan sabar (riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya).

Sedangkan demonstrasi adalah perwujudan ketidaksabaran dalam menghadapi hal tersebut.

Bukan berarti tidak perlu adanya nasehat kepada penguasa muslim, namun hendaknya nasehat itu diberikan dengan adab-adab yang telah dibimbingkan oleh Rasulullah Shollallaahu ‘alahi wasallam dan para Sahabatnya (sebagaimana disebutkan dalam poin pertama di atas), jika tidak memungkinkan sampainya nasehat tersebut, maka hendaknya bersabar dan berdoa.

Al-Imam Ibnu Abdil Bar menyatakan:
إن لَم يكن يتمكن نصحُ السلطان، فالصبر والدعاء، فإنَّهم كانوا ـ أي الصحابة ـ ينهون عن سبِّ الأمراء
Jika tidak memungkinkan memberikan nasehat kepada penguasa, maka hendaknya ia bersabar dan berdoa, karena sesungguhnya mereka –para Sahabat Nabi- melarang dari mencela para pemimpin (at-Tamhiid juz 21 hal 287).

Memang, seharusnya para rakyat harus bersabar, karena keadaan pemimpin adalah merupakan perwujudan keadaan rakyatnya. Jika rakyat baik, Allah akan memberikan pemimpin yang baik, jika tidak maka Allah akan beri pemimpin yang sebaliknya.

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Dan demikianlah Kami menjadikan sebagian orang yang dzhalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan perbuatan mereka (Q.S al-An’am:129).

Sahabat Nabi Ka’ab al-Ahbar radliyallaahu ‘anhu pernah menyatakan:
إِنَّ لِكُلِّ زَمَانٍ مَلِكًا يَبْعَثُهُ اللهُ عَلَى نَحْوِ قُلُوْبِ أَهْلِهِ فَإِذَا أَرَادَ صَلاَحَهُمْ بَعَثَ عَلَيْهِمْ مُصْلِحًا وَ إِذَا أَرَادَ هَلَكَتَهُمْ بَعَثَ فِيْهِمْ مُتْرَفِيْهِمْ
Sesungguhnya pada setiap zaman terdapat penguasa (raja) yang Allah bangkitkan sesuai keadaan hati rakyatnya. Jika Allah menginginkan kebaikan bagi mereka, Allah bangkitkan orang yang melakukan perbaikan, jika Allah menginginkan kebinasaan mereka, Allah bangkitkan di dalam mereka orang-orang yang banyak bermewah-mewahan di antara mereka (riwayat alBaihaqy dalam Syu’abul Iman).

6. Meninggalkan Sikap Mendoakan Kebaikan pada Penguasa
Demonstrasi akan menyulut kebencian terhadap penguasa, kebencian itu akan menyebabkan seseorang justru tidak mendoakan kebaikan bagi penguasa. Kalaupun ia mendoakan, justru ia akan mendoakan keburukan (laknat) bagi penguasa. Akibatnya, justru keadaan penguasa tersebut akan semakin buruk.
وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ
Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, mereka melaknat kalian dan kalianpun melaknat mereka (H.R Muslim).

dalam riwayat lain dinyatakan:
وَإِنَّ شِرَارَ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ ، وَيُبْغِضُونَكُمْ ، وَتَدْعُونَ عَلَيْهِمْ وَيَدْعُونَ عَلَيْكُمْ
Dan sesungguhnya seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci kepadanya dan iapun benci kepada kalian, dan kalian mendoakan (keburukan) untuk mereka, dan mereka pun mendoakan (keburukan) untuk kalian (H.R alBazzar)

Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam membimbing kita untuk berdoa memohon hak kita kepada Allah, bukan mendoakan keburukan untuk penguasa:
إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَأْمُرُ مَنْ أَدْرَكَ مِنَّا ذَلِكَ قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ
Sesungguhnya akan terjadi sepeninggalku pemimpin-pemimpin yang mementingkan diri sendiri dan perkara-perkara yang kalian ingkari. Para Sahabat bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepada kami jika menemui hal itu? Rasul bersabda: tunaikan kewajiban kalian dan mintalah hak kalian kepada Allah (berdoa)(Muttafaqun ‘alaih).

Mendoakan kebaikan untuk penguasa adalah salah satu syi’ar Ahlussunnah, sebaliknya para pengikut hawa nafsu akan cenderung mendoakan keburukan untuk penguasa.

Al-Imam al-Barbahary-rahimahullah- menyatakan:
إذا رأيت الرجلَ يدعو على السلطان فاعلم أنَّه صاحبُ هوى، وإذا سمعتَ الرجلَ يدعو للسلطان بالصلاح فاعلم أنَّه صاحبُ سنَّة إن شاء الله تعالى
Jika engkau melihat seorang laki-laki mendoakan keburukan untuk penguasa, ketahuilah bahwa ia adalah pengikut hawa (nafsu), dan jika engkau mendengar laki-laki mendoakan kebaikan untuk penguasa, ketahuilah bahwa ia adalah Ahlussunnah –insyaAllah- (Syarhus Sunnah).

7. Menyebabkan Pemimpin Lebih Sulit Menerima Kebenaran
Penyampaian nasehat dengan cara yang beradab akan lebih mudah untuk diterima, dibandingkan dengan cara demonstrasi yang kerap kali diiringi dengan celaan dan membeber kesalahan-kesalahan di muka umum.

Umar bin al-Khottob saja sempat marah ketika ditegur langsung dan dianggap tidak adil di hadapan orang lain, tapi untungnya kemudian beliau diingatkan dengan ayat AlQur’an. Umar adalah termasuk seorang yang terdepan mampu menghentikan gejolak hatinya ketika diingatkan dengan Al-Qur’an
عَنِ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَدِمَ عُيَيْنَةُ بْنُ حِصْنِ بْنِ حُذَيْفَةَ فَنَزَلَ عَلَى ابْنِ أَخِيهِ الْحُرِّ بْنِ قَيْسٍ وَكَانَ مِنْ النَّفَرِ الَّذِينَ يُدْنِيهِمْ عُمَرُ وَكَانَ الْقُرَّاءُ أَصْحَابَ مَجَالِسِ عُمَرَ وَمُشَاوَرَتِهِ كُهُولًا كَانُوا أَوْ شُبَّانًا فَقَالَ عُيَيْنَةُ لِابْنِ أَخِيهِ يَا ابْنَ أَخِي هَلْ لَكَ وَجْهٌ عِنْدَ هَذَا الْأَمِيرِ فَاسْتَأْذِنْ لِي عَلَيْهِ قَالَ سَأَسْتَأْذِنُ لَكَ عَلَيْهِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَاسْتَأْذَنَ الْحُرُّ لِعُيَيْنَةَ فَأَذِنَ لَهُ عُمَرُ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ قَالَ هِيْ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ فَوَاللَّهِ مَا تُعْطِينَا الْجَزْلَ وَلَا تَحْكُمُ بَيْنَنَا بِالْعَدْلِ فَغَضِبَ عُمَرُ حَتَّى هَمَّ أَنْ يُوقِعَ بِهِ فَقَالَ لَهُ الْحُرُّ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { خُذْ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنْ الْجَاهِلِينَ } وَإِنَّ هَذَا مِنْ الْجَاهِلِينَ وَاللَّهِ مَا جَاوَزَهَا عُمَرُ حِينَ تَلَاهَا عَلَيْهِ وَكَانَ وَقَّافًا عِنْدَ كِتَابِ اللَّه (رواه البخاري)

Dari Ibnu Abbas –radliyallahu ‘anhuma- beliau berkata: Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah datang kepada anak saudaranya (keponakannya) al-Hurr bin Qois. Al-Hurr adalah seorang yang didekatkan Umar (pada majelisnya), al-Hurr adalah al-Qurra’ (seorang yang mahir membaca alQuran) dan orang yang sering diajak muswayarah dalam majelis Umar. (Umar memang sering mengajak musyawarah para ahli ilmu baik orang dewasa maupun para pemuda). Uyainah berkata kepada anak saudaranya: Bukankah engkau memiliki kedudukan di sisi pemimpin ini. Mintakan aku ijin kepadanya. (Al-Hurr) berkata: Aku akan memintakan ijin untukmu. Kemudian Umar mengijinkan.. Ketika Uyainah masuk menuju Umar ia berkata: Wahai putra al-Khottob, demi Allah engkau tidaklah memberikan kepada kami pemberian yang banyak, dan engkau tidak menetapkan hukum terhadap kami dengan adil. Maka Umar marah, sampai-sampai ia hampir saja hendak ( memukulnya). Kemudian alHurr berkata: Wahai Amirul Mu’minin sesungguhnya Allah Ta’ala telah berkata kepada NabiNya shollallaahu ‘alaihi wasallam:
{ خُذْ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنْ الْجَاهِلِينَ }
Ambillah (sifat) memaafkan, dan perintahkan kepada hal yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh

Sedangkan orang ini (Uyainah) adalah orang yang bodoh. (Ibnu Abbas berkata): Demi Allah, Umar tidaklah melampaui (sikapnya untuk hendak memberikan hukuman) ketika al-Hurr membaca ayat tersebut. Dan ia (Umar) adalah seorang yang paling bisa berhenti ketika (dibacakan) Kitabullah (H.R alBukhari).

Perhatikanlah, Umar bin al-Khottob saja bisa marah jika dicela di hadapan orang lain tidak dengan cara yang beradab. Beliau tidak marah jika diingatkan dengan ayat Allah dengan cara yang santun dan beradab.

Tentang kisah seorang wanita yang menegur Umar karena membatasi jumlah mahar, sebagian Ulama’ melemahkan riwayat tersebut, di antaranya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany dalam Irwaa’ul Gholil. Kalaupun riwayat itu sah (menurut pendapat Ibnu Katsir) wanita tersebut menjaga adab-adab dalam menyampaikan nasehat. Ia tidak langsung mengatakan bahwa Umar telah salah, tapi ia lebih dulu mengatakan:
يا أمير المؤمنين كتاب الله أحق أن يتبع أو قولك
Wahai Amirul Mukminin, apakah yang lebih berhak diikuti adalah Kitabullah atau ucapanmu?

(Perhatikan, ia memanggil dengan sebutan: Amirul Mukminin (pemimpin kaum mukminin), dan memberikan muqoddimah terlebih dahulu, tanpa langsung menyalahkan Umar).

Umar menyatakan:
بل كتاب الله بم ذاك
Justru Kitabullah (yang harus diutamakan), ada apa?

Wanita itu menyatakan:
إنك نهيت الناس آنفا أن يغالوا في صدق النساء ، والله عز وجل يقول في كتابه : وآتيتم إحداهن قنطارا ، فلا تأخذوا منه شيئا
Sesungguhnya anda baru saja melarang manusia untuk berlebihan dalam membayar mahar wanita, sedangkan Allah Azza Wa Jalla berfirman dalam KitabNya:
وَآَتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا
…Sedangkan engkau memberikan kepada salah seorang dari mereka harta yang banyak, janganlah mengambil darinya sedikitpun…(Q.S anNisaa’: 20).

Umar kemudian menyatakan:
كل أحد أفقه من عمر
Setiap orang lebih berilmu dari Umar (riwayat alBaihaqy dalam as-Sunanul Kubro dan at-Thohawy dalam Musykilul Atsar).

8. Lebih Menyerupai Akhlaq Orang-orang Fajir
Seorang mukmin ketika menyampaikan nasehat, ia ikhlas menyampaikannya untuk kebaikan saudaranya. Salah satu bentuk keikhlasan itu ditunjukkan dengan cara nasehat disampaikan secara diam-diam, langsung kepada pihak yang dituju, dengan penyampaian yang baik. Sedangkan demonstrasi lebih jauh dari sifat ikhlas karena menjadi ajang menyebutkan aib-aib dan kejelekan pihak yang didemo.

Al-Fudhail bin Iyyadl menyatakan:
المؤمن يستر وينصح والفاجر يهتك ويعير
Seorang mukmin menyembunyikan (aib) dan menasehati, sedangkan seorang fajir merusak (kehormatan) dan membeberkan aib-aib (Lihat Jaamiul Ulum wal Hikam karya Ibnu Rojab).

Al-Imam Asy-Syafi’i menyatakan:
من وعظ أخاه سراً فقد نصحه وزانه ، ومن وعظه علانية فقد فضحه وخانه
Barangsiapa yang memberikan nasehat kepada saudaranya secara sembunyi-sembunyi, maka sesungguhnya ia telah bersikap nasihat dan memperindahnya, dan barangsiapa yang memberikan nasehat kepada saudaranya secara terang-terangan maka ia telah mengumbar aibnya dan berkhianat terhadap saudaranya (riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatul Awliya’).

9. Bisa Mendatangkan Kehinaan
عَنْ زِيَادِ بْنِ كُسَيْبٍ الْعَدَوِيِّ قَالَ كُنْتُ مَعَ أَبِي بَكْرَةَ تَحْتَ مِنْبَرِ ابْنِ عَامِرٍ وَهُوَ يَخْطُبُ وَعَلَيْهِ ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَقَالَ أَبُو بِلَالٍ انْظُرُوا إِلَى أَمِيرِنَا يَلْبَسُ ثِيَابَ الْفُسَّاقِ فَقَالَ أَبُو بَكْرَةَ اسْكُتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللَّهُ

Dari Ziyad bin Kusaib al-Adawiy beliau berkata: Aku pernah bersama Abu Bakrah (Sahabat Nabi) di bawah mimbar (penguasa) Ibnu Amir yang sedang berkhutbah dan menggunakan pakaian tipis. Kemudian Abu Bilal berkata: Lihatlah kepada pemimpin kita yang memakai pakaian orang-orang fasiq. Abu Bakrah berkata: Diamlah! Aku mendengar Rasulullah bersabda: Barangsiapa yang menghinakan Sulthan Allah di muka bumi, Allah akan menghinakannya (H.R atTirmidzi, dihasankan oleh Syaikh al-Albany dalam Shahihul Jami’).

Perhatikanlah, Sahabat Nabi Abu Bakrah menganggap orang yang menyebutkan aib penguasa di hadapan orang lain sebagai orang yang menghinakan sultan, dan dikhawatirkan Allah akan menghinakan dia.

10. Menyebabkan Pertumpahan Darah
Tidak jarang demonstrasi menentang penguasa menyebabkan adanya korban tewas di kalangan kaum muslimin. Perhatikanlah kejadian di Mesir (lebih dari 270 orang tewas), Libya (lebih dari 200 orang tewas). Semuanya adalah akibat demonstrasi.

Padahal, satu saja jiwa muslim sangat berharga dan harus dijaga. Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ
Sungguh-sungguh hilangnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya satu orang muslim (H.R atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh al-Albany).

Sahabat Nabi Ibnu Umar pernah memandang Ka’bah sambil berkata:
مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ وَالْمُؤْمِنُ أَعْظَمُ حُرْمَةً عِنْدَ اللَّهِ مِنْكِ
Sungguh agungnya engkau, dan sungguh agung kehormatanmu, dan seorang mukmin lebih agung kehormatannya di sisi Allah dibandingkan engkau (riwayat atTirmidzi).

Seorang mukmin sangat terhormat darah, harta, dan a’radhnya (karakter atau jati dirinya) sebagaimana disebutkan oleh Nabi ketika Haji Wada’.

11. Mengakibatkan Konflik Antar Kelompok
Kalaulah demonstrasi tidak menyebabkan pertumpahan darah, seringkali memicu bentrokan antar kelompok. Baik antar kelompok yang anti dengan kelompok yang pro, atau antar demonstran dengan aparat keamanan. Padahal, tidak jarang masing-masing kelompok itu adalah sama-sama muslim.

Bentrokan itu acap kali berupa pelemparan batu, pukulan, saling dorong, tembakan peluru hampa, atau semisalnya yang seringkali menyebabkan adanya pihak-pihak yang terluka, cacat, atau juga kerusakan pada kendaraan dan fasilitas umum.

12. Membuang-buang Waktu, Biaya, dan Tenaga
Jika sudah jelas bahwa demonstrasi bukan bagian dari petunjuk Nabi dan para Sahabatnya, maka perbuatan tersebut adalah sia-sia. Hanya membuang-buang waktu, biaya, dan tenaga. Betapa banyak orang yang tersibukkan dengan demonstrasi menyebabkan ia meninggalkan pekerjaan yang lebih bermanfaat, baik di rumah atau tempat kerjanya.

13. Keluarnya Wanita dari Rumah sehingga Menimbulkan Fitnah
Tidak jarang demonstrasi (unjuk rasa) di muka umum juga dilakukan para wanita. Hal ini merupakan salah satu bentuk kemunkaran dari perbuatan tersebut.

Secara asal, seorang wanita dituntunkan berada di dalam rumahnya. Tidaklah ia keluar kecuali karena ada kepentingan yang mendesak. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
Dan tinggallah kalian (wahai wanita) di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias sebagaimana berhiasnya kaum jahiliyah terdahulu (Q.S al-Ahzab:33).

Demikianlah, beberapa kemunkaran demonstrasi. Banyaknya kemunkaran tersebut tidaklah hanya terbatas pada hal-hal yang kami sebutkan ini saja. Hanya Allah Subhaanahu Wa ta’ala yang Maha Tahu atas keburukan-keburukan dan mafsadah di dalamnya.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memperbaiki keadaan kaum muslimin dan pemimpin-pemimpin mereka…

WI | Demonstrasi Perbuatan Bid'ah dalam Menasehati Penguasa

Sumber : http://wahdahluwuutara.blogspot.co.id/2011/02/hukum-demontrasi.html

Do'akan Kebaikan bagi Mereka Meski Tak Se-Aqidah

10/31/2016 Add Comment
السؤال
Pertanyaan

- هل يجوز للمسلم أن يدعو الله لصديقه الكافر وماذا يستثنى من الدعاء مثلا كالهداية أو أن صديقه مريض أن يدعو له الشفاء أو امرأة حامل أن يخفف لها الولادة أو مثل ذلك؟ وبارك الله فيكم.
Apakah boleh bagi seorang muslim untuk berdo'a kepada Allah bagi temannya yang kafir, dan apa saja yang dikecualikan dari do'a tersebut, misalnya seperti agar dia mendapatkan hidayah, atau temannya lagi sakit, dia doakan kesembuhan untuknya atau wanita hamil, dia doakan agar diringankan persalinannya, atau yang semisal itu? semoga Allah memberikan berkah kepada kalian.

الإجابــة
Jawaban

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:

فإنه لا يجوز الدعاء للكافر بالمغفرة أو الرحمة ونحوهما من ثواب الآخرة.
Sesungguhnya tidak diperbolehkan mendo'akan orang kafir agar mendapatkan ampunan atau rahmat dan yang semisal keduanya berupa balasan pahala di akhirat.

قال النووي في المجموع: وأما الصلاة على الكافر، والدعاء له بالمغفرة فحرام بنص القرآن والإجماع.
Al Imam An Nawawi berkata dalam al Majmu': Adapun menyolati orang kafir dan mendo'akannya agar mendapatkan ampunan maka ini haram berdasarkan nash al Qur'an dan ijma'.

أما الدعاء له بالهداية، والدخول في الإسلام فيجوز.
Adapun mendo'akannya agar mendapatkan hidayah dan masuk islam, maka itu boleh.

وأما الدعاء له بمنافع الدنيا من مال وولد وشفاء ونحوها فلا يجوز إن كان محارباً، وإلا فلا بأس بالدعاء له بذلك، بدليل جواز تعزيته في مصابه حيث كان جاراً بالدعاء له بالإخلاف عليه، ونحو ذلك.
Dan adapun mendo'akannya agar mendapatkan berbagai manfaat di dunia, berupa harta, anak, kesembuhan dan yang semisalnya, maka tidak boleh jika dia kafir harbi, namun jika bukan kafir harbi, maka tidak mengapa mendo'akannya seperti itu. Dengan dalil bolehnya memberikan takziyah pada musibah yang menimpanya, dimana pada saat takziyah ada do'a baginya agar diberikan ganti yang lebih baik, dan yang semisal itu.

والله أعلم.


Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=14165

Apa Dalil Menyedekapkan Tangan Jenazah Layaknya Orang Sholat?

10/22/2016 Add Comment
Apa Dalil Menyedekapkan Tangan Jenazah Layaknya Orang Sholat?
كيفية وضع يدي الميت بعد موته
Tata Cara Meletakkan Kedua Tangan Mayat Setelah Meninggal
السؤال
Pertanyaan
ما الصحيح في كيفية وضع يد الميت، فإننا في مجتمعنا نضع يد الميت اليمنى على اليسرى على صدره، وقد قال بعض الناس: إن ذلك بدعة، فهل هذا صحيح؟
Mana yang benar dalam tata cara meletakkan tangan mayat, karena sesungguhnya di masyarakat kami, kami meletakkan tangan kanan mayat diatas tangan kiri di dadanya, dan sungguh sebagian orang mengatakan sesungguhnya hal tersebut adalah bid'ah, apakah ini benar?
الجواب
Jawaban
لا نعلم شيئاً يدل على أن يديه توضع على صدره، وإنما تكون على وضعهما الطبيعي، فتوضع بجنبيه ممتدتين، وكل واحدة لاصقة بجنبه.
Kami tidak mengetahui sedikitpun dalil yang menunjukkan bahwasanya kedua tangan mayat diletakkan di atas dadanya, hanya sanya kedua tangannya diletakkan sebagaimana asalnya, maka diletakkan memanjang di kedua pinggangnya dan masing-masing tangan menempel disisi badannya.

Sumber :
الكتاب: شرح سنن أبي داود
Kitab: Syarah sunan Abi Daud
المؤلف: عبد المحسن بن حمد بن عبد المحسن بن عبد الله بن حمد العباد البدر
Penyusun: Abdul Muhsin bin Hamad bin Abdul Muhsin bin Abdullah bin Hamad al Abbad al Badr



قلت لإسحاق: إذا وضع الميت في اللحد. كيف يصنع بيده؟
Saya bertanya kepada Ishaq: Apabila mayat diletakkan di dalam liang lahat, bagaimana posisi tangannya?
قال: تحت جنبه.
Beliau menjawab: dibawah pinggangnya.

Sumber :
عنوان الكتاب: مسائل الإمام أحمد بن حنبل وإسحاق بن راهويه
Judul Kitab: Masa'il Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahawaih
المؤلف: إسحاق بن منصور بن بهرام، أبو يعقوب المروزي، المعروف بالكوسج (المتوفى: 251هـ)
Penyusun: Ishaq bin Manshur bin Bahram, Abu Ya'qub al marwazi, yang dikenal dengan al Kausaj. (Wafat 251H)



كَيْفِيَّةُ وَضْعِ يَدَيِ الْمَيِّتِ
Tata Cara Meletakkan Kedua Tangan Mayat
نَصَّ الْحَنَفِيَّةُ عَلَى أَنَّهُ إِذَا مَاتَ الْمُسْلِمُ تُوضَعُ يَدُهُ الْيُمْنَى فِي الْجَانِبِ الأَْيْمَنِ وَالْيُسْرَى فِي الْجَانِبِ الأَْيْسَرِ، وَلاَ يَجُوزُ وَضْعُ الْيَدَيْنِ عَلَى صَدْرِ الْمَيِّتِ؛ لأَِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال:

Al hanafiyah menegaskan bahwa apabila seorang muslim meninggal maka tangan kanannya diletakkan disisi kanan badannya dan tangan kirinya disisi kiri, dan tidak diperbolehkan meletakkan kedua tangan di dada mayat, karena Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda :
اجْعَلُوا أَمْوَاتَكُمْ بِخِلاَفِ الْكَافِرِينَ، فَإِنَّهُمْ يَضَعُونَ يَدَ الْمَيِّتِ عَلَى صَدْرِهِ
Jadikanlah orang-orang yang wafat diantara kalian berbeda dengan orang-orang kafir, sesungguhnya mereka meletakkan tangan mayat di atas dadanya.[1]
وَأَجَازَ الشَّافِعِيَّةُ جَعْل يَدَيِ الْمَيِّتِ عَلَى صَدْرِهِ؛ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى، أَوْ إِرْسَالَهُمَا فِي جَنْبَيِ الْمَيِّتِ. قَال الشِّرْبِينِيُّ الْخَطِيبُ:
Sementara Asy Syafi'iyah membolehkan meletakkan tangan mayat di atas dada; yang kanan di atas yang kiri, atau menjulurkannya di sisi badan mayat. Asy Syirbini al Khatib mengatakan:
فَكُلٌّ مِنْ ذَلِكَ حَسَنٌ مُحَصِّلٌ لِلْفَرْضِ
Masing-masing dari pendapat itu baik yang bisa memenuhi kewajiban.[2]

[1] Hadits "Jadikanlah orang-orang yang wafat diantara kalian berbeda dengan orang-orang kafir" terdapat dalam kitab Durar al Hukkam (1/160) dan penulis tidak menyebutkan rujukan ke kitab sumber hadits satupun, kita tidak mendapat petunjuk kepada siapa dia sandarkan sanad hadits ini.
[2] Durar al hukkam 1/160, Mughni al Muhtaj 1/339

Sumber:
الكتاب: الموسوعة الفقهية الكويتية
Kitab: Ensiklopedi Fiqh al Kuwatiyah
صادر عن: وزارة الأوقاف والشئون الإسلامية - الكويت
Rujukan: Kementerian Waqaf dan Urusan Islam - Kuwait



وضع يدي الميت عند تكفينه على صدره أو عن جانبيه
Meletakkan Kedua Tangan Mayat di atas Dada atau di Samping Badannya
س: ذكر ابن عبد الهادي في كتابه: (مغني ذوي الأفهام) أن الميت عند التكفين توضع يداه على صدره، وقد بحثت المسألة في أكثر من عشرين كتابا من كتب أهل العلم، ولم أجد لها ذكرا، ولا حتى إشارة، بل في كتب غير الحنابلة لم أجد شيئا، لذا آمل تكرمكم بتوضيح صحة هذا القول، وهل عليه إثبات من الأدلة الشرعية المعتبرة، أو أنه اجتهاد من ابن عبد الهادي رحمه الله؟ أسأل الله أن يحفظكم ويمتعكم بالصحة والعافية على طاعته والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
S: Ibnu Abdil Hadi menyebutkan dalam kitabnya: (Mughni dzawil afham) bahwasanya mayat ketika dikafani, kedua tangannya diletakkan di atas dada, dan sungguh saya telah mencari masalah ini di dalam lebih dari 20 kitab dari kitab-kitab para ulama, namun tidak menemukan penyebutan masalah ini, dan tidak juga ada dalam bentuk isyarat. Bahkan di dalam kita-kitab selain al Hanabilah, saya tidak temukan sedikitpun, oleh karena itu saya harap kemurahan hati kalian untuk menjelaskan benarnya pendapat ini, apakah ada penetapannya berupa dalil-dalil syar'i yang bisa dijadikan sandaran, atau itu adalah ijtihad dari Ibnu Abdil Hadi -rahimahullah-? saya memohon kepada Allah agar menjaga kalian dan memberikan kepada kalian kenikmatan agar tetap sehat wal afiat di atas ketaatan kepada-Nya. Wassalamu 'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
ج: لا بأس بوضع يدي الميت عند تكفينه على صدره أو عن جانبيه، فالأمر في هذا واسع والحمد لله.
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
J: Tidak mengapa meletakkan kedua tangan mayat di atas dadanya ketika dikafani atau di sisi badannya, permasalahan ini luas, walhamdulillah segala puji hanya milik Allah.
Wabillahit Taufiq, semoga sholawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada seluruh keluarganya dan para shahabatnya.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
Komite Tetap Pembahasan Ilmiyah dan Fatwa
عضو
عضو
عضو
الرئيس
AnggotaAnggotaAnggotaKetua
بكر أبو زيد
صالح الفوزان
عبد الله بن غديان
عبد العزيز بن عبد الله آل الشيخ
Bakr Abu ZaidSholeh al FauzanAbdullah bin GudayyanAbdul Aziz bin Abdillah Alu Asy Syaikh



لا يشرع وضع اليد اليمنى للميت على اليسرى عند تكفينه
Tidak disyariatkan meletakkan tangan kanan mayat diatas tangan kirinya ketika dikafani
[السُّؤَالُ]
[Pertanyaan]
ـ[بعد غسل الميت، بعض المغسلين إذا كفن الميت يضم يده اليمنى على اليسرى كالمصلي، هل هذا العمل مشروع؟]ـ
Setelah memandikan mayat, sebagian pemandi mayat apabila mengafani mayat tersebut, dia menyedekapkan tangan kanannya di atas tangan kiri layaknya orang yang sholat, apakah perbuatan seperti ini disyariatkan?
[الْجَوَابُ]
[Jawaban]
الحمد لله
"ليس هذا العمل مشروعاً، وإنما تجعل يدا الميت إلى جنبيه"
Segala puji hanya milik Allah,
"Amalan seperti ini tidak disyariatkan, sesungguhnya kedua tangannya hanya diletakkan di sisi badannya."
فضيلة الشيخ محمد بن عثيمين رحمه الله.
Fadhilatussyaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah
"لقاءات الباب المفتوح" (1/111) .

Kaidah Nahwu 010 || Mubtada' Mutsanna (اَلْمُبْتَدَأُ اَلْمُثَنَّى)

10/18/2016 Add Comment
Kaidah Nahwu | Mubtada' Mutsanna
اَلْمُبْتَدَأُ اَلْمُثَنَّى

القَاعِدَةُ :
Kaidah :
يَأْتِي اَلْمُبْتَدَأُ أَحْيَانًا مُثَنًّى، فَيَأْتِي خَبَرُهُ مُثَنًّى، مِثْلُ: اَلْفَلاَّحَانِ نَشِيْطَانِ
Mubtada' terkadang datang dalam bentuk mutsanna, maka khobarnya-pun datang dalam bentuk mutsanna, contoh:
اَلْفَلاَّحَانِ نَشِيْطَانِ = Kedua petani itu rajin

يَكُوْنُ الْخَبَرُ مُثَنًّى مُذَكَّراً إِذَا كَانَ الْمُبْتَدَأُ مُثَنًّى مُذَكَّرًا، مِثْلُ : اَلثَّوْرَانِ قَوِيَّانِ
Khobar berbentuk mutsana mudzakkar, apabila mubtada'nya berbentuk mutsanna mudzakkar, contoh :
اَلثَّوْرَانِ قَوِيَّانِ = Kedua kerbau itu kuat

يَكُوْنُ الْخَبَرُ مُثَنًّى مُؤَنَّثًا إِذَا كَانَ الْمُبْتَدَأُ مُثَنًّى مُؤَنَّثًا، مِثْلُ : اَلثَّوْرَانِ قَوِيَّانِ
Khobar berbentuk mutsana mu'annats, apabila mubtada'nya berbentuk mutsanna mu'annats, contoh :
اَلْفَلاَّحَتَانِ نَشِيْطَتَانِ = Kedua petani (wanita) itu rajin

عَلاَمَةُ رَفْعِ الْمُبْتَدَأِ الْمُثَنَّى وَالْخَبَرِ الْمُثَنَّى اَلأَلِفُ
Tanda rofa' untuk mubtada' dan khobar yang mutsanna adalah alif

نَمُوْذَجَانِ لِلإِعْرَابِ
Dua Contoh I'rob (Mubtada' Mutsanna)

اَلْفَلاَّحَانِ نَشِيْطَانِ = Kedua petani itu rajin
اَلْفَلاَّحَانِ = مُبْتَدَأٌ مَرْفُوْعٌ بِالألِفِ لأنَّهُ مُثَنًّى
اَلْفَلاَّحَانِ = Mubtada' marfu' dengan tanda rofa' huruf alif karena bentuknya mutsanna
نَشِيْطَانِ = خَبَرُ الْمُبْتَدَأِ مَرْفُوْعٌ بِالألِفِ لأنَّهُ مُثَنًّى
نَشِيْطَانِ = Khobar mubtada' marfu' dengan tanda rofa' huruf alif karena bentuknya mutsanna

اَلْفَلاَّحَتَانِ نَشِيْطَتَانِ = Kedua petani (wanita) itu rajin
اَلْفَلاَّحَتَانِ = مُبْتَدَأٌ مَرْفُوْعٌ بِالألِفِ لأنَّهُ مُثَنًّى
اَلْفَلاَّحَتَانِ = Mubtada' marfu' dengan tanda rofa' huruf alif karena bentuknya mutsanna
نَشِيْطَتَانِ = خَبَرُ الْمُبْتَدَأِ مَرْفُوْعٌ بِالألِفِ لأنَّهُ مُثَنًّى
نَشِيْطَتَانِ = Khobar mubtada' marfu' dengan tanda rofa' huruf alif karena bentuknya mutsanna


Sumber : Silsilah Ta'lim Al Lugah Al Arabiyah - Al Mustawa Ats Tsani - Pelajaran Kesembilan