8 Adab Agar Mendapatkan Pahala Maksimal Ketika Ke Masjid

5/20/2016 Add Comment
Diantara Adab Adab [Berkaitan Dengan] Masjid
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Diantara Adab Adab [Berkaitan Dengan] Masjid
  1. Thaharah (Bersuci)
    Tidak masuk ke masjid orang yang junub dan nifas serta wanita haid kecuali sekedar melintas, [Perhatian terhadap thaharah] yang demikian itu agar seorang muslim mendapatkan pahala yang sangat besar.
  1. Memakai wangi-wangian dan pakaian yang indah : Allah ta'ala berfirman :
    {يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ} [الأعراف: 31]
    {Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid,} [Al A'raf : 31]
  1. Menjauhi Konsumsi Makanan yang Memiliki Bau Aroma yang Tidak Sedap : Seperti bawang putih, bawang merah, bawang bakung dan lain-lain, Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
    " مَنْ أَكَلَ ثُومًا، أَوْ بَصَلًا، فَلْيَعْتَزِلْنَا أَو فَلْيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا وَلْيَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ "
    (Barangsiapa yang memakan bawang putih atau bawang merah maka hendaknya menjauhi kami dan menjauhi masjid kami, dan hendaknya tinggal di rumahnya) [Muttafaq alaihi]
  1. Berdoa Ketika Menuju Ke Masjid : Nabi shollallahu 'alaihi wasallam membaca ketika beliau sementara di jalan menuju ke masjid :
    «اللهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا، وَفِي سَمْعِي نُورًا، وَفِي بَصَرِي نُورًا، وَعَنْ يَمِينِي نُورًا، وَعَنْ شِمَالِي نُورًا، وَأَمَامِي نُورًا، وَخَلْفِي نُورًا، وَفَوْقِي نُورًا، وَتَحْتِي نُورًا، وَاجْعَلْ لِي نُورًا»
    (Ya Allah jadikan cahaya di hatiku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatanku, cahaya dari kananku, cahaya dari kiriku, cahaya di hadapanku, cahaya di belakangku, cahaya di atasku, dan cahaya di bawahku, serta jadikanlah cahaya untukku.) [HR. Muslim]
  1. Tetap tenang saat berjalan menuju ke masjid : Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
    «إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ، فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالوَقَارِ، وَلاَ تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا»
    (Apabila kalian mendengarkan iqomat, maka berjalanlah [ke masjid] untuk sholat, dan tetaplah diam dan tenang, dan jangan cepat-cepat. Apa yang kalian dapati [dari gerakan imam] maka sholatlah [dengan mengikutinya] dan apa yang kalian luput darinya, maka sempurnakanlah.) [Muttafaq 'alaih]
  1. Masuk dengan kaki kanan disertai dengan do'a : Seorang muslim, masuk ke masjid dengan kaki kanannya dan membaca :
    « بِسْمِ اللَّه اللَّهُمْ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، اللَّهُمُ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ»
    "Dengan menyebut Nama Allah, Ya Allah berikanlah sholawat kepada Muhammad, Ya Tuhan-ku ampunilah aku akan dosa-dosaku, dan bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-MU. [HR. Muslim]
  1. Sholat dua raka'at tahiyyatul masjid : Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
    «إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ، قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ»

    (Apabila salah seorang dari kalian masuk masjid, maka sholatlah dua raka'at sebelum duduk)
    [HR. Muslim]
  1. Tidak keluar dari masjid setelah adzan : Apabila seorang muslim berada di dalam masjid, sementara adzan untuk sholat [dikumandangkan], maka dia tidak keluar dari masjid kecuali setelah sholat selesai. Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
    " إِذَا كُنْتُمْ فِي الْمَسْجِدِ فَنُودِيَ بِالصَّلَاةِ فَلَا يَخْرُجْ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُصَلِّيَ "
    (Apabila kalian ada di masjid, lalu diseru (dikumandangkan adzan) untuk sholat, maka janganlah salah seorang diantara kalian keluar hingga dia [selesai] sholat.) [HR. Ahmad].
    Boleh baginya untuk keluar untuk keperluan darurat.
________________________

Lembar dakwah || AlBetaqa.com || Bersungguh-sungguhlah untuk menyebarkan lembar dakwah ini || Orang yang menunjukkan [jalan] kebaikan [pahalanya] sama seperti orang yang mengerjakannya



Sumber : FP zainalm.com

5 Faidah Seputar Puasa Ramadhan dan I'tikaf Sepuluh Hari Terakhir

5/10/2016 Add Comment
Apa Hukum Puasa Di Bulan Ramadhan
Apa Hukum Puasa di Bulan Ramadhan?

Puasa di bulan Ramadhan itu fardhu [kewajiban] berdasarkan al Kitab dan as Sunnah, serta Ijma [ulama] kaum muslimin, Allah tabaraka wata'ala berfirman :
{Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,} [183], Sampai pada firman-Nya :
{(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,} [al Baqarah : 183-185]

Nabi shollallahu 'alaihiwasallam bersabda :
Islam dibangun diatas 5 rukun :
1. Persaksian bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah rasul utusan Allah,
2. Mendirikan Sholat,
3. Menunaikan zakat,
4. Puasa Ramadhan,
5. Haji ke Baitullah al Haram

Nabi shollallahu 'alaihiwasallam bersabda :
"Apabilah kalian melihatnya [ru'yah hilal], maka berpuasalah!"

Ulama kaum muslimin telah sepakat bahwa puasa ramadhan itu fardhu, dan merupakan salah satu rukun Islam, maka barangsiapa yang mengingkari kewajibannya sungguh dia telah kufur, kecuali jika dia tumbuh besar di kampung yang jauh yang tidak diketahui tentang hukum-hukum Islam di tempat itu, maka dia mendapat udzur karena hal tersebut. Apabila kemudian dia tetap [mengingkari wajibnya puasa] setelah ditegakkan hujjah atasnya, maka dia telah kufur.

Barangsiapa meninggalkannya namun mengakui akan wajibnya, maka dia berada dalam bahaya, karena sebagian ulama memandang orang tersebut adalah kufur lagi murtad, akan tetapi pendapat yang kuat bahwasanya dia tidaklah kufur lagi murtad namun dia salah satu orang fasik dari golongan orang-orang yang fasik, bahkan dia berada dalam bahaya besar.

Niat Puasa

Niat Puasa

S : Apakah setiap hari yang dilaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadhan, butuh niat, ataukah cukup niat puasa sebulan penuh?

J : Cukup pada bulan Ramadhan satu niat dari awal bulan, karena orang yang berpuasa, meskipun tidak berniat setiap hari -untuk berpuasa- pada hari itu pada malam harinya, maka sungguh hal itu telah masuk dalam niatnya dari awal bulan, akan tetapi sekiranya dia memutuskan puasanya pada bulan tersebut, karena safar atau sakit, atau -karena udzur- yang semisalnya, maka wajib baginya memulai niatnya kembali; karena dia telah memutusnya dengan meninggalkan puasa karena safar atau sakit, atau -karena udzur- yang semisalnya.

Segera Berbuka, Tunda Sahur

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :

Segeralah kalian berbuka [ketika telah masuk waktunya], dan akhirkanlah makan sahur [sebelum habis waktunya]

Dishohihkan oleh Al Albani

Diantara Hukum Puasa | Mubah Memakai Salep

Diantara Hukum-Hukum Puasa

Diantara Perkara-Perkara Mubah ketika Puasa

Orang yang berpuasa memakai salep untuk mengatasi bibir pecah-pecah

Tidak mengapa seseorang menggunakan sesuatu yang bisa melembabkan kedua bibir dan hidung berupa salep, atau membasahinya dengan air, atau dengan kain [basah] atau yang semisal itu, akan tetapi dia harus menjaga akan adanya sesuatu yang masuk ke tenggorokannya dari sesuatu yang digunakannya untuk mengatasi [bibir] kaku/kering tersebut, apabila ada sesuatu yang tertelan tanpa sengaja maka tidak ada masalah baginya, sebagaimana, sekiranya dia berkumur-kumur lalu air masuk sampai ke kerongkongannya tanpa sengaja, maka dia, tidak batal puasanya karena hal tersebut.

Kapan Mulai I'tikaf 10 Terakhir Bulan Ramadhan

KAPAN MULAI I'TIKAF SEPULUH TERAKHIR RAMADHAN

Jumhur ulama berpendapat bahwa awal i'tikaf mulai dari malam ke-21 bukan dimulai dari waktu subuh ke-21, meskipun ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa i'tikaf dimulai dari subuh ke-21; mereka berdalil dengan hadits Aisyah radhiallohu 'anha yang diriwayatkan oleh al Bukhari : (Ketika selesai sholat subuh beliau masuk di tempat i'tikafnya), akan tetapi mayoritas ulama membantah hal tersebut : bahwasanya Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam [ketika i'tikaf], menyendiri mulai dari waktu subuh, -beliau menjauh- dari orang lain. Adapun niat i'tikaf itu dari awal malam; karena sepuluh terakhir itu mulai dari tenggelamnya matahari pada hari ke-20.



Sumber :

Anda Mengaku Penuntut ILMU? Kitab Apa yang Pernah Dibaca dan Dikaji Dihadapan Anda?

5/03/2016 Add Comment
Kitab-kitab yang Hendaknya Dipelajari Oleh Penuntut Ilmu
Kitab-kitab yang Hendaknya Dipelajari Oleh Penuntut Ilmu
Oleh Syaikh Muhammad ibn Shalih al Utsaimin

Pertama : Aqidah :
  1. Kitab Tsalatsatul Ushul (Tiga landasan utama).
  2. Kitab Al Qowaidul Arba’ (Empat Kaidah)
  3. Kitab Kasyfusy Syubuhat ( Membongkar syubhat)
  4. Kitab At Tauhid
Keempat kitab tersebut adalah karangan Syaikhul Islam Imam Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah.
  1. Kitab Al Aqidah Al Wasithiyah yang mencakup tauhid Asma dan sifat. Inilah kitab terbaik yang dikarang dalam bab ini dan amat penting untuk dibaca dan dipelajari.
  2. Kitab Al Hamawiyah.
  3. Kitab At Tadmuriyah.
Keduanya merupakan risalah yang lebih luas dari pada aqidah al wasithiyah.
Inilah tiga kitab karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah
  1. Kitab Aqidah Thahawiyah karya Syaikh Abu Ja’far Ahmad Bin Muhammad At Thahawy.
  2. Kitab Syarah Aqidah Thahawiyah karya Abul Hasan Ali Bin Abul ‘Izzy.
  3. Kitab Ad Durus Sunniyah Fil Ajwibah An Najdiyah. Disusun oleh Syaikh Abdurrahman Bin Qasim Rahimahullah.
  4. Kitab Ad Durroh al Madhiyah fi aqidah al firqah al mardhiyah, karya Muhammad Bin Ahmad As Safaarainy Al Hambaly. Di dalamnya ada beberapa poin yang menyimpang dari madzhab salaf. Seperti ucapannya :
وَلَيْسَ رَبُنَا بِجَوْهَرَ وَلاَ عَرَض
وَلاَ جِسْـــمَ تَعَالَى فِي اْلعُلْيَ
Tuhan kami bukanlah mutiara ataupun materi
Tidak pula berjisim Tuhan kita yang Tinggi dalam ketinggian-Nya.

Oleh karena itu seorang penuntut ilmu harus mempelajarinya melalui seorang syaikh yang memahami akidah salafiyah dengan benar agar dia menjelaskan poin-poin yang menyimpang dari akidah salafus salih yang ada di dalamnya.

Kedua : Hadis.
  1. Kitab Fathul Bary Syarah Sahih Bukhory karya Ibnu Hajar Al Asqalany Rahimahullah.
  2. Kitab Subulus Salam Syarah Bulughul Maram karya Ash Shan’any dan kitabnya ini memadukan antara hadis dan fikih.
  3. Kitab Nailul Authar Syarah Muntaqa al Akhbar, karya As saukany.
  4. Kitab Umdatul Ahkam karya Al Maqdisy. Ini adalah kitab yang ringkas dan sebagian besar hadis-hadisnya terdapat dalam dua kitab sahih (Shahih Bukhori dan Shahih Muslim) sehingga tidak perlu dibahas kesahihannya.
  5. Kitab Arbain An Nawawiyah, karya Abu Zakariya An Nawawy Rahimahullah. Ini adalah kitab yang baik karena di dalamnya terkandung adab dan manhaj yang baik dan kaidah-kaidah yang bermanfaat sekali, seperti hadis :
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
” Diantara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak ada artinya.”[1]

Inilah satu kaidah yang seandainya engkau menjadikannya sebagai jalan yang engkau tempuh maka pasti akan mencukupi. Demikian pula kaidah berbicara (seperti) dalam hadis :
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
” Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam.”[2]

  1. Kitab Bulughul Maram karya Al Hafizh Ibnu hajar Al Asqalany. Ini adalah kitab yang bermanfaat terutama karena dia menyebutkan para perawi dan menerangkan pula orang yang mensahihkan dan mendhaifkan hadis dan memberi komentar terhadap hadis-hadis itu.
  2. Kitab Nukhbatul fikr karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalany yang dianggap mencakup. Bila seorang penuntut ilmu memahaminya secara sempurna maka hal ini akan membuat dia tidak memerlukan kitab lain dalam ilmu mushthalah. Ibnu Hajar Rahimahullah mempunyai metoda yang baik dalam menyusunnya yaitu : yang pokok dan pembagian (cabang). Maka seorang penuntut ilmu dia akan merasa semangat jika membacanya karena dibangun berdasarkan hasil pemikiran akal. Dan saya katakan : Amat baik bagi penuntut ilmu untuk menghafalkannya karena merupakan ringkasan yang amat bermanfaat dalam ilmu mushthalah.
  3. Kitab yang enam (Al Kutubus Sittah) yaitu : Sahih Bukhary, Sahih Muslim, Sunan An Nasai, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, dan Sunan At Tirmidzi. Saya nasihatkan agar para penuntut ilmu banyak membaca kitab-kitab ini karena di dalamnya terkandung dua faidah :
    • Merujuk kepada yang ushul (pokok).
    • Mengulang-ulang nama-nama perawi dalam ingatannya. Bila engkau mengulang-ulang nama-nama perawi, hampir tidak pernah dalam sanad manapun yang tidak bertemu dengan salah seorang rawi Bukhari – umpamanya – maka akan lebih dikenal bahwa dia adalah perawi Bukhari maka dia bisa mengambil faidah dalam ilmu hadis ini.

Ketiga : Fikih.
  1. Kitab Adabul Masyyi ilaash Shalah karya Syaikhul Islam Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah.
  2. Kitab Zaadul Mustaqni’ fi Ikhtisharil Muqni’ karya Al Hijawy, dan ini adalah sebaik-baik matan dalam hal fikih dan merupakan kitab yang diberkahi, ringkas, dan padat. Guru kami telah mengisyaratkan kepada kami untuk menghafalkannya padahal beliau telah menghafalkan matan Daliluth Thalib.
  3. Kitab Ar Raudhul Murabbi’ Syarah Zaadul Mustaqni’ karya Syaikh Mansur Al Bahuty.
  4. Kitab Umdatul Fiqh, karya Ibnu Qudamah Rahimahullah.

Keempat : Faraidh.
  1. Matan Ar Rahabiyyah, karya Ar Rahabby
  2. Kitab Matan Al Burhaniyyah, karya Muhammad Al Burhany. Ini adalah kitab yang ringkas, bermanfaat, dan mencakup semua masalah faraa-idh. Dan saya melihat bahwa Al Burhaniyyah lebih baik dari pada Ar Rahabiyyah, karena Al Burhaniyyah lebih lengkap dari Ar Rahabiyyah dari satu aspek dan informasinya lebih lengkap dari aspek yang lain.

Kelima : Tafsir.
  1. Kitab Tafsir Al Quran Al Adhim karya Ibnu Katsir Rahimahullah. Ini adalah kitab yang bagus dalam masalah tafsir dengan atsar, bermanfaat dan aman, tetapisedikit kandungan I’rab dan balagahnya.
  2. Kitab Taisir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Al Manan karya Syaikh Abdur Rahman As Sa’dy Rahimahullah. Ini adalah kitab yang bagus, mudah dan aman. Saya nasihatkan untuk dibaca.
  3. Kitab Muqaddimah Syaikhul Islam Fii Tafsiir dan ini adalah muqaddimah yang penting dan bagus (dalam ilmu tafsir).
  4. Kitab Adhwa ul Bayan, karya Al Allamah Muhammad Asy Syinqithy Rahimahullah. Ini adalah kitab yang memadukan antara hadits, fikih, tafsir, dan ushul fiqh.

Keenam : Kitab-kitab umum dalam beberapa disiplin ilmu.
  1. Dalam hal Nahwu : Matan Al Ajuruumiyyah. Ini adalah kitab yang ringkas namun padat.
  2. Dalam hal Nahwu : Alfiyyah Ibnu Malik. Ini adalah ringkasan ilmu Nahwu
  3. Dalam masalah siirah (sejarah) kitab terbaik yang saya lihat adalah : Zaadul Ma’ad, karya Ibnul Qayyim Rahimahullah. Ini adalah kitab yang bermanfaat sekali yang menerangkan sejarah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam dalam segala aspek (kehidupan), kemudian banyak diterangkan aspek hukumnya.
  4. Kitab Raudatul ‘Uqala, karya Ibnu Hibban Al Busty Rahimahullah. Ini adalah kitab yang amat bermanfaat sekalipun amat ringkas dan banyak menghimpun pelajaran dan kisah-kisah para ulama, para ahli hadis, dan yang lainnya.
  5. Kitab Siyar A’laamin Nubalaa’. Karya Adz Dzahabi. Ini adalah kitab yang amat banyak manfaatnya dan banyak mengandung pelajaran yang harus dibaca dan dipelajari oleh para penuntut ilmu.

Diterjemahkan dari Kitab Al-Ilmu Karya Syaikh Al-Utsaimin Rohimahulloh


[1] Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (1/201). Tirmidzi (2318) dan dihasankan oleh An Nawawy dalam riyadhus salihin halaman 73 dan disahihkan oleh Ahmad Syakir (musnad/1737).
[2] Dikeluarkan oleh Bukhary, kitab adab. Muslim, kitab luqathah, bab bertamu.


Sumber:
  • http://ustadz.abuhaidar.web.id/
  • https://salafiyunpad.wordpress.com/2009/07/23/kitab-kitab-yang-hendaknya-dipelajari-bagi-penuntut-ilmu/

Sholat Subuh Antara Keimanan dan Kemunafikan

4/28/2016 Add Comment
Keutamaan Sholat Subuh Berja'amah

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
(( من صلى الصبحَ فهو في ذمةِ اللهِ . فلايطلبنَّكم اللهُ من ذمتِه بشيٍء فيُدركُه فيكبَّهُ في نارِ جهنمَ ))
((Barangsiapa yang sholat subuh, maka dia berada dalam jaminan keamanan Allah, oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut kalian karena -mengganggu orang yang berada dalam- jaminan keamanan-Nya sedikitpun, sehingga Allah membalasnya lalu menelungkupkannya ke dalam neraka jahannam)) [HR. Muslim 657]

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
(( مَن صلَّى البردَينِ دخَل الجنةَ ))
((Barangsiapa yang sholat al Bardain, maka dia akan masuk surga)) [HR. Bukhari 574]
Al Bardain : Sholat subuh dan sholat ashar

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
(( ‏ليس صلاةٌ أثقَلَ على المُنافِقين من الفَجرِ والعِشاءِ، ولو يَعلمون ما فيهما لأتَوهُما ولوحَبوًا،،،، ))
((Tidak adak sholat yang sangat berat atas orang-orang munafik dibanding sholat subuh dan isya'. Sekiranya mereka mengetahui apa yang ada pada keduanya, sungguh mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak,,,)) [Muttafaq Alaih 651-657]

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
(( ‏من صلى العشاءَ في جماعةٍ فكأنما قام نصفَ الليلِ. ومن صلى الصبحَ في جماعةٍ فكأنما صلى الليلَ كلَّهُ ))
((Barangsiapa yang sholat isya' secara berjama'ah, maka dia seakan-akan berdiri -sholat- seperdua malam, dan barangsiapa yang sholat subuh secara berjama'ah maka seakan-akan dia telah sholat semalam suntuk)) [HR. Muslim 665]

Dari Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam :
في قولِهِ تعالى :{ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا} قال ﷺ : (( تشهدُهُ ملائِكَةُ اللَّيلِ وملائِكَةُ النَّهارِ ))
Tentang firman Allah ta'ala : {dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).} Beliau shollallahu 'alaihi wasallam bersabda : ((sholat subuh disaksikan oleh malaikat -yang bertugas pada- malam hari dan malaikat -yang bertugas pada- siang hari)) [Dishohihkan oleh al Wadi'i di Shohih al Musnad no. 1436]

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
(( لن يلجَ النارَ أحدٌ صلى قبل طلوعِ الشمسِ وقبل غروبها يعني الفجرَ والعصرَ ))
((Tidak akan masuk neraka, seseorang yang sholat sebelum terbitnya matahari dan sebelum tenggelamnya, yaitu subuh dan ashar)) [HR. Muslim no. 634]

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
(( يتعاقبونَ فيكم : ملائكةٌ بالليلِ وملائكةٌ بالنهارِ ، ويجتمعون في صلاةِ العصرِ وصلاةِ الفجرِ ، ثم يعرجُ الذين باتوا فيكم ، فيسألُهم ، وهو أعلمُ بكم ، فيقول : كيف تركتُم عبادي ؟ فيقولون : تركناهُمْ وهم يُصلُّونَ ، وأتيناهم وهم يُصلُّونَ ))
((Bergiliran -mengawasi- kalian : malaikat -yang bertugas- pada malam hari dan malaikat -yang bertugas- pada siang hari. Mereka berkumpul pada waktu sholat ashar dan sholat subuh, kemudian naik -para malaikat- yang melewati malam -mengawasi- kalian, lalu -Allah- bertanya kepada mereka, padahal -Allah- Maha Mengetahui -tentang keadaan- kalian, seraya berfirman : Bagaimana -keadaan- hamba-Ku -ketika- kalian tinggalkan?, -para malaikat tersebut- menjawab : Kami meninggalkan mereka, sementara mereka melaksanakan sholat, dan kami datangi mereka, sementara mereka melaksanakan sholat)) [HR. al Bukhari no. 7429]

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
(( ركعتا الفجرِ خيرٌ من الدنيا وما فيها ))
((Dua raka'at fajar lebih baik dibandingkan dengan dunia dan segala isinya)) [HR. Muslim no. 725]
Makna -dari- dua raka'at fajar adalah dua raka'at sholat sunnah sebelum sholat fardhu, maka bagaimana menurutmu dengan pahala sholat fardhunya.

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
نعمتِ السورتان يقرأُ بهما في ركعتَينِ قبلَ الفجرِ { قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ } و{ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ }
Sebaik-baik surah yang dibaca pada dua raka'at sebelum subuh adalah {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} dan {قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ} [as Silsilah as Shohihah no. 2/246. Al Albani : Sanadnya Jayyid]

Sholat subuh berjama'ah di masjid

Umar bin Khotthob radhiallohu 'anhu berkata :
(( لأَن أشهدَ صلاةَ الصُّبحِ في جماعةٍ أحبُّ إليَّ مِن أقومَ ليلةً ))
((Menghadiri pelaksanaan sholat subuh secara berjama'ah lebih saya sukai dibanding bangun -sholat- malam)) [Misykah al Mashobih no. 1038. Al Albani : Sanadnya shohih]

Dari Ibnu Umar radhiallohu 'anhuma, beliau berkata :
(( كنَّا إذا فقدنا الإنسان في صلاةِ الصُّبحِ والعشاءِ ؛ أسأنا به الظَّنَّ ))
((Kami -para shahabat- dahulu apabila tidak mendapati seseorang pada saat sholat subuh dan isya'; Kami -sudah- berprasangka buruk kepadanya)) [Dishohihkan oleh al Albani di dalam kitab shohih al mawarid no. 364]


Sumber : ‏قناة:صحيح البخاري ومسلم - ⁩http://soo.gd/X8k5

[Hafal] 11 Mufrodat Ber-awalan Huruf Tsa || Kosakata Bahasa Arab 0008

4/20/2016 Add Comment
-Lebih- Beratأَثْقَلُ :
<Beras itu -lebih- berat dari satu kilo><اَلرُّزُّ أَثْقَلُ مِنْ كِيْلُو وَاحِدٍ>
Sepertiga (1/3)ثُلُثٌ :
Kosakata Bahasa Arab | Sepertiga
-Yang- Ketiga (III)اَلثَّالِثُ - اَلثَّالِثَةُ :
<Siswa yang ketiga itu adalah Ahmad><اَلطَّالِبُ الثَّالِثُ هُوَ أَحْمَدُ>
Tiga (3)ثَلاثٌ - ثَلاثَةٌ :
Kosakata Bahasa Arab | Tiga
Tiga Puluh (30)ثَلاثُوْنَ :
Kulkas/Lemari Esثَلاّجَةٌ :
Kosakata Bahasa Arab | Kulkas
Kemudianثُمَّ :
<Saya duduk kemudian membaca><جَلَسْتُ ثُمَّ قَرَأْتُ>
-Yang- Kedelapanاَلثَّامِنُ - اَلثَّامِنَةُ :
<Saya tinggal di lantai delapan><أَسْكُنُ فِي الطَّابَقِ الثَّامِنِ>
Kosakata Bahasa Arab | Kedelapan
Delapan (8)ثَمَانٍ - ثَمَانِيَةٌ :
Kosakata Bahasa Arab | Delapan
Dua (2)اِثْنَانِ :
<Satu + Satu = Dua><وَاحِدٌ + وَاحِدٌ = اِثْنَانِ>
-Yang- Kedua (II)اَلثَّانِي - اَلثَّانِيَةُ :
<Saya telah membaca pelajaran pertama dan pelajaran kedua><قَرَأْتُ اَلدَّرْسَ الأوَّلَ وَالدَّرْسَ الثَّانِيَ>

Kaidah Shorof 008 || Fi'il Amr (bentukan) dari Fi'il bukan Tsulatsi || فعل الأمر من الأفعال غير الثلاثية

4/18/2016 Add Comment
فعل الأمر من الأفعال غير الثلاثية || Fi'il Amr (bentukan) dari Fi'il bukan Tsulatsi
Catatan :
  1. Hamzah fi'il amr berharakat fat-hah apabila fi'il madhi-nya ruba-i [terdiri dari 4 huruf] contoh : 
    أَرْسِلْ [Kirimlah!]
  2. Hamzah fi'il amr berharakat kas-rah apabila fi'il madhi-nya khumasi [terdiri dari 5 huruf] atau sudasi [terdiri dari 6 huruf].
    Contoh fi'il amr khumasi : اِجْتَهِدْ [Bersungguh-sungguhlah!]
    Contoh fi'il amr sudasi : اِسْتَقْبِلْ [Menghadaplah!]

القواعد || Fi'il Amr (bentukan) dari Fi'il bukan Tsulatsi

Kaidah :
  • Cara kita merubah -bentuk- fi'il dari mudhari' menjadi amr pada fi'il-fi'il yang bukan tsula-tsi [tidak terdiri dari 3 huruf] , sebagaimana -langkah- berikut ini :
    1. Kita menghapus huruf mudhara'ah, dan menambahkan hamzah ditempatnya apabila huruf yang terletak setelah huruf mudhara'ah tadi adalah huruf yang sukun -tidak berharakat-. Contoh :
      يُرْسِلُ - أَرْسِلْ
      يَسْتَقْبِلُ - اِسْتَقْبِلْ
    2. Kita -hanya- menghapus huruf mudhara'ah-nya apabila huruf yang terletak setelahnya adalah huruf yang berharakat [bukan sukun]. Contoh :
      يُقَابِلُ - قَابِلْ
  • Hamzah fi'il amr berharakat fat-hah apabila fi'il madhi-nya ruba-i [terdiri dari 4 huruf] contoh :
    أَرْسِلْ [Kirimlah!]
    Hamzah fi'il amr berharakat kas-rah apabila fi'il madhi-nya khumasi [terdiri dari 5 huruf] atau sudasi [terdiri dari 6 huruf].
    Contoh fi'il amr khumasi : اِجْتَهِدْ [Bersungguh-sungguhlah!]
    Contoh fi'il amr sudasi : اِسْتَقْبِلْ [Menghadaplah!]



Sumber : Silsilah Ta'lim Al Lugah Al Arabiyah - Al Mustawa Ats Tsani - Ash Shorf - Ad Dars As Saadis - 95 & 96

    12 Sifat dan Karakter Ibadur Rahman dalam Al Qur'an

    4/13/2016 Add Comment
    Karakteristik Pertama Ibadur Rahman dalam Al Qur'anPertama
    Berjalan di atas bumi dengan rendah hati [Al Furqan (25):63]
    Mereka berjalan di muka bumi dengan tenang dan tunduk tawadhu' [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Kedua Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Kedua
    Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. [Al Furqan (25):63]
    Dan apabila orang-orang yang jahil lagi bodoh berbicara dengan -bentuk- gangguan, mereka -Ibadur Rahman- membalasnya dengan kata-kata yang ma'ruf dan berbicara kepada mereka dengan pembicaraan yang mereka selamat dari dosa didalamnya dan -selamat- dari menghadapi orang jahil dengan kejahilannya [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Ketiga Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Ketiga
    Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. [Al Furqan (25):64]
    Dan orang-orang yang memperbanyak sholat malam, dengan ikhlas menjalankannya karena Rab mereka, serta menghinakan diri kepada-Nya dengan melakukan sujud [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Keempat Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Keempat
    Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal". Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. [Al Furqan (25): 65 & 66]
    Dan mereka, bersama dengan kesungguhannya dalam beribadah, mereka takut kepada Allah. Maka mereka berdo'a kepada-Nya agar menjauhkannya dari azab jahannam, karena sesungguhnya azabnya terus menimpa penghuninya dan sungguh jahannam seburuk-buruk tempat tinggal dan tempat menetap [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Kelima Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Kelima
    Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. [Al Furqan (25): 67]
    Dan orang-orang yang apabila berinfaq dari hartanya, mereka tidak melampaui batas dalam pemberian, dan juga tidak mempersulit dalam pemberian nafkah. Infaq mereka pertengahan antara mubadz-dzir -berlebih lebihan- dan mempersulit [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Keenam Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Keenam
    Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah [Al Furqan (25): 68]
    Dan orang-orang yang men-tauhidkan Allah, mereka tidak berdo'a dan tidak beribadah kepada tuhan lain selain Allah. [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Ketujuh Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Ketujuh
    Dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, [Al Furqan (25): 68]
    Dan mereka tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan untuk dibunuh, kecuali karena ada alasan yang benar untuk membunuhnya; karena kekafiran setelah beriman -sebelumnya-, atau -karena- berzina setelah -memiliki- pasangan atau -membunuh jiwa karena permusuhan [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Kedelapan Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Kedelapan
    Dan tidak berzina [Al Furqan (25): 68]
    Dan mereka tidak berzina, bahkan menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Kesembilan Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Kesembilan
    Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, [Al Furqan (25): 72]
    Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian dusta serta tidak menghadiri majelis-majelisnya, [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Kesepuluh Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Kesepuluh
    Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. [Al Furqan (25): 72]
    Dan apabila mereka melewati pelaku kebatilan dan kesia-siaan tanpa sengaja, mereka melewatinya dengan berpaling serta mengingkari. Mereka menyucikan diri dan tidak meridhoi hal tersebut bagi orang selain mereka [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Kesebelas Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Kesebelas
    Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. [Al Furqan (25): 73]
    Dan orang-orang yang apabila dinasehati dengan ayat-ayat Al Qur'an serta dalil-dalil akan ke-Esaan Allah, mereka tidak melalaikannya, seakan-akan bisu tidak mendengarnya, dan buta tidak melihatnya, akan tetapi hati-hati mereka memperhatikan -nasehat tersebut-, dann pandangan mereka terbuka padanya, sehingga mereka tersungkur bersujud dan ta'at hanya kepada Allah [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Keduabelas Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Keduabelas
    Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa". [Al Furqan (25): 74]
    Dan orang-orang yang meminta kepada Allah seraya berdo'a : "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami yang menjadi penyejuk mata kami, -terdapat- padanya kesenangan dan kegembiraan kami, dan jadikanlah kami sebagai teladan yang kami diteladani dalam kebaikan". [At Tafsir Al Muyassar]