Anda Mengaku Penuntut ILMU? Kitab Apa yang Pernah Dibaca dan Dikaji Dihadapan Anda?

5/03/2016 Add Comment
Kitab-kitab yang Hendaknya Dipelajari Oleh Penuntut Ilmu
Kitab-kitab yang Hendaknya Dipelajari Oleh Penuntut Ilmu
Oleh Syaikh Muhammad ibn Shalih al Utsaimin

Pertama : Aqidah :
  1. Kitab Tsalatsatul Ushul (Tiga landasan utama).
  2. Kitab Al Qowaidul Arba’ (Empat Kaidah)
  3. Kitab Kasyfusy Syubuhat ( Membongkar syubhat)
  4. Kitab At Tauhid
Keempat kitab tersebut adalah karangan Syaikhul Islam Imam Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah.
  1. Kitab Al Aqidah Al Wasithiyah yang mencakup tauhid Asma dan sifat. Inilah kitab terbaik yang dikarang dalam bab ini dan amat penting untuk dibaca dan dipelajari.
  2. Kitab Al Hamawiyah.
  3. Kitab At Tadmuriyah.
Keduanya merupakan risalah yang lebih luas dari pada aqidah al wasithiyah.
Inilah tiga kitab karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah
  1. Kitab Aqidah Thahawiyah karya Syaikh Abu Ja’far Ahmad Bin Muhammad At Thahawy.
  2. Kitab Syarah Aqidah Thahawiyah karya Abul Hasan Ali Bin Abul ‘Izzy.
  3. Kitab Ad Durus Sunniyah Fil Ajwibah An Najdiyah. Disusun oleh Syaikh Abdurrahman Bin Qasim Rahimahullah.
  4. Kitab Ad Durroh al Madhiyah fi aqidah al firqah al mardhiyah, karya Muhammad Bin Ahmad As Safaarainy Al Hambaly. Di dalamnya ada beberapa poin yang menyimpang dari madzhab salaf. Seperti ucapannya :
وَلَيْسَ رَبُنَا بِجَوْهَرَ وَلاَ عَرَض
وَلاَ جِسْـــمَ تَعَالَى فِي اْلعُلْيَ
Tuhan kami bukanlah mutiara ataupun materi
Tidak pula berjisim Tuhan kita yang Tinggi dalam ketinggian-Nya.

Oleh karena itu seorang penuntut ilmu harus mempelajarinya melalui seorang syaikh yang memahami akidah salafiyah dengan benar agar dia menjelaskan poin-poin yang menyimpang dari akidah salafus salih yang ada di dalamnya.

Kedua : Hadis.
  1. Kitab Fathul Bary Syarah Sahih Bukhory karya Ibnu Hajar Al Asqalany Rahimahullah.
  2. Kitab Subulus Salam Syarah Bulughul Maram karya Ash Shan’any dan kitabnya ini memadukan antara hadis dan fikih.
  3. Kitab Nailul Authar Syarah Muntaqa al Akhbar, karya As saukany.
  4. Kitab Umdatul Ahkam karya Al Maqdisy. Ini adalah kitab yang ringkas dan sebagian besar hadis-hadisnya terdapat dalam dua kitab sahih (Shahih Bukhori dan Shahih Muslim) sehingga tidak perlu dibahas kesahihannya.
  5. Kitab Arbain An Nawawiyah, karya Abu Zakariya An Nawawy Rahimahullah. Ini adalah kitab yang baik karena di dalamnya terkandung adab dan manhaj yang baik dan kaidah-kaidah yang bermanfaat sekali, seperti hadis :
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
” Diantara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak ada artinya.”[1]

Inilah satu kaidah yang seandainya engkau menjadikannya sebagai jalan yang engkau tempuh maka pasti akan mencukupi. Demikian pula kaidah berbicara (seperti) dalam hadis :
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
” Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam.”[2]

  1. Kitab Bulughul Maram karya Al Hafizh Ibnu hajar Al Asqalany. Ini adalah kitab yang bermanfaat terutama karena dia menyebutkan para perawi dan menerangkan pula orang yang mensahihkan dan mendhaifkan hadis dan memberi komentar terhadap hadis-hadis itu.
  2. Kitab Nukhbatul fikr karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalany yang dianggap mencakup. Bila seorang penuntut ilmu memahaminya secara sempurna maka hal ini akan membuat dia tidak memerlukan kitab lain dalam ilmu mushthalah. Ibnu Hajar Rahimahullah mempunyai metoda yang baik dalam menyusunnya yaitu : yang pokok dan pembagian (cabang). Maka seorang penuntut ilmu dia akan merasa semangat jika membacanya karena dibangun berdasarkan hasil pemikiran akal. Dan saya katakan : Amat baik bagi penuntut ilmu untuk menghafalkannya karena merupakan ringkasan yang amat bermanfaat dalam ilmu mushthalah.
  3. Kitab yang enam (Al Kutubus Sittah) yaitu : Sahih Bukhary, Sahih Muslim, Sunan An Nasai, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, dan Sunan At Tirmidzi. Saya nasihatkan agar para penuntut ilmu banyak membaca kitab-kitab ini karena di dalamnya terkandung dua faidah :
    • Merujuk kepada yang ushul (pokok).
    • Mengulang-ulang nama-nama perawi dalam ingatannya. Bila engkau mengulang-ulang nama-nama perawi, hampir tidak pernah dalam sanad manapun yang tidak bertemu dengan salah seorang rawi Bukhari – umpamanya – maka akan lebih dikenal bahwa dia adalah perawi Bukhari maka dia bisa mengambil faidah dalam ilmu hadis ini.

Ketiga : Fikih.
  1. Kitab Adabul Masyyi ilaash Shalah karya Syaikhul Islam Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah.
  2. Kitab Zaadul Mustaqni’ fi Ikhtisharil Muqni’ karya Al Hijawy, dan ini adalah sebaik-baik matan dalam hal fikih dan merupakan kitab yang diberkahi, ringkas, dan padat. Guru kami telah mengisyaratkan kepada kami untuk menghafalkannya padahal beliau telah menghafalkan matan Daliluth Thalib.
  3. Kitab Ar Raudhul Murabbi’ Syarah Zaadul Mustaqni’ karya Syaikh Mansur Al Bahuty.
  4. Kitab Umdatul Fiqh, karya Ibnu Qudamah Rahimahullah.

Keempat : Faraidh.
  1. Matan Ar Rahabiyyah, karya Ar Rahabby
  2. Kitab Matan Al Burhaniyyah, karya Muhammad Al Burhany. Ini adalah kitab yang ringkas, bermanfaat, dan mencakup semua masalah faraa-idh. Dan saya melihat bahwa Al Burhaniyyah lebih baik dari pada Ar Rahabiyyah, karena Al Burhaniyyah lebih lengkap dari Ar Rahabiyyah dari satu aspek dan informasinya lebih lengkap dari aspek yang lain.

Kelima : Tafsir.
  1. Kitab Tafsir Al Quran Al Adhim karya Ibnu Katsir Rahimahullah. Ini adalah kitab yang bagus dalam masalah tafsir dengan atsar, bermanfaat dan aman, tetapisedikit kandungan I’rab dan balagahnya.
  2. Kitab Taisir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Al Manan karya Syaikh Abdur Rahman As Sa’dy Rahimahullah. Ini adalah kitab yang bagus, mudah dan aman. Saya nasihatkan untuk dibaca.
  3. Kitab Muqaddimah Syaikhul Islam Fii Tafsiir dan ini adalah muqaddimah yang penting dan bagus (dalam ilmu tafsir).
  4. Kitab Adhwa ul Bayan, karya Al Allamah Muhammad Asy Syinqithy Rahimahullah. Ini adalah kitab yang memadukan antara hadits, fikih, tafsir, dan ushul fiqh.

Keenam : Kitab-kitab umum dalam beberapa disiplin ilmu.
  1. Dalam hal Nahwu : Matan Al Ajuruumiyyah. Ini adalah kitab yang ringkas namun padat.
  2. Dalam hal Nahwu : Alfiyyah Ibnu Malik. Ini adalah ringkasan ilmu Nahwu
  3. Dalam masalah siirah (sejarah) kitab terbaik yang saya lihat adalah : Zaadul Ma’ad, karya Ibnul Qayyim Rahimahullah. Ini adalah kitab yang bermanfaat sekali yang menerangkan sejarah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam dalam segala aspek (kehidupan), kemudian banyak diterangkan aspek hukumnya.
  4. Kitab Raudatul ‘Uqala, karya Ibnu Hibban Al Busty Rahimahullah. Ini adalah kitab yang amat bermanfaat sekalipun amat ringkas dan banyak menghimpun pelajaran dan kisah-kisah para ulama, para ahli hadis, dan yang lainnya.
  5. Kitab Siyar A’laamin Nubalaa’. Karya Adz Dzahabi. Ini adalah kitab yang amat banyak manfaatnya dan banyak mengandung pelajaran yang harus dibaca dan dipelajari oleh para penuntut ilmu.

Diterjemahkan dari Kitab Al-Ilmu Karya Syaikh Al-Utsaimin Rohimahulloh


[1] Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (1/201). Tirmidzi (2318) dan dihasankan oleh An Nawawy dalam riyadhus salihin halaman 73 dan disahihkan oleh Ahmad Syakir (musnad/1737).
[2] Dikeluarkan oleh Bukhary, kitab adab. Muslim, kitab luqathah, bab bertamu.


Sumber:
  • http://ustadz.abuhaidar.web.id/
  • https://salafiyunpad.wordpress.com/2009/07/23/kitab-kitab-yang-hendaknya-dipelajari-bagi-penuntut-ilmu/

Sholat Subuh Antara Keimanan dan Kemunafikan

4/28/2016 Add Comment
Keutamaan Sholat Subuh Berja'amah

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
(( من صلى الصبحَ فهو في ذمةِ اللهِ . فلايطلبنَّكم اللهُ من ذمتِه بشيٍء فيُدركُه فيكبَّهُ في نارِ جهنمَ ))
((Barangsiapa yang sholat subuh, maka dia berada dalam jaminan keamanan Allah, oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut kalian karena -mengganggu orang yang berada dalam- jaminan keamanan-Nya sedikitpun, sehingga Allah membalasnya lalu menelungkupkannya ke dalam neraka jahannam)) [HR. Muslim 657]

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
(( مَن صلَّى البردَينِ دخَل الجنةَ ))
((Barangsiapa yang sholat al Bardain, maka dia akan masuk surga)) [HR. Bukhari 574]
Al Bardain : Sholat subuh dan sholat ashar

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
(( ‏ليس صلاةٌ أثقَلَ على المُنافِقين من الفَجرِ والعِشاءِ، ولو يَعلمون ما فيهما لأتَوهُما ولوحَبوًا،،،، ))
((Tidak adak sholat yang sangat berat atas orang-orang munafik dibanding sholat subuh dan isya'. Sekiranya mereka mengetahui apa yang ada pada keduanya, sungguh mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak,,,)) [Muttafaq Alaih 651-657]

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
(( ‏من صلى العشاءَ في جماعةٍ فكأنما قام نصفَ الليلِ. ومن صلى الصبحَ في جماعةٍ فكأنما صلى الليلَ كلَّهُ ))
((Barangsiapa yang sholat isya' secara berjama'ah, maka dia seakan-akan berdiri -sholat- seperdua malam, dan barangsiapa yang sholat subuh secara berjama'ah maka seakan-akan dia telah sholat semalam suntuk)) [HR. Muslim 665]

Dari Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam :
في قولِهِ تعالى :{ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا} قال ﷺ : (( تشهدُهُ ملائِكَةُ اللَّيلِ وملائِكَةُ النَّهارِ ))
Tentang firman Allah ta'ala : {dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).} Beliau shollallahu 'alaihi wasallam bersabda : ((sholat subuh disaksikan oleh malaikat -yang bertugas pada- malam hari dan malaikat -yang bertugas pada- siang hari)) [Dishohihkan oleh al Wadi'i di Shohih al Musnad no. 1436]

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
(( لن يلجَ النارَ أحدٌ صلى قبل طلوعِ الشمسِ وقبل غروبها يعني الفجرَ والعصرَ ))
((Tidak akan masuk neraka, seseorang yang sholat sebelum terbitnya matahari dan sebelum tenggelamnya, yaitu subuh dan ashar)) [HR. Muslim no. 634]

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
(( يتعاقبونَ فيكم : ملائكةٌ بالليلِ وملائكةٌ بالنهارِ ، ويجتمعون في صلاةِ العصرِ وصلاةِ الفجرِ ، ثم يعرجُ الذين باتوا فيكم ، فيسألُهم ، وهو أعلمُ بكم ، فيقول : كيف تركتُم عبادي ؟ فيقولون : تركناهُمْ وهم يُصلُّونَ ، وأتيناهم وهم يُصلُّونَ ))
((Bergiliran -mengawasi- kalian : malaikat -yang bertugas- pada malam hari dan malaikat -yang bertugas- pada siang hari. Mereka berkumpul pada waktu sholat ashar dan sholat subuh, kemudian naik -para malaikat- yang melewati malam -mengawasi- kalian, lalu -Allah- bertanya kepada mereka, padahal -Allah- Maha Mengetahui -tentang keadaan- kalian, seraya berfirman : Bagaimana -keadaan- hamba-Ku -ketika- kalian tinggalkan?, -para malaikat tersebut- menjawab : Kami meninggalkan mereka, sementara mereka melaksanakan sholat, dan kami datangi mereka, sementara mereka melaksanakan sholat)) [HR. al Bukhari no. 7429]

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
(( ركعتا الفجرِ خيرٌ من الدنيا وما فيها ))
((Dua raka'at fajar lebih baik dibandingkan dengan dunia dan segala isinya)) [HR. Muslim no. 725]
Makna -dari- dua raka'at fajar adalah dua raka'at sholat sunnah sebelum sholat fardhu, maka bagaimana menurutmu dengan pahala sholat fardhunya.

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
نعمتِ السورتان يقرأُ بهما في ركعتَينِ قبلَ الفجرِ { قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ } و{ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ }
Sebaik-baik surah yang dibaca pada dua raka'at sebelum subuh adalah {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} dan {قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ} [as Silsilah as Shohihah no. 2/246. Al Albani : Sanadnya Jayyid]

Sholat subuh berjama'ah di masjid

Umar bin Khotthob radhiallohu 'anhu berkata :
(( لأَن أشهدَ صلاةَ الصُّبحِ في جماعةٍ أحبُّ إليَّ مِن أقومَ ليلةً ))
((Menghadiri pelaksanaan sholat subuh secara berjama'ah lebih saya sukai dibanding bangun -sholat- malam)) [Misykah al Mashobih no. 1038. Al Albani : Sanadnya shohih]

Dari Ibnu Umar radhiallohu 'anhuma, beliau berkata :
(( كنَّا إذا فقدنا الإنسان في صلاةِ الصُّبحِ والعشاءِ ؛ أسأنا به الظَّنَّ ))
((Kami -para shahabat- dahulu apabila tidak mendapati seseorang pada saat sholat subuh dan isya'; Kami -sudah- berprasangka buruk kepadanya)) [Dishohihkan oleh al Albani di dalam kitab shohih al mawarid no. 364]


Sumber : ‏قناة:صحيح البخاري ومسلم - ⁩http://soo.gd/X8k5

[Hafal] 11 Mufrodat Ber-awalan Huruf Tsa || Kosakata Bahasa Arab 0008

4/20/2016 Add Comment
-Lebih- Beratأَثْقَلُ :
<Beras itu -lebih- berat dari satu kilo><اَلرُّزُّ أَثْقَلُ مِنْ كِيْلُو وَاحِدٍ>
Sepertiga (1/3)ثُلُثٌ :
Kosakata Bahasa Arab | Sepertiga
-Yang- Ketiga (III)اَلثَّالِثُ - اَلثَّالِثَةُ :
<Siswa yang ketiga itu adalah Ahmad><اَلطَّالِبُ الثَّالِثُ هُوَ أَحْمَدُ>
Tiga (3)ثَلاثٌ - ثَلاثَةٌ :
Kosakata Bahasa Arab | Tiga
Tiga Puluh (30)ثَلاثُوْنَ :
Kulkas/Lemari Esثَلاّجَةٌ :
Kosakata Bahasa Arab | Kulkas
Kemudianثُمَّ :
<Saya duduk kemudian membaca><جَلَسْتُ ثُمَّ قَرَأْتُ>
-Yang- Kedelapanاَلثَّامِنُ - اَلثَّامِنَةُ :
<Saya tinggal di lantai delapan><أَسْكُنُ فِي الطَّابَقِ الثَّامِنِ>
Kosakata Bahasa Arab | Kedelapan
Delapan (8)ثَمَانٍ - ثَمَانِيَةٌ :
Kosakata Bahasa Arab | Delapan
Dua (2)اِثْنَانِ :
<Satu + Satu = Dua><وَاحِدٌ + وَاحِدٌ = اِثْنَانِ>
-Yang- Kedua (II)اَلثَّانِي - اَلثَّانِيَةُ :
<Saya telah membaca pelajaran pertama dan pelajaran kedua><قَرَأْتُ اَلدَّرْسَ الأوَّلَ وَالدَّرْسَ الثَّانِيَ>

Kaidah Shorof 008 || Fi'il Amr (bentukan) dari Fi'il bukan Tsulatsi || فعل الأمر من الأفعال غير الثلاثية

4/18/2016 Add Comment
فعل الأمر من الأفعال غير الثلاثية || Fi'il Amr (bentukan) dari Fi'il bukan Tsulatsi
Catatan :
  1. Hamzah fi'il amr berharakat fat-hah apabila fi'il madhi-nya ruba-i [terdiri dari 4 huruf] contoh : 
    أَرْسِلْ [Kirimlah!]
  2. Hamzah fi'il amr berharakat kas-rah apabila fi'il madhi-nya khumasi [terdiri dari 5 huruf] atau sudasi [terdiri dari 6 huruf].
    Contoh fi'il amr khumasi : اِجْتَهِدْ [Bersungguh-sungguhlah!]
    Contoh fi'il amr sudasi : اِسْتَقْبِلْ [Menghadaplah!]

القواعد || Fi'il Amr (bentukan) dari Fi'il bukan Tsulatsi

Kaidah :
  • Cara kita merubah -bentuk- fi'il dari mudhari' menjadi amr pada fi'il-fi'il yang bukan tsula-tsi [tidak terdiri dari 3 huruf] , sebagaimana -langkah- berikut ini :
    1. Kita menghapus huruf mudhara'ah, dan menambahkan hamzah ditempatnya apabila huruf yang terletak setelah huruf mudhara'ah tadi adalah huruf yang sukun -tidak berharakat-. Contoh :
      يُرْسِلُ - أَرْسِلْ
      يَسْتَقْبِلُ - اِسْتَقْبِلْ
    2. Kita -hanya- menghapus huruf mudhara'ah-nya apabila huruf yang terletak setelahnya adalah huruf yang berharakat [bukan sukun]. Contoh :
      يُقَابِلُ - قَابِلْ
  • Hamzah fi'il amr berharakat fat-hah apabila fi'il madhi-nya ruba-i [terdiri dari 4 huruf] contoh :
    أَرْسِلْ [Kirimlah!]
    Hamzah fi'il amr berharakat kas-rah apabila fi'il madhi-nya khumasi [terdiri dari 5 huruf] atau sudasi [terdiri dari 6 huruf].
    Contoh fi'il amr khumasi : اِجْتَهِدْ [Bersungguh-sungguhlah!]
    Contoh fi'il amr sudasi : اِسْتَقْبِلْ [Menghadaplah!]



Sumber : Silsilah Ta'lim Al Lugah Al Arabiyah - Al Mustawa Ats Tsani - Ash Shorf - Ad Dars As Saadis - 95 & 96

    12 Sifat dan Karakter Ibadur Rahman dalam Al Qur'an

    4/13/2016 Add Comment
    Karakteristik Pertama Ibadur Rahman dalam Al Qur'anPertama
    Berjalan di atas bumi dengan rendah hati [Al Furqan (25):63]
    Mereka berjalan di muka bumi dengan tenang dan tunduk tawadhu' [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Kedua Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Kedua
    Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. [Al Furqan (25):63]
    Dan apabila orang-orang yang jahil lagi bodoh berbicara dengan -bentuk- gangguan, mereka -Ibadur Rahman- membalasnya dengan kata-kata yang ma'ruf dan berbicara kepada mereka dengan pembicaraan yang mereka selamat dari dosa didalamnya dan -selamat- dari menghadapi orang jahil dengan kejahilannya [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Ketiga Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Ketiga
    Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. [Al Furqan (25):64]
    Dan orang-orang yang memperbanyak sholat malam, dengan ikhlas menjalankannya karena Rab mereka, serta menghinakan diri kepada-Nya dengan melakukan sujud [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Keempat Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Keempat
    Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal". Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. [Al Furqan (25): 65 & 66]
    Dan mereka, bersama dengan kesungguhannya dalam beribadah, mereka takut kepada Allah. Maka mereka berdo'a kepada-Nya agar menjauhkannya dari azab jahannam, karena sesungguhnya azabnya terus menimpa penghuninya dan sungguh jahannam seburuk-buruk tempat tinggal dan tempat menetap [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Kelima Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Kelima
    Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. [Al Furqan (25): 67]
    Dan orang-orang yang apabila berinfaq dari hartanya, mereka tidak melampaui batas dalam pemberian, dan juga tidak mempersulit dalam pemberian nafkah. Infaq mereka pertengahan antara mubadz-dzir -berlebih lebihan- dan mempersulit [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Keenam Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Keenam
    Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah [Al Furqan (25): 68]
    Dan orang-orang yang men-tauhidkan Allah, mereka tidak berdo'a dan tidak beribadah kepada tuhan lain selain Allah. [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Ketujuh Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Ketujuh
    Dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, [Al Furqan (25): 68]
    Dan mereka tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan untuk dibunuh, kecuali karena ada alasan yang benar untuk membunuhnya; karena kekafiran setelah beriman -sebelumnya-, atau -karena- berzina setelah -memiliki- pasangan atau -membunuh jiwa karena permusuhan [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Kedelapan Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Kedelapan
    Dan tidak berzina [Al Furqan (25): 68]
    Dan mereka tidak berzina, bahkan menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Kesembilan Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Kesembilan
    Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, [Al Furqan (25): 72]
    Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian dusta serta tidak menghadiri majelis-majelisnya, [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Kesepuluh Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Kesepuluh
    Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. [Al Furqan (25): 72]
    Dan apabila mereka melewati pelaku kebatilan dan kesia-siaan tanpa sengaja, mereka melewatinya dengan berpaling serta mengingkari. Mereka menyucikan diri dan tidak meridhoi hal tersebut bagi orang selain mereka [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Kesebelas Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Kesebelas
    Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. [Al Furqan (25): 73]
    Dan orang-orang yang apabila dinasehati dengan ayat-ayat Al Qur'an serta dalil-dalil akan ke-Esaan Allah, mereka tidak melalaikannya, seakan-akan bisu tidak mendengarnya, dan buta tidak melihatnya, akan tetapi hati-hati mereka memperhatikan -nasehat tersebut-, dann pandangan mereka terbuka padanya, sehingga mereka tersungkur bersujud dan ta'at hanya kepada Allah [At Tafsir Al Muyassar]
    Karakteristik Keduabelas Ibadur Rahman dalam Al Qur'an
    Keduabelas
    Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa". [Al Furqan (25): 74]
    Dan orang-orang yang meminta kepada Allah seraya berdo'a : "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami yang menjadi penyejuk mata kami, -terdapat- padanya kesenangan dan kegembiraan kami, dan jadikanlah kami sebagai teladan yang kami diteladani dalam kebaikan". [At Tafsir Al Muyassar]

    Kaidah Nahwu 008 || Mubtada' dan Khobar (المبتدأ والخبر)

    4/12/2016 Add Comment
    Kaidah Nahwu 008 || Mubtada' dan Khobar (المبتدأ والخبر)
    Mubtada' dan Khobar (المبتدأ والخبر)

    اَلْقَاعِدَةُ :
    تَحْتَاجُ اَلْجُمْلَةُ الاِسْمِيَّةُ إِلَى رُكْنَيْنِ : اَلأَوَّلُ اَلْمُبْتَدَأُ، وَالثَّانِي اَلْخَبَرُ.
    اَلْمُبْتَدَأُ : اِسْمٌ يَقَعُ فِي أَوَّلِ الْجُمْلَةِ, وَسُمِّيَ الْمُبْتَدَأَ لأَنَّنَا نَبْتَدِئُ بِهِ اَلْجُمْلَةَ.
    اَلْخَبَرُ : اِسْمٌ يُكْمِلُ مَعْنَى الْجُمْلَةِ مَعَ الْمُبْتَدَأِ.
    وَالْمُبْتَدَأُ مَرْفُوْعٌ بِالضَّمَّةِ، وَالْخَبَرُ مَرْفُوْعٌ بِالضَّمَّةِ أَيْضًا، مِثْلُ : اَلنَّهْرُ صَغِيْرٌ، اَلسُّلَحْفَاةُ وَاقِفَةٌ أَمَامَ النَّهْرِ.
    نَمُوْذَجَانِ لِلإعْرَابِ :
    (اَلنَّهْرُ صَغِيْرٌ)
    (اَلنَّهْرُ) مُبْتَدَأٌ مَرْفُوْعٌ بِالضَّمَّةِ.
    (صَغِيْرٌ) خَبَرُ الْمُبْتَدَأِ مَرْغُوْعٌ بِالضَّمَّةِ
    (اَلسُّلَحْفَاةُ وَاقِفَةٌ أَمَامَ النَّهْرِ)
    (اَلسُّلَحْفَاةُ) مُبْتَدَأٌ مَرْفُوْعٌ بِالضَّمَّةِ
    (وَاقِفَة) خَبَرُ الْمُبْتَدَأِ مَرْغُوْعٌ بِالضَّمَّةِ

    Kaidah :
    Pembentukan jumlah ismiyyah -kalimat yang diawali dengan isim- membutuhkan dua rukun : yang pertama adalah "mubtada'" dan yang kedua adalah "khobar"

    Mubtada' adalah isim yang terletak di awal kalimat, dinamakan mubtada' karena kita memulai dengan -menyebutkan-nya -dalam pembentukan- kalimat.

    Khobar adalah isim yang menyempurnakan arti suatu kalimat, bersama dengan mubtada'.

    Mubtada' marfu' dengan -tanda harakat- dhommah, dan Khobar juga marfu' dengan -tanda harakat- dhommah, contoh :
    اَلنَّهْرُ صَغِيْرٌ = Sungai itu kecil
    اَلسُّلَحْفَاةُ وَاقِفَةٌ أَمَامَ النَّهْرِ = Kura-kura itu berhenti di tepi sungai

    Contoh I'rob

    (اَلنَّهْرُ صَغِيْرٌ)
    (اَلنَّهْرُ) = Mubtada' marfu' dengan -tanda harakat- dhommah
    (صَغِيْرٌ) = Khabar dari Mubtada' marfu' dengan -tanda harakat- dhommah

    (اَلسُّلَحْفَاةُ وَاقِفَةٌ أَمَامَ النَّهْرِ)
    (اَلسُّلَحْفَاةُ) = Mubtada' marfu' dengan -tanda harakat- dhommah
    (وَاقِفَةٌ) = Khabar dari Mubtada' marfu' dengan -tanda harakat- dhommah



    Sumber : Silsilah Ta'lim Al Lugah Al Arabiyah - Al Mustawa Ats Tsani - Pelajaran Kedelapan

    Apa Yang Sebaiknya Dilakukan Ketika Di-Zholimi?

    4/06/2016 Add Comment
    Nasehat bagi orang yang terzholimiJangan sibukkan dirimu mencela orang lain, serahkanlah urusannya kepada Allah, apabila engkau mendoakan keburukan atas orang yang zholim itu, maka hati-hatilah engkau dari menambahkan dalam doa-mu melebihi batas balasan yang setimpal, karena sesungguhnya seseorang, apabila mendoakan keburukan atas orang yang men-zholiminya maka akan diberikan balasan setimpal sesuai hak-nya, dan jika dia menambah lebih -dari itu- maka akan menjadikan orang yang men-zholiminya memiliki "hak" terhadapnya.

    Datang -satu riwayat- dalam kitab "Syu'ab al Iman 5/287" dari al Haitsam bin Ubaid ash Shoidalani, dia mengatakan : "Ibnu Sirin mendengar seseorang yang mencela al Hajjaj, maka dia-pun berkata : cukup wahai kisanak! sesungguhnya jika engkau mendatangi negeri akhirat, maka dosa terkecil sekali-pun yang pernah kamu kerjakan itu lebih besar -bebannya- atasmu dibandingkan dengan dosa terbesar yang pernah dilakukan al Hajjaj, ketahuilah sesungguhnya Allah azza wajalla itu Maha Bijaksana lagi Maha Adil, apabila Dia mengambil -kebaikan- dari al Hajjaj untuk orang yang dia zholimi sedikit demi sedikit, maka Dia-pun akan mengambil -kebaikan- untuk al Hajjaj dari orang-orang yang zholim terhadapnya, oleh karena itu jangan sibukkan dirimu dengan mencela siapapun" [selesai]

    -Perkataan- yang dibolehkan pada saat mengungkapkan suatu ke-zholiman adalah perkataan orang yang di-zholimi : "si fulan telah men-zholimi-ku pada apa yang menjadi hak-ku, dia telah memakan hartaku". Bukan dengan mendoakan keburukan kepada orang yang zholim. Ini merupakan -perkara- yang dipahami dari firman Allah ta'ala :

    {لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا} [النساء: 148]
    Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Annisa : 148]

    Perhatikan, ketika Nabi Nuh alahissalam disakiti, sesungguhnya dia berdo'a dengan mengatakan :
    {أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ} [القمر: 10]
    "aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)". [Alqomar : 10]

    Maka diantara buah dari do'a yang penuh adab ini adalah -seperti- apa yang Al Qur'an ceritakan :
    {فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ * وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ} [القمر: 11، 12]
    Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. [Alqomar : 11 dan 12]

    Maka hendaknya kita menghadap hanya kepada Allah, dan merintih hanya kepada-Nya, karena sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat

    Sungguh menakjubkan perkataan seorang -penyair- :
    أُحِبُّ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ جَهْدِي وَأَكْرَهُ أَنْ أَعِيبَ وَأَنْ أُعَابَا
    Saya cinta akhlak yang mulia dengan penuh kesungguhan; dan saya benci mencela dan dicela
    وَأَصْفَحُ عَنْ سِبَابِ النَّاسِ حِلْمًا وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ يَهْوَى السِّبَابَا
    dan saya maafkan celaan orang lain dengan penuh santun; dan seburuk-buruk manusia adalah orang yang suka menghembuskan celaan
    [Adab addun-ya waddin hal. 303]

    Sabar atas ke-zholiman karena mengharap ganjaran dari Allah, itu lebih utama dibanding menuntut balas dari orang yang zholim

    Dalil atas hal tersebut adalah firman Allah ta'ala :
    {وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ} [النحل: 126]
    Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. [Annahl : 126]

    Maka diizinkan bagi orang yang di-zholimi untuk membalas sesuai dengan kadar kezholimannya, namun sabar terhadap ke-zholiman lebih utama; dengan mengharap ganjaran dari Allah.

    Sungguh telah diriwayatkan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Al Hakim dari hadits Anas radhiallohu 'anhu, dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda :
    ((قال الله تعالى: إنك إن ذهبت تدعو على آخر أنه ظلمك، وإن آخر يدعو عليك أنك ظلمته، فإن شئت استجبنا لك وعليك، وإن شئت أخرتكما إلى يوم القيامة فأوسعكما عفوي))
    Allah ta'ala berfirman : "Sesungguhnya engkau, jika mendoakan keburukan bagi orang lain yang men-zholimimu, dan -ada juga- orang lain yang mendoakan keburukan bagimu karena engkau telah men-zholimiya, maka jika engkau menghendaki, Kami kabulkan doa kebaikan dan keburukan -tersebut- untukmu, dan jika engkau mengehendaki Saya tunda -doa- kalian berdua sampai hari kiamat, lalu ampunan-Ku luas -meliputi- kalian berdua"

    Makna hadits diatas : Sesungguhnya manusia terkadang memiliki hak -berupa- kebaikan dan hak -berupa- keburukan, maka apabila dia mendoakan keburukan bagi seseorang yang zholim, maka haknya -berupa kebaikan- telah terpenuhi, dan tersisa haknya -berupa keburukan-, akan tetapi jika dia tidak mendoakan keburukan bagi orang yang telah men-zholiminya, dan tidak berdoa untuk keburukan dirinya seorang-pun yang pernah dia zholimi, maka Allah subhanahu wata'ala akan memaafkan keduanya pada hari kiamat. Sungguh telah datang dalam hadits yang shohih, yang dikeluarkan oleh imam Ahmad, dari Abdullah bin Amr radhiallohu 'anhuma, dia mengatakan : Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
    ((ارحموا تُرحَموا، واغفِروا يُغفَر لكم))
    Berkasihsayanglah maka kalian akan dikasihsayangi pula, dan berilah ampunan maka kalian akan diberi ampunan pula

    Tambahkan lagi atas hal tersebut, bahwasanya Allah ta'ala akan memberikan tambahan baginya berupa kemuliaan dengan kesabarannya.

    Dalam "Musnad Imam Ahmad", dari hadits Abu Kab-syah al Anmaari radhiallohu 'anhu: Bahwasanya dia mendengar Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
    ((ثلاثٌ أقسم عليهن، وأحدثكم حديثًا فاحفظوه، قال: ما نقص مال عبدٍ من صدقة، ولا ظلم عبدٌ مظلمة صبر عليها إلا زاده الله عزًّا، ولا فتح باب مسألة إلا فتح الله عليه باب فقر [أو كلمة نحوها]))
    Ada tiga -perkara- yang Saya bersumpah atasnya, dan akan Saya sampaikan kepada kalian satu hadits, maka hafalkanlah, beliau mengatakan : [1] tidak berkurang harta seorang hamba karena sedekah, [2] dan tidaklah seorang hamba dizholimi dengan -satu bentuk- ke-zholiman yang dia bersabar atasnya kecuali Allah tambahkan kemuliaan padanya, [3] dan tidaklah dia membuka pintu meminta-minta kecuali Allah bukakan atasnya pintu ke-faqiran [atau kalimat semisal itu]. [Shohih al Jami' : 3024]

    Ringkasan
    Sesungguhnya orang yang di-zholimi dan menuntut balas terhadap orang yang men-zholiminya sesuai kadar ke-zholimannya, maka tidak ada dosa baginya, akan tetapi yang utama baginya dan bagi agamanya adalah bersabar dan mengharap -pahala-, dan disana ada derajat yang lebih tinggi dan lebih utama dibandingkan itu semua, yaitu : Memberikan maaf kepada orang yang berbuat zholim; Allah ta'ala berfirman :
    {وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ} [الشورى: 41]
    Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka. [Assyuura : 41]
    Kemudian Allah ta'ala berfirman :
    {وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ} [الشورى: 43]
    Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. [Assyuura : 43]

    Dan disana -masih- ada beberapa ayat dan hadits yang menunjukkan atas pondasi mendasar dan makna yang agung ini, diantaranya firman -Allah- Tuhan semesta alam:
    {وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ} [الشورى: 40]
    Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. [Assyuura : 40]

    Para ulama mengatakan : Allah menjadikan orang-orang yang beriman dua golongan: satu golongan yang memaafkan orang zholim, maka Allah mengawali dengan menyebut mereka dalam firman-Nya :
    {وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ} [الشورى: 37]
    dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. [Assyuura : 37]

    Dan satu golongan yang menuntut balas terhadap orang yang men-zhlomi mereka, kemudian Dia jelaskan batasan dalam menuntut balas tersebut dengan firman-Nya :
    {وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا} [الشورى: 40]
    Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, [Assyuura : 40]

    Maka dia menuntut balas dari orang yang men-zholiminya tanpa melampaui batas. [al Jami' li Ahkam al Qur'an 40/16].

    Allah ta'ala berfirman :
    {وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ} [آل عمران: 134]
    dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [Ali Imran : 134]

    Allah ta'ala berfirman :
    {وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [النور: 22]
    dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, [Annuur : 22]

    Allah ta'ala tidaklah menambahkan bagi hamba tersebut, yang memberikan maaf, kecuali kemuliaan; Sungguh Imam Muslim mengeluarkan -hadits- dari Abu Hurairah radhiallohu 'anhu, dia mengatakan : Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
    ((ما نقصت صدقة من مال، وما زاد الله عبدًا بعفوٍ إلا عزًّا، وما تواضع أحدٌ لله إلا رفعه الله))
    Sedekah tidaklah mengurangi harta, dan Allah tidak menambahkan bagi seorang hamba karena kata maaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendah karena Allah kecuali Allah akan meninggikannya

    Dalam riwayat Imam Ahmad :
    ((ولا يعفو عبدٌ عن مظلمة، إلا زاده الله بها عزًّا يوم القيامة.))
    Tidaklah seorang hamba memaafkan satu ke-zholiman kecuali Allah akan tambahkan kepadanya karena hal tersebut berupa kemuliaan pada hari kiamat.

    Diantara Pesan-Pesan Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam:

    Dalam hadits yang dikeluarkan oleh Abu Daud dan Ibnu Hibban dari Abu Juray Jabir bin Sulaim radhiallohu 'anhu, dia mengatakan : Saya berkata : "Wahai Rasulullah, berikan petunjuk kepadaku". Beliau bersabda : "Jangan sekali-kali engkau mencela seorang-pun". Dia (Abu juray) berkata : "Maka setelah itu saya tidak pernah mencela seorangpun baik yang merdeka dan tidak pula budak, tidak pula seekor unta dan tidak pula seekor kambing". Beliau bersabda : "dan jangan engkau menganggap remeh sesuatupun dari -perkara yang- ma'ruf. Berbicaralah kepada saudaramu dengan wajah berser-seri dihadapannya, sesungguhnya itu termasuk -perkara yang- ma'ruf. Tinggikan pakaianmu sampai pertengahan betis, jika engkau enggan maka -tinggikan- sampai kedua mata kaki, waspadalah dari melabuhkan pakaian, karena itu termasuk kesombongan dan Allah tidak mencintai kesombongan. Apabila ada orang yang mencaci maki dan membongkar aibmu dengan dasar apa yang dia ketahui tentang-mu, maka jangan engkau bongkar aibnya dengan dasar apa yang engkau ketahui tentangnya, maka sesungguhnya musibah dari hal tersebut hanya akan menimpanya". [(Shohih al Jami' 7309) (as Shohihah : 1109, 1352]

    Dalam riwayat -yang dikeluarkan oleh- Ath-Thabrani dan Abu Nuaim di "al Hilyah" :
    ((. وإن امرؤ سبك بما يعلم فيك، فلا تسبه بما تعلم فيه؛ فإن أجره لك، ووباله على من قاله))
    Dan apabila ada seseorang yang mencelamu, dengan dasar apa yang dia ketahui, ada pada dirimu, maka jangan engkau mencelanya dengan dasar apa yang engkau ketahui, ada pada dirinya; karena sesungguhnya pahalanya untukmu, dan akibat buruknya atas orang yang mengatakannya. [Dishohihkan oleh Al Albani di Ash-Shohihah: 2340]

    Maka Nabi shollahu 'alaihi wasallam menasehatkan dan mewasiatkan bagi seorang muslim agar menjauhi "celaan", dengan harapan agar dia selamat dari hukuman Allah ta'ala. Dan -agar- melihat saudaranya dengan -kaca- mata kebaikan dan penuh adab; dengan harapan mendapatkan ganjaran pahala dari Allah ta'ala. Dan -agar- tidak menyebutkan satu aib-pun dari saudaranya, dan tidak menyebutnya karena sesuatu yang sangat buruk yang ada padanya; karena takut akan adzab Allah, karena segala sesuatu yang bersumber dari seorang hamba akan dipertanggungjawabkan atasnya; maka -hakekat- orang yang cerdas adalah orang yang menahan amarahnya, dan bersabar serta meninggalkan medan permusuhan dan celaan, serta membiasakan lisannya dengan lafadz-lafadz yang terpuji dan kata-kata yang baik.



    Sumber : نصيحة للمظلوم - أ. محمد خير رمضان يوسف