Solusi Menuntut Ilmu Agama Mulai dari Dasar dengan Kurikulum Diakui Ulama Kibar | Kuliah Kunci-Kunci Ilmu Syar'i

3/23/2017 Add Comment
Kuliah Umum || Kunci-Kunci Ilmu Syar'i
Kuliah Umum || Kunci-Kunci Ilmu Syar'i
Ingin belajar agama secara intensif, tetapi waktu terbatas?
Mungkin ini bisa menjadi solusi ...

Mari bergabung di ...

Kuliah Umum
مفاتيح العلم
MAFATIHUL 'ILM

KURIKULUM
Mencakup ilmu dasar:
  • Aqidah dan Manhaj
  • Tafsir
  • Ushul Tafsir dan Tajwid
  • Fiqih
  • Ushul Fiqih, Qawaid Fiqhiyah, dan Maqashid Syariah
  • Hadits
  • Musthalah Hadits
  • Adab dan Akhlak
  • Bahasa Arab
  • Sirah
1. المنظومة الميمية للحكمي
2. المختصر في النحو والصرف (طريقة مبتكرة في قراءة الكتب العربية بلا حركات)
3. متن الأجرومية
4. فضل الإسلام
5. القواعد الأربعة
6. معنى لا اله الا الله
7. ثلاثة الأصول
8. الأصول الستة
9. ستة مواضع من السيرة
10. معنى طاغوت
11. كتاب التوحيد
12. نواقض الإسلام
13. كشف الشبهات
14. العقيدة الواسطية
15. منظومة السير إلى الله والدار الآخرة
16. منظومة الزمزمي في علم التفسير
17. تفسير الفاتحة وقصار المفصل
18. المقدمة الجزرية
19. المنظومة البيقونية
20. الأربعين النووية
21. الأصول من علم الأصول
22. منظومة القواعد الفقهية للسعدي
23. تبصرة القاصد إلى علم المقاصد للعصيمي
24. الغاية والتقريب (متن أبي شجاع)
25. الأرجوزة الميئية في ذكر حال أشرف البرية
26. منظومة الأداب الشرعية
* Kurikulum ini sudah dianggap baik oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah

Insya Allah, peserta dengan kehadiran 100% akan diberikan sanad periwayatan mayoritas buku yang diajarkan

PENGAJAR
Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi
[Pengasuh Ma'had As-Sunnah Makassar]

PENDAFTARAN
  • Online: Silakan mengisi formulir berikut
    http://bit.ly/kuliah_umum
  • Offline: Silakan mendaftar di tempat sebelum kuliah dimulai.

MULAI BELAJAR
Sabtu 19 Jumadal Ula 1438
18 Maret 2017

JADWAL
Setiap Sabtu-Ahad Pekan ke-1 dan ke-3 WITA
Sesi 1: 10.00 - 12.00
Sesi 2: 16.00 - 18.00
Sesi 3: 19.00 - 20.30

DIKTAT MATERI
Disediakan oleh panitia
(dengan mengganti biaya cetak)

TEMPAT
Masjid As-Sunnah
Jl. Baji Rupa No. 8 Makassar

KONTAK INFO
Burhanuddin +6285399090004
Siraj +6285242520272

SIARAN LANGSUNG

Gratis, Terbuka untuk Umum
Muslim dan Muslimah



Sumber : http://dzulqarnain.net/kuliah-umum-kunci-kunci-ilmu-syari-makassar.html

Hukum Musik dan Nasyid atau Nyanyian

3/20/2017 Add Comment
Hukum Musik Bernuansa Islami
Hukum Musik Bernuansa Islami
Hukum Musik Bernuansa Islami

Assalamualaikum. Ustadz, ana mau bertanya ni… Bagaimana hukumnya musik dalam syari’at Islam…? seperti musik-musik yang Islami seperti lagunya opick, hadad alwi, dll yang bernuansa Islami. masalahnya saya pernah baca haditsnya bahwa yang dilarang adalah alat musik, tetapi ada pendapat yang mengatakan kalau lagu yang bernuansa islami dibolehkan kecuali lagu yang menimbulkan syahwat. Apa itu betul…? Mohon penjelasan! Pengirim : Uways Al-Butuuni, Sultra, Kendari, Kampus baru UNHALU

Jawaban

Wa’alaikumsalam Warahmatullah. Yang jelas bahwa musik itu salah satu dari pada tukang azanya syaithan maka bagaimanapun keadaanya baik itu disertai dengan nyanyian islami yang jelas ada musiknya maka lebih lagi kalau nyanyian yang mengumbar syahwat wallahu a’lam. Ust. Utsman Laba Lc.

Sumber : http://wahdah.or.id/hukum-musik-bernuansa-islami/

Hukum Nasyid atau Nyanyian dalam Islam
Hukum Nasyid atau Nyanyian dalam Islam

Hukum Nasyid atau Nyanyian Dalam Islam

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Afwan ustadz, rasulullah telah mengharamkan nyanyian, kemudian bagaimana dengan nasyid?, hukum mendengarkannya, karena nasyid juga memiliki alunan nada. Syukran

Dari shafiyyah – Palu

Jawaban :

Musik atau nyanyian yang diiringi dengan musik hukumnya haram, hal ini berdasarkan firman Allah:
{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا} [لقمان: 6]
Artinya: Dan diantara manusia ada yg membeli “lahwal hadits” untuk menyesatkn umat manusia dari jalan Allah tanpa ilmu. [QS. Luqman 6]. Ahlu tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “lahwal hadits” adalah nyanyian dan alat musik.

Dan Nabi bersabda:
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ، وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
Artinya: akan ada dari umatku yg pasti akan menghalalkan zina, sutra, khamr (sesuatu yang memabukkan) dan alat-alat musik. [Hr Bukhari].

Hadits ini menunjukkan pengharaman musik dari beberapa sisi:
  1. Kalimat “Layakunanna” bentuk pengambaran tentang kejadian di masa akan datang, yang belum terjadi di zaman Nabi.
  2. Kalimat “yastahilluna” bermakna menghalalkan, artinya semua hal yang disebutkan oleh Nabi di Hadits tersebut diharamkan pada zaman beliau, namun kemudian terjadi pergeseran di tengah kaum muslimin, karena tersebarnya kebodohan terhadap agama sehingga menyebabkan kaum muslimin menghalalkan yang telah diharamkan oleh syariat, oleh sebab itu Ibnu Hajar al-‘Asqolani asy-Syafii mengomentari Hadits ini: ”Hadits ini mengandung ancaman bagi oknum yang bersiasat untuk menghalalkan yang telah diharamkan oleh Allah dengan mengganti namanya (supaya bisa dianggap halal)".
  3. Rasulullah menggabungkan musik/nyanyian dengan hal-hal yang telah disepakati keharamannya di dalam syariat ini, seperti zina, khamr, dan sutera bagi laki-laki, maka uslub (metode) berkonsekwensi pada sebuah hukum, yaitu persamaan hukum bagi semua yang disebutkan dalam Hadits ini.
Adapun Nasyid, dari kajian yang kami lakukan hukumnya mubah. Yang dimaksud dengan Nasyid dalam bahasa Arab adalah mengangkat suara dengan membaca syair-syair sambil berusaha membanguskan dan melembutkan suara.

Jika kita amati kehidupan Rasulullah, maka kita dapatkan beliau pernah mendengarkan syair dan nasyid, bahkan diantara sahabat Nabi ada penyairnya, seperti Hisaan bin Tsabit, ‘Amir bin Akwa’ dan Anjasyah radhiyallahu anhu.

Adapun tentang bernasyid, maka Imam Bukhari meriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik, bahwa ketika para sahabat menggali (Khandak) dan Rasulullah melihat para sahabat kecapekan dan kelaparan, maka beliau pun bernasyid/bersyair:
” اللهم لا عيش إلا عيش الآخرة * فاغفر للأنصار والمهاجرة ”
Dan dijawab oleh para sahabat:
نحن الذين بايعوا محمدا * على الجهاد ما بقينا أبدا

Dan para ulama kontemporer seperti Syaikh Bin Baz, Syaikh Muhammad bin sholeh al- Utsaimin, Syaikh Albani, Syaikh Abdullah Al-Jibrin berpendapat bahwa hukum nasyid adalah mubah, dan sebagian dari mereka menganggap Nasyid seperti Sya’ir.

Namun demikian, para ulama kita membolehkan Nasyid dengan beberapa ketentuan:
  1. Konten dari nasyid tersebut tidak menyelelisihi syariat, seperti mengandung kesyirikan atau nyanyian-nyanyian porno atau kekufuran atau ejekan dan olokan.
  2. Tidak diiringi musik/alat musik.
  3. Kontennya dapat membangkitkan semangat, memberikan nasehat-nasehat dan Hikmah-hikmah.(dari komite fatwa Arab Saudi).
  4. Tidak terlalu banyak dalam menikmati Nasyid, sehingga bisa melalaikan tugas dan kewajiban.
  5. Tidak ada background suara yang menyerupai suara musik, meskipun dari suara mulut yang menyerupai alat musik (biasa disebut akapela), syaikh Abdul Aziz At-Tarifi mengatakan:
    ما شابه الباطل فهو باطل
    Sesuatu yang menyerupai kebatilan, maka hukumnya batil (juga).
Wallahu a’lam.

✍ Dijawab Oleh Tim Konsultasi Agama Wahdah Islamiyah

Referensi:
  1. http://www.saaid.net/fatwa/f46.htm
  2. https://islamqa.info/ar/11563

Sumber : http://wahdah.or.id/hukum-nasyid-nyanyian/

Kaidah Nahwu 011 || Berbagai Macam Bentuk Jamak (أَنْوَاع الجَمْع)

3/17/2017 Add Comment
أنواع الجمع | Bentuk Jamak
Macam-Macam Bentuk Jamak

اَلْقَاعِدَةُ
Kaidah :
عَرَفْنَا أَنَّ الْجَمْعَ هُوَ اِسْمٌ يَدُلُّ عَلَى عَدَدٍ أَكْثَرَ مِنَ اثْنَيْنِ، مِثْلُ : أَطِبَّاءُ، أَوْ عَلَى عَدَدٍ أَكْثَرَ مِنَ اثْنَتَيْنِ، مِثْلُ : طَبِيْبَاتٌ؛
Telah kita ketahui bahwasanya jamak itu adalah isim yang menunjukkan atas bilangan lebih dari dua isim mudzakkar, seperti : أَطِبَّاءُ (dokter-dokter [mudzakkar]) atau menunjukkan atas bilangan lebih dari dua isim mu'annats, seperti : طَبِيْبَاتٌ (dokter-dokter [mu'annats]);
وَالْجَمْعُ ثَلاَثَةُ أَنْوَاعٍ: جَمْعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ، وَجَمْعُ مُؤَنَّثٍ سَالِمٌ، وَجَمْعُ تَكْسِيْرٍ.
Jamak ada tiga macam :
  1. Jamak Mudzakkar Salim,
  2. Jamak Mu'annats Salim,
  3. Jamak Taksir
أ- جَمْعُ الْمُذَكَّرِ السَّالِمُ : تُجْمَعُ أَسْمَاءُ الْمُذَكَّرِيْنَ وَصِفَاتُهُمْ جَمْعَ مُذَكَّرٍ سَالِماً بِزِيَادَةِ وَاوٍ وَنُوْنٍ فِي آخِرِ الاسْمِ اَلْمُفْرَدِ، مِثْلُ : مُحَمَّدٌ جَمْعُهُ مُحَمَّدُوْنَ وَمُوَظَّفٌ جَمْعُهُ مُوَظَّفُوْنَ؛ أَوْ بِزِيَادَةِ يَاءٍ مَكْسُوْرٍ مَا قَبْلَهَا وَنُوْنٍ، مِثْلُ : مُحَمَّدِيْنَ وَمُوَظَّفِيْنَ.
A. Jamak Mudzakkar Salim : isim-isim mudzakkar dan sifat-sifatnya dijamakkan dalam bentuk jamak mudzakkar salim dengan tambahan "wau" dan "nun" di belakang isim mufradnya, seperti : مُحَمَّدٌ jamaknya مُحَمَّدُوْنَ dan مُوّظَّفٌ jamaknya مُوَظَّفُوْنَ; atau dengan tambahan "ya" yang dikasrah huruf sebelumnya dan nun, seperti : مُحَمَّدِيْنَ dan وَمُوَظَّفِيْنَ
ب- جَمْعُ الْمُؤَنَّثِ السَّالِمُ :تُجْمَعُ الأسْمَاءُ وَالصِّفَاتُ الْمُؤَنَّثَةُ بِزِيَادَةِ أَلِفٍ وَتَاءٍ مَفْتُوْحَةٍ فِي الاسْمِ الْمُفْرَدِ الْمُؤَنَّثِ، بَعْدَ حَذْفِ تَاءِ التَّأْنِيْثِ الْمَرْبُوْطَةِ، مِثْلُ : اَلطَّبِيْبَةُ جَمْعُهَا اَلطَّبِيْبَاتُ وَوَاقِفَةٌ جَمْعُهَا وَاقِفَاتٌ.
B. Jamak Muannats Salim : isim-isim dan sifat-sifat yang mu'annats dijamak dengan tambahan alif dan ta' mafthuhah pada isim mufrad mu'annats, setelah membuang ta' marbuthah tanda mu'annatsnya, seperti : اَلطَّبِيْبَةُ jamaknya اَلطَّبِيْبَاتُ dan وَاقِفَةٌ jamaknya وَاقِفَاتٌ
ج- جَمْعُ التَّكْسِيْرِ : هَذَا الْجَمْعُ يَأْتِي بِتَغْيِيْرٍ فِي صِيْغَةِ الْمُفْرَدِ، مِثْلُ : رَجُلٌ جَمْعُهُ رِجَالٌ، وَطَبِيْبٌ جَمْعُهُ أَطِبَّاءُ.
C. Jamak Taksir : Jamak ini membuat perubahan pada bentuk isim mufradnya, seperti : رَجُلٌ jamaknya رِجَالٌ dan طَبِيْبٌ jamaknya أَطِبَّاءُ



Sumber : سلسلة تعليم اللغة العربية - المستوى الثاني - النحو - صـ 109

Kosakata Bahasa Arab 0010 || Materi Hafalan Mufradat Berawalan HA Bagi Pemula

3/08/2017 Add Comment
Huruf Arab Latin HA
Huruf HA
Cinta (mashdar)حُبٌّ (مَصْدَر):
<Rasa cintaku terhadap kedua orang tuaku sangat besar><حُبِّي لِوَالِدَيَّ كَثِيْرٌ>
Mencintai, menyukai (kata kerja)أَحَبَّ / يُحِبُّ (فِعْل)
Mencintai, menyukaiأَحَبَّ / يُحِبُّ :
≠ membenci≠ أَبْغَضَ
≠ membenci, tidak menyukai≠ كَرِهَ
<Seorang ibu sangat mencintai anaknya><تُحِبُّ الوَالِدَةُ ابْنَهَا كَثِيْراً>
Pil (untuk obat) (mufrad)حَبَّةٌ (لِلدَّوَاء) (مُفْرَد) :
Pil-pil (jamak)حُبُوْبٌ (جَمَع)
Pil | Obat
Pil - Obat
Taliحَبْلٌ :
Tali
Tali
Hingga, sampai (Huruf jer)حَتَّى (حَرْفُ جّرٍّ) :
<Sulaiman berjalan kaki dari madrasah sampai ke ma'had><مَشَى سُلَيْمَانُ مِنَ المَدْرَسَةِ حَتَّى المَعْهَدِ>
<Saya telah menunggu sampai bus datang><انتَظَرْتُ حَتَّى جَاءَتِ الحَافِلَةُ>
Mendorong, menganjurkanحثَّ / يَحُثُّ :
= Mendorong, menganjurkan <Orang yang beriman menganjurkan kepada orang lain berada diatas kebaikan>= حَضَّ <يَحُثُّ المُؤْمِنُ الآخَرِيْنَ عَلَى الخَيْرِ>
Naik hajiالحَجُّ :
<Naik haji itu di Makkah dan Arafah><الحَجُّ فِي مَكَّةَ وَعَرَفَاتٍ>
Naik haji di Makkah dan Padang Arafah
Padang Arafah
Batu (Batu Hitam)الحَجَرُ (الحَجَرُ الأَسْوَدُ) :
<Saya mencium hajar aswad di ka'bah><قَبَّلْتُ الحَجَرَ الأَسْوَدَ فِي الكَعْبَةِ>
Kamarحُجْرَةٌ :
<Di dalam kamar ada tempat tidur dan kursi><فِي الحُجْرَةِ سَرِيْرٌ وَكُرْسِيٌّ>
Di Kamar ada Ranjang dan Kursi
Kamar | Ranjang | Kursi
Bebatuan (Jamak)حِجَارَةٌ (جمع) :
Batu (mufrad)حَجَرٌ (مفرد)
Ini bebatuanهَذِهِ حِجَارَةٌ
Ini Bebatuan
Ini Bebatuan
Memesan tempat (reservasi/booking)حَجَزَ / يَحْجِزُ :
<Salim memesan satu tempat duduk untuk safar><يَحْجِزُ سَالِمٌ مَقْعَدًا لِلسَّفَرِ>
Pemesanan tempat (reservasi/booking) [Masdar]حَجْزٌ (مصدر) :
Memesan tempat (reservasi/booking) [Kata Kerja]حَجَزَ / يَحْجِزُ (فعل)
Ukuran, Volume (Jamak)أَحْجَامٌ (جمع) :
<Ini berbagai macam ukuran/volume><هَذِهِ أَحْجَامٌ>
Terjadiحَدَثَ / يَحْدُثُ :
(= Terjadi) :(= حَصَلَ)
<Kunjunganku ke Ali terjadi dua hari yang lalu><حَدَثَتْ زِيَارَتِي لِعَلِيٍّ قَبْلَ يَوْمَيْنِ>
Menceritakan, memberitahukanحَدّثَ / يُحَدِّثُ :
<Dia menceritakan kepadanya><حَدَّثَهُ>
Dia berbicara dengannyaتَكَلَّمَ مَعَهُ
Berbicara, berceritaتَحَدَّثَ / يَتَحَدَّثُ :
<Keduanya berbicara><يَتَحَدَّثَانِ>
Haditsالحَدِيْثُ :
<Saya telah membaca satu hadits Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam><قَرَأْتُ حَدِيْثاً لِلرَّسُوْلِ صلى الله عليه وسلم>
Masjidil Haram (Makkah)الحَرَم (المَكِّي) :
Masjidil Haram | Makkah
Masjid al Haram Makkah
Berihram, memasuki tanah suciأَحْرَمَ / يُحْرِمُ :
<Kholid berihram sebelum memasuki Makkah untuk berhaji><أَحْرَمَ خَالِدٌ قَبْلَ دُخُوْلِ مَكَّةَ بِالحَجِّ>
Dia memakai pakaian ihramلَبِسَ مَلاَبِسَ الإِحْرَامِ
Pria-wanita yang memakai pakaian ihram : (pada saat ihram)المُحْرِمُ - المُحْرِمَةُ : (فِي الإِحْرَامِ)
(Yang memakai pakaian ihram)(الَّذِي لَبِسَ مَلاَبِسَ الإِحْرَامِ)
Mengikat, membungkusحَزَمَ / يَحْزِمُ :
<Ismail telah mengikat tas-tasnya dengan tali sebelum safar><حَزَمَ إِسْمَاعِيْلُ حَقَائِبَهُ بِحَبْلٍ قَبْلَ السَّفَرِ>
Menduga, menyangka, mengiraحَسِبَ / يَحْسَبُ :
<Saya kira kamu itu Zaid, wahai kholid><حَسِبْتُ أَنَّكَ زَيْدٌ يَا خَالِد>
Total biaya tagihanحِسَابٌ :
<Penjual : Total tagihanmu 90 real
Ahmad: Silahkan ambil biaya tagihan ini>
<البَقَّال : حِسَابُكَ تِسْعُوْنَ رِيَالاً
أحْمَدُ : خُذِ الحِسَابَ>
Hasud, iri hati, dengkiحَسَدَ / يَحْسُدُ :
<Seorang muslim tidak iri hati kepada orang lain atas apa yang Allah berikan kepada mereka><المُسْلِمُ لا يَحْسُدُ النَّاسَ عَلَى مَا أَعْطَاهُمُ الله>
<Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan pendengki bila ia dengki><أَعُوْذُ بِالله مِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ>
Pria-wanita Yang dengki (sifat)حَاسِدٌ - حَاسِدَةٌ (وصف) :
<Orang yang dengki tidak senang adanya nikmat pada orang lain><الحَاسِدُ لا يُحِبُّ النِّعْمَةَ لِلنَّاسِ>
Hasud, iri hati, dengki (Kata kerja)حَسَدَ / يَحْسُدُ (فعل)
Bagus, baikحَسَناً :
<Ahmad : Saya ingin membeli roti
Sang Ayah : baik,..pergilah!>
<أَحْمَدُ : أُرِيْدُ أَنْ أَشْتَرِيَ خُبْزاً
الوَالِد : حَسَناً .. اذْهَبْ>
Mencapai, memperoleh, mendapatحَصَلَ / يَحْصُلُ (عَلَى) :
= memperoleh= أَخَذَ
<Dia mendapatkan uang> : Dia memperolehnya<حَصَلَ عَلَى النُّقُوْدِ> : أَخَذَهَا
Mencapai, memperoleh, mendapat (Masdar)حُصُوْلٌ (مَصدر):
Mencapai, memperoleh, mendapat (kata kerja)= حَصَلَ / يَحْصُلُ (عَلَى) (فعل)
<Saya tidak mampu membeli sebelum mendapatkan uang><لا أَسْتَطِيْعُ أَنْ أَشْتَرِيَ قَبْلَ حُصُوْلِي عَلَى النُّقُوْدِ >
Hadir, datangحَضَرَ / يَحْضُرُ :
= Datang= جَاءَ
Menyiapkan, menghadirkanأَحْضَرَ / يُحْضِرُ / أَحْضِرْ :
<Pegawai rumah makan itu menyiapkan makanan><أَحْضَرَ عَامِل المَطْعَمِ الطَّعامَ>
Pada waktu sekarang (untuk menunjukkan waktu)الحَاضِرُ (للزَّمَانِ) :
(= sekarang)= (الآنَ)
<Safar itu mudah di zaman sekarang ini><السَّفَرُ سَهْلٌ فِي الوَقْتِ الحَاضِر>
Hadirالحُضُور (مصدر) :
= Datang= قُدُوْمٌ
Hadir, datang (kata kerja)حَضَرَ / يَحْضُرُ (فعل)
Mendorong, menganjurkanحَضَّ / يَحُضُّ :
= Mendorong, menganjurkan <Orang yang beriman menganjurkan kepada orang lain berada diatas kebaikan>= حَثَّ <يَحُضُّ المُؤْمِنُ الآخَرِيْنَ عَلَى الخَيْرِ>
Kayu bakarالحَطَبُ :
<Api membakar kayu bakar><تَأكُلُ النَّرُ الحَطَبَ>
Stasiunمَحَطَّةٌ :
<Bus itu berhenti di stasiun><وَقَفَتِ الحَافِلَة فِي المَحَطَّةِ>
Bus Berhenti di Stasiun
Stasiun
Api yang menyala-nyalaالحُطَمَه :
= nama neraka pada hari kiamat= النَّارُ يَوْمَ القِيِامَة
Menghafalحَفِظَ / يَحْفَظُ :
<Saya telah menghafal surah al Humazah><حَفِظْتُ سُوْرَةَ الهُمَزَةِ>
Tersimpan, terjaga (male-female) (sifat) مَحْفُوْظٌ - مَحْفُوْظَةٌ (وَصف) :
<Ahmad : Mana uangku?
Kholid : Uangmu tersimpan padaku>
<أَحْمَدُ : أَيْنَ نُقُوْدي؟
خَالِد : نُقُودُكَ مَحْفُوظَةٌ مَعِي>
Busحَافِلَة :
Tas Koper (mufrod)حَقِيبَة (مفرد) :
Tas-tas koper (jamak)حَقَائِب (جمع)
Tas Koper
Tas Koper
Sungguh, sesungguhnya, pada hakekatnyaحَقًّا :
<Sungguh, saya sakit pada hari ini><حَقًّا أَنَا مَرِيضٌ اليَومَ>
<Sungguh, Allah itu Esa><الله وَاحِدٌ حَقًّا>
<Sungguh, saya mencintaimu><أَنَا أُحِبُّكَ حَقًّا>
Suntik, Injeksi (mufrod)حُقْنَة (مفرد) :
Suntik, injeksi (jamak)حُقَنٌ (جمع)
Susuحَلِيْبٌ :
Susu
Susu
Mencukurحَلَقَ / يَحْلِقُ:
<Saya telah bertahallul keluar dari ihram, dan lalu mencukur rambut kepalaku><تَحَلَّلْتُ مِنَ الإحْرَامِ فَحَلَقْتُ شَعْرَ رَأسي>
Pemeriksaan, analisis (mufrod) (istilah kedokteran)تَحْلِيْلٌ (مفرد) (الطِّبِّي) :
Pemeriksaan, analisis (jamak)تَحَالِيلُ (جمع)
<Orang ini melakukan pemeriksaan darah><يَقُومُ هّذا الشَّخْصُ بِتَحْلِيلِ الدَّمِ>
Syukur, terima kasih, pujianالحَمْدُ :
= syukur, terima kasih= الشُّكْر
<Segala puji bagi Allah><الحمد لله>
Membawa, memikulحَمَلَ / يَحْمِلُ :
≠ meletakkan≠ وَضَعَ
<Saya akan membawa koper-koperku dan membukanya di bea cukai><سَأحْمِلُ حَقَائبِي وَأفْتَحُهَا عِنْد الجَمارِك>
Pria -wanita kuli angkutحَمَّالٌ - حَمَّالَةٌ :
<Kuli itu membawa tas koper><حَمَلَ الحَمَّال الحَقَائِب>
Kamar mandiحَمَّام :
Tempat Mandi | Pemandian | Bak Mandi | Pemandian Uap | Kolam Renang
Kamar Mandi
panas demam (penyakit)حُمَّى (مَرَضٌ) :
<Dokter itu mengobati pasien dari demam panas><عَالَجَ الطَّبِيبُ المَرِيضَ مِنَ الحُمَّى>
membutuhkan, memerlukanاحتَاجَ / يَحْتَاجُ :
<Orang sakit itu butuh obat><يَحْتَاج المَرِيضُ إلى الدَّواء>
Dindingحَائِطٌ :
<Gambar lukisan itu di dinding><الصًّورَةُ عَلَى الحَائِطِ>
Lukisan Dinding
Lukisan Dinding
Sekitar, sekeliling (keterangan tempat)حَوْلَ (ظرف) :
<Abdul Aziz tawaf sekeliling ka'bah><طَافَ عَبْدُ العَزِيزِ حَوْلَ الكَعْبةِ>
Mencoba, berdaya upaya, berusahaحَاوَلَ / يُحَاوِلُ :
<Saya telah mencoba untuk cepat tidur namun tidak mampu><حَاوَلتُ أَنْ أَنَام مُبَكِّراً ولَكِن لَم أَستَطِع>
Memindah; mengubah; membalikkan; membelokkan; mengirimحَوَّلَ / يُحَوِّلُ :
= mengirim= أَرْسَلَ
<Dokter itu memindahkan pasien ke rumah sakit><حَوَّلَ الطَّبِيبُ المَرِيضَ إلى المسْتَشفَى>
Telah dekat; tiba (waktu)حَانَ / يَحِينُ (للوَقت) :
Waktu telah tiba(جَاء الوَقْتُ)
<Waktu makan telah tiba wahai Ahmad!><حَانَ وَقت الطَّعام يَا أحمد>
Waktu; saat; masa (keterangan waktu)حِيْنَ (ظرف) :
= Waktu= وَقْتَ
Hewanحَيَوَانٌ :
Memberi salam (hormat) (kata kerja)حَيَّا / يُحَيِّي (فعل) :
Salam (masdar)تَحِيَّة (مصدر)
<Semoga Allah memanjangkan umurmu wahai Khalid><حَيَّاكَ الله يَا خَالد>
Salam (masdar)تَحِيَّة (مصدر)
<Salam hormatku><تَحِيَّتِي>
= Salamkuسَلاَمِي

Kaidah Shorof 010 || Timbangan Shorof untuk Kata Kerja (الميزان الصرفي للأفعال)

2/23/2017 Add Comment
القاعدة الأولى : الفعلُ المجرد : هو الفعل الذي ليس فيه أحرف زائدة، كالأفعال المجردة الثلاثية : وَقَفَ وعَلِمَ وقَرُبَ والفعل المجرد الرباعي : طَمْأَنَ
Kaidah yang Pertama : الفعلُ المجرد [Fi'il/Kata kerja murni] adalah الفعل [kata kerja/fi'il] yang tidak terkandung di dalamnya huruf tambahan, seperti :
الأفعال المجردة الثلاثية [Fi'il/Kata Kerja Murni yang Terdiri dari 3 Huruf] :
وَقَفَ [Berdiri/berhenti]
عَلِمَ [Mengetahui]
قَرُبَ [Dekat];

الفعل المجرد الرباعي [Fi'il/Kata Kerja Murni yang Terdiri dari 4 Huruf] : طَمْأَنَ [Menenangkan]

الثانية : الفِعْلُ المَزِيْدُ عَلَى الثُّلاَثِي : هو الفعل الذي فيه أحرف زائدة على الأصل الثلاثي، كالأفعال : قَاتَلَ، اِنْهَزَمَ، أَسْلَمَ، اِنْتَصَرَ
Kedua : الفِعْلُ المَزِيْدُ عَلَى الثُّلاَثِي Adalah fi'il/kata kerja yang terkandung di dalamnya huruf-huruf tambahan selain dari tiga huruf aslinya, seperti fi'il/kata kerja :
قَاتَلَ [Memerangi]
اِنْهَزَمَ [Kalah]
أَسْلَمَ [Masuk Islam; menyerah; menyerahkan]
اِنْتَصَرَ [Menang]

Fi'il Tsulatsi Mujarrad | Fi'il Tsulatsi Mazid
Fi'il Tsulatsi Mujarrad | Fi'il Tsulatsi Mazid

الثالثة : ينقسم الفعل إلى قسمين : مُجَرَّد ومَزِيْد
Ketiga : Fi'il terbagi menjadi dua bagian:
مُجَرَّد [Murni tanpa huruf tambahan]
مَزِيْد [Ada huruf tambahan]

Fi'il Mujarrad | Fi'il Mazid
Fi'il Mujarrad | Fi'il Mazid

الرابعة : تقابل أحرف الفعل الماضي المجرد الثلاثي أحرف "فعل"، وتضبط أحرف الوزن "فعل" بحركات الفعل المجرد الثلاثي
Keempat : Huruf-huruf dari sebuah الفعل الماضي المجرد الثلاثي [fi'il madhi mujarrod tsulatsi/fi'il madhi yang murni terdiri dari tiga huruf tanpa huruf tambahan] berhadapan dalam الوزن [wazan/timbangan] dengan huruf-huruf "فعل" [fa'; 'ain; lam], dan huruf-huruf wazan ini diharakati sesuai dengan harakat fi'il mujarrod tsulatsi tersebut.
أمثلة: وَقَفَ وزنه فَعَلَ، عَلِمَ وزنه فَعِلَ، قَرُبَ وزنه فَعُلَ
Contoh :
وَقَفَ wazannya adalah فَعَلَ
عَلِمَ wazannya adalah فَعِلَ
قَرُبَ wazannya adalah فَعُلَ

Wazan Fi'il Madhi Tsulatsi Mujarrad
Wazan Fi'il Madhi Tsulatsi Mujarrad

وتقابل أحرف الفعل المجرد الرباعي أحرف "فعلل" في الوزن "طَمْأَنَ وزنه فَعَلَلَ"
Huruf-huruf الفعل المجرد الرباعي [Fi'il ruba'i mujarrad/kata kerja yang murni terdiri dari 4 huruf tanpa huruf tambahan] berhadapan dengan huruf-huruf "فعلل" [fa'; 'ain; lam; lam] dalam wazan.
طَمْأَنَ wazannya adalah فَعْلَلَ

الخامسة : تكتب الحروف الزائدة في الوزن كما هي في الفعل الموزون
Kelima: Huruf-huruf tambahan pada wazan ditulis apa adanya persis sebagaimana yang tertulis di fi'il yang ditimbang.
أمثلة: قَاتَلَ وزنه فَاعَلَ، اِنْتَصَرَ وزنه اِفْتَعَلَ
Contoh :
قَاتَلَ wazannya adalah فَاعَلَ
اِنْتَصَرَ wazannya adalah اِفْتَعَلَ

Wazan Fi'il Madhi Tsulatsi Mazid
Wazan Fi'il Madhi Tsulatsi Mazid

السادسة : حروف الزيادة عشرة وهي مجموعة بكلمة "سَأَلْتُمُوْنِيْهَا"
Keenam : Huruf huruf tambahan ada 10, yang terkumpul dalam kata "سَأَلْتُمُوْنِيْهَا"


Sumber : Silsilah Ta'lim al Lughah al Arabiyah level 3 | Ash Shorf | Pelajaran Pertama h. 22-26

Pengumuman Seleksi Penerimaan Guru Kontrak Khusus Pendidikan Al Qur'an [BTQ] Tahun 2017 | Halalkah Gajinya?

2/02/2017 Add Comment
Pengumuman Seleksi Penerimaan Guru Kontrak Khusus Pendidikan Al Qur'an Tahun 2017



س: ما حكم الأجرة على تعليم القرآن الكريم؟
S: Apa hukum upah dari mengajarkan al Qur'an al Karim?

ج: الله سبحانه وتعالى أنزل القرآن الكريم ليعمل به وليتدبر ويتعقل كما قال عز وجل:
J: Allah subhanahu wata'ala menurunkan al Qur'an agar diamalkan, ditadabburi dan dipahami, sebagaimana firman Allah azza wajalla:
{كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ} [ص: 29]
{Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya} [Shaad: 29]

ولم ينزله سبحانه للأكل به، يقرأ ليعطى ويسأل به الناس لا، إنما أنزل للعمل به وتعليمه الناس، والأخذ بما فيه من الأوامر، وترك النواهي، أنزل لهذا الأمر ولهذا قال سبحانه:
Allah subhanahu wata'ala tidak menurunkan al Qur'an untuk cari makan, dengan cara dia membaca al Qur'an lalu diberi dan atau meminta minta kepada orang lain dengan ayat-ayat al Qur'an, tidak bukan itu. Sesungguhnya al Qur'an diturunkan hanya untuk diamalkan dan diajarkan kepada orang lain, mengamalkan kandungannya yang berupa perintah dan meninggalkan segala bentuk larangan. Al Qur'an diturunkan karena perkara yang tekah disebutkan ini, oleh karena itu Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ} [الأنعام: 155]
{Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.} [Al An'am: 155]

وقال:
Allah ta'ala juga berfirman:
{إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ} [الإسراء: 9]
{Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus} [Al Isra': 9]

فهو أنزل ليعمل به ليتعقل ويتدبر ولم ينزل ليؤكل به وتطلب به الدنيا، لكن تعليم الناس القرآن، يحتاج إلى فراغ وإلى تعب وإلى صبر فجاز على الصحيح أن يعطى المعلم ما يعينه على ذلك وليس هذا من التأكل بالقرآن، لكن هذا من الإعانة على تعليم القرآن، فإذا وجد من يعلم القرآن ويحتاج إلى مساعدة فلا بأس أن يعطى من بيت المال أو من أهل المحلة أو من أهل القرية ما يعينه على ذلك حتى يتفرغ وحتى يبذل وسعه في تعليم أبناء البلد، أبناء القرية كتاب ربهم عز وجل، هذا ليس من باب التأكل، ولكن من باب الإعانة على هذا الخير العظيم، حتى يتفرغ للتعليم وحتى يكفى المؤونة، حتى لا يحتاج إلى ضياع بعض الأوقات في طلب الرزق، طلب حاجة بيته وأهله، هذا كله من باب التعاون على البر والتقوى، وكذلك إذا قرأ على المريض يعطى أيضاً، إذا قرأ على المريض ورقاه، فلا بأس أن يعطى، لحديث:
Jadi, Al Qur'an itu diturunkan untuk diamalkan, dipahami dan ditadabburi, bukan diturunkan untuk dipakai cari makan dan mencari dunia. Namun mengajarkan al Qur'an kepada orang lain itu butuh meluangkan waktu, butuh tenaga dan butuh kesabaran, maka menurut pendapat yang shohih boleh saja seorang pengajar diberikan gaji/upah/insentif yang bisa membantunya dalam melaksanakan tugasnya tersebut, dan ini tidak termasuk memakai al Qur'an untuk mencari makan, akan tetapi ini termasuk membantu menyukseskan program pengajaran al Qur'an. Maka apabila didapatkan ada orang yang mengajarkan al Qur'an dan perlu dibantu maka tidak mengapa diberi, baik dari baitulmall, dari masyarakat setempat atau dari warga kampung, diberikan gaji/upah/insentif yang bisa membantunya menunaikan tugasnya tersebut hingga dia fokus meluangkan waktunya dan mengerahkan seluruh potensinya untuk mengajarkan kepada anak-anak di negeranya, anak-anak di kampungnya akan al Qur'an kitab Tuhan mereka. Ini tidak termasuk dalam "bab mencari makan" akan tetapi masuk dalam "bab memberi bantuan" atas terselenggaranya kebaikan yang besar ini, hingga dia bisa konsentrasi meluangkan waktu untuk mengajar, dan tercukupi beban hidupnya hingga tidak perlu menyia-nyiakan sebagian waktunya untuk mencari rezki, mencari kebutuhan rumah tangga dan keluarga. Semua ini termasuk dalam "bab tolong-menolong dan kebaikan dan taqwa". Demikian pula apabila dia membacakan al Qur'an kepada orang yang sakit, dia bisa diberi, apabila membaca al Qur'an untuk orang sakit dan meruqyahnya, maka tidak mengapa dia diberi, berdasarkan hadits:
«إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ»
«Sesungguhnya sesuatu yang paling berhak kalian ambil upah atasnya adalah kitab Allah al Qur'an» [HR. Bukhari]
ولقصة اللديغ الذي قرأ عليه بعض الصحابة، واشترطوا جُعْلاً فأمضاه النبي عليه الصلاة والسلام ، فالحاصل أن إعطاء الراقي، الذي يقرأ على الناس ، الذي يعالج بالقراءة، إعطاء الشيء على هذا الأمر، لا بأس به كما يعطى المعلم، وهذا كله من باب التعاون على ما ينفع الناس، فالمعلم ينفع الناس، بتعليمهم وتوجيههم وإرشادهم والذي يقرأ على المريض كذلك يحتاج إلى مساعدة، حتى يتفرغ لهذا الأمر، ويقرأ على هذا وهذا وهذا، قد جعل الله في كتابه شفاءً لمرض القلوب ومرض الأبدان، وإن كان أنزل في الأصل والأساس لإنقاذ القلوب وتطهيرها من الشرك، والمعاصي وتوجيهها إلى الخير، لكن الله سبحانه وتعالى جعل فيه أيضاً شفاءً لأمراض الأبدان جعل كتابه العظيم شفاءً للقلوب وشفاءً لكثير من أمراض الأبدان، إذا استعمله المؤمن مخلصاً لله عز وجل عالماً أنه سبحانه هو الذي يشفي، وأنه بيده كل شيء سبحانه وتعالى فإذا أعطي المعلم ما يعينه وأعطي الراقي الذي يعالج الناس بالرقية ما يعينه فلا بأس بذلك.
Dan berdasarkan kisah orang yang tersengat, yang sebagian shahabat membacakan al Qur'an padanya, dimana mereka mempersyaratkan agar diberi upah, lalu Nabi alaihissholatu wassalam melegalkan hal tersebut. Sebagai kesimpulan, bahwa orang yang meruqyah yang membacakan al Qur'an kepada orang lain, yang melakukan terapi penyembuhan dengan bacaan al Qur'annya, memberikan sesuatu kepadanya atas apa yang dikerjakannya tersebut tidaklah mengapa sebagaimana gaji yang diberikan kepada seorang guru. Semua ini masuk dalam "bab tolong-menolong atas segala yang bermanfaat bagi manusia". Seorang guru, dia memberikan manfaat kepada orang lain dengan mengajari dan mengarahkan serta membimbing mereka. Dan orang yang membacakan al Qur'an kepada orang yang sakit juga demikian, dia butuh bantuan, hingga bisa meluangkan waktu untuk pekerjaannya tersebut, hingga dia bisa membacakan al Qur'an kepada ini, itu dan yang lainnya. Sungguh Allah ta'ala telah menjadikan dalam kitabNya, obat bagi penyakit hati dan penyakit jasmani, meskipun al Qur'an asalnya dan prinsipnya diturunkan untuk menyelamatkan hati dan membersihkannya dari kesyirikan dan maksiat, serta mengarahkan hati kepada kebaikan, akan tetapi Allah subhanahu wata'ala juga menjadikan di dalamnya obat penyembuh bagi penyakit-penyakit jasmani. Allah ta'ala menjadikan kitab-Nya yang mulia sebagai penyembuh bagi penyakit hati dan penyembuh bagi banyak sekali dari penyakit-penyakit jasmani.
Apabila seorang mu'min mempergunakan al Qur'an dengan penuh keikhlasan hanya karena Allah azza wajalla, dalam keadaan mengetahui bahwasanya Allah subhanahu wata'ala dialah yang memberi kesembuhan dan bahwasanya di tangan-Nyalah segala sesuatu. Apabila seorang pengajar diberi sesuatu yang bisa membantunya demikian pula diberikan kepada peruqyah yang melakukan terapi penyembuhan kepada orang lain dengan ruqyah-nya, diberikan sesuatu yang bisa membantunya maka yang demikian itu tidaklah mengapa.



Sumber: http://www.alifta.net/fatawa/fatawachapters.aspx?languagename=ar&View=Page&PageID=7457&PageNo=1&BookID=5

Perayaan Maulid Hari Lahir Nabi dalam Tinjauan Sejarah dan Hukum Islam

1/21/2017 3 Comments
APAKAH PERLU KITA RAYAKAN ?  Sumber Dari -> http://wahdah.or.id/apakah-perlu-kita-rayakan/ .
APAKAH PERLU KITA RAYAKAN ?

Sesungguhnya kewajiban yang asasi yang wajib diyakini oleh seorang muslim bahwa Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan agama ini dan menyempurnakan nikmat-Nya dengan diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Allah Azza wa Jalla berfirman :
{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا} [المائدة: 3]
Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maaidah :3).

Oleh sebab itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang ummatnya untuk melakukan perkara-perkara baru dalam agama ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
وَإِيـَّاكُمْ وَ مُحْدَثــَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثـــَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلـــَةٌ. رواه أبو داود و ابن ماجه
“Jauhilah perbuatan baru (dalam agama), karena setiap perbuatan yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat” (HSR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Dan kata (Kullu) merupakan salah satu lafadz umum yang mencakup seluruh macam bid’ah tanpa ada pengecualian. Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata “Ikutilah dan janganlah mengada-ngadakan sesuatu hal yang baru karena (syariat ini) telah dicukupkan bagi kalian”.

Dan diantara perkara yang baru adalah Perayaan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Sejarah Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Al Hafidz Ibnu Katsir –rahimahullahu- menyebutkan dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah (11/172) bahwa yang mula-mula mengadakan perayan ini adalah Ubaidillah bin Maimun Al-Qidah Al-Yahudy pemerintah di Mesir pada zaman Daulah Faatimiyah Al-‘Ubaidiyah (357-567 H) yang mengadakan berbagai macam perayaan-perayaan dan diantara perayaan tersebut adalah Peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Jadi yang pertama kali mengadakan perayaan ini dari Az-Zanadiqah Al’Ubaidiyun Ar-Rafidhah, keturunan-keturunan orang Yahudi yaitu Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi, dan tidak mungkin yang melakukan hal tersebut adalah orang yang mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Hukum Perayaan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Dalam Islam

Orang yang mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengan beberapa ‘ibadah yang mana ‘ibadah tersebut tidak ada pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan shahabat maka ‘ibadahnya tertolak dan ia akan menanggung dosa walaupun ia mengikhlaskan diri serta bersungguh-sungguh dalam ‘ibadah tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنــَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ . متفق عليه
“Barangsiapa yang mengada-ngadakan sesuatu dalam urusan (agama) kami, yang tidak diperintahkan atasnya maka hal itu ditolak” (HSR. Bukhari dan Muslim)

Dan melakukan Perayaan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah termasuk perkara yang dilarang dalam Islam, hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :

  1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah melakukannya, begitu pula Khulafaur Raasyidin dan selain mereka dari kalangan shahabat Radhiyallahu ‘Anhum dan orang-orang yang datang setelah mereka dari kalangan Taabi’in dan Atbaa’ut taabi’in. Mereka adalah orang yang lebih mengetahui sunnah dan lebih sempurna kecintaaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan lebih sempurna dalam mengikuti syariat beliau dari pada orang-orang yang datang setelah mereka, dan seandainya peringatan maulid itu hal yang baik maka mereka akan mendahului kita untuk mengamalkan perayaan maulid tersebut.

  1. Peringatan tersebut merupakan perbuatan yang menyerupai orang-orang Nasrani yang memperingati kelahiran Isa Al-Masih ‘Alaihissalam sedangkan kita telah dilarang untuk menyerupai orang-orang Nasrani dan mengikuti peringatan-peringatan hari raya mereka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
مَنْ تــَـشَبــَّـهَ بـــِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ … رواه أبو داود و أحمد
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk didalamnya” (HSR. Abu Daud dan Ahmad)

  1. Mereka menganggap bahwa Allah Azza wa Jalla belum menyempurnakan agama ini untuk hamba-Nya dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam belum menyampaikan sesuatu yang sepantasnya diamalkan oleh ummatnya dan para shahabat belum menyampaikan tentang bagaimana cara mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mencintai serta menghormati Beliau dengan penghormatan yang semestinya, sebagaimana yang dilakukan orang yang datang setelah mereka.

Dan tidaklah diucapkan perkataan ini atau diyakini kecuali oleh orang-orang Zindiiq (perusak agama Allah Azza wa Jalla), sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda :
مَابَعَثَ اللهُ مِنْ نـــَبِيٍّ إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمــَّتـــَهُ عَلَى خَيْرٍ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ . رواه مسلم
“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, melainkan diwajibkan baginya agar menunjukkan kepada ummatnya jalan kebaikan yang diketahuinya kepada mereka” (HSR. Muslim)

Seandainya upacara peringatan maulid itu betul-betul datang dari agama yang diridhai Allah Azza wa Jalla, niscaya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menerangkan kepada ummatnya atau beliau menjalankan semasa hidupnya atau paling tidak dikerjakan oleh para shahabat Radhiayallahu ‘Anhum. Hudzaifah bin Yaman Radhiayallahu ‘Anhu berkata : “Setiap ‘ibadah yang tidak dilakukan oleh shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka janganlah kalian melakukannya”

Imam Malik –rahimahullahu- pernah berkata: “Barangsiapa yang melakukan bid’ah dalam Islam dan menganggapnya sebagai bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Maka sungguh ia telah menyangka bahwa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berbuat khianat dalam penyampaian risalah (tidak menyampaikan semua risalah)

  1. Menghidupkan malam perayaan tersebut bukan berarti menunjukkan rasa kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, berapa banyak orang yang menghidupkan perayaan ini mereka adalah orang-orang yang jauh dari petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, menganggap remeh shalat dan mereka dikenal sebagai pelaku ma’shiat, dosa dan lain-lain.

Kecintaan yang sebenarnya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah yang sebagaimana yang Allah Azza wa Jalla kehendaki dalam firman-Nya :
{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ} [آل عمران: 31]
“Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mengasihimu….” (QS. Ali Imran : 32)

Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
كُلُّكُمْ يــَدْخُلُ الْجَنـَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبــَى . قَالُوْا وَمَنْ َيأْبَى يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : . مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنــَّةَ وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبـــَى . رواه البخاري
“Setiap kalian akan masuk syurga kecuali yang enggan!” mereka (shahabat) bertanya :”Siapa yang enggan wahai Rasulullah ?” beliau bersabda :”Siapa yang taat kepadaku akan masuk Syurga dan siapa yang berbuat ma’shiat kepadaku maka ia adalah orang yang enggan (HSR. Bukhari).

Jadi, kecintaan yang sebenarnya terhadap beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan cara mengikuti beliau dengan berpegang teguh (konsekuen) kepada petunjuknya baik yang nampak maupun yang tidak tampak dan mengikuti jalannya, dan menjadikannya sebagai tauladan baik dalam ucapan maupun perbuatan serta kelakuan dan akhlaq beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

  1. Bersamaan dengan ini banyak ‘ulama-‘ulama yang datang belakangan telah menyebutkan kerusakan-kerusakan yang besar dan kemungkaran-kemungkaran yang buruk yang terjadi disebabkan karena perayaan seperti ini, bahkan orang yang ikut dalam perayaan tersebut mengakui akan kerusakan dan kemungkaran tersebut.

Diantaranya adanya ucapan yang menjurus kepada kesyirikan dan mengagung-agungkan secara berlebih lebihan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan adanya campur baur antara laki-laki dan wanita (bukan mahram), pemakaian lagu-lagu dan bunyi-bunyian, minum-minuman yang memabukkan dll. Kemungkaran-kemungkaran ini sulit untuk dibatasi karena satu daerah dengan daerah yang lain memiliki bidah-bidah tersendiri, bahkan sebagian mereka ada yang sampai mengkafirkan siapa yang meninggalkan perayaan maulid tersebut –Naudzu billahi min dzalik-

  1. Sesungguhnya hari kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merupakan hari wafat beliau juga yaitu pada 12 Rabiul Awwal, lalu mereka bergembira pada hari tersebut –Wallahu musta’an-

Setelah menyimak penjelasan diatas maka tidak ada ucapan yang pantas untuk diucapkan kecuali ucapan : “Janganlah engkau merayakan nya!!!” kita memohon taufiq dan kebenaran kepada Allah Azza wa Jalla.

Semoga kesejahteraan dan keselamatan dilimpahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarganya dan shahabat-shabatnya
-Muhammad Anas Syukur-

Maraji’: Lembar Da’wah “Hal Nahtafil” terbitan Al Maktab At Ta’awuny Lid Da’wah wal Irsyad -Jeddah- (Al Fikrah Tahun 1 Edisi 10)

Sumber Dari -> http://wahdah.or.id/apakah-perlu-kita-rayakan/