Kaidah Shorof 010 || Timbangan Shorof untuk Kata Kerja (الميزان الصرفي للأفعال)

2/23/2017 Add Comment
القاعدة الأولى : الفعلُ المجرد : هو الفعل الذي ليس فيه أحرف زائدة، كالأفعال المجردة الثلاثية : وَقَفَ وعَلِمَ وقَرُبَ والفعل المجرد الرباعي : طَمْأَنَ
Kaidah yang Pertama : الفعلُ المجرد [Fi'il/Kata kerja murni] adalah الفعل [kata kerja/fi'il] yang tidak terkandung di dalamnya huruf tambahan, seperti :
الأفعال المجردة الثلاثية [Fi'il/Kata Kerja Murni yang Terdiri dari 3 Huruf] :
وَقَفَ [Berdiri/berhenti]
عَلِمَ [Mengetahui]
قَرُبَ [Dekat];

الفعل المجرد الرباعي [Fi'il/Kata Kerja Murni yang Terdiri dari 4 Huruf] : طَمْأَنَ [Menenangkan]

الثانية : الفِعْلُ المَزِيْدُ عَلَى الثُّلاَثِي : هو الفعل الذي فيه أحرف زائدة على الأصل الثلاثي، كالأفعال : قَاتَلَ، اِنْهَزَمَ، أَسْلَمَ، اِنْتَصَرَ
Kedua : الفِعْلُ المَزِيْدُ عَلَى الثُّلاَثِي Adalah fi'il/kata kerja yang terkandung di dalamnya huruf-huruf tambahan selain dari tiga huruf aslinya, seperti fi'il/kata kerja :
قَاتَلَ [Memerangi]
اِنْهَزَمَ [Kalah]
أَسْلَمَ [Masuk Islam; menyerah; menyerahkan]
اِنْتَصَرَ [Menang]

Fi'il Tsulatsi Mujarrad | Fi'il Tsulatsi Mazid
Fi'il Tsulatsi Mujarrad | Fi'il Tsulatsi Mazid

الثالثة : ينقسم الفعل إلى قسمين : مُجَرَّد ومَزِيْد
Ketiga : Fi'il terbagi menjadi dua bagian:
مُجَرَّد [Murni tanpa huruf tambahan]
مَزِيْد [Ada huruf tambahan]

Fi'il Mujarrad | Fi'il Mazid
Fi'il Mujarrad | Fi'il Mazid

الرابعة : تقابل أحرف الفعل الماضي المجرد الثلاثي أحرف "فعل"، وتضبط أحرف الوزن "فعل" بحركات الفعل المجرد الثلاثي
Keempat : Huruf-huruf dari sebuah الفعل الماضي المجرد الثلاثي [fi'il madhi mujarrod tsulatsi/fi'il madhi yang murni terdiri dari tiga huruf tanpa huruf tambahan] berhadapan dalam الوزن [wazan/timbangan] dengan huruf-huruf "فعل" [fa'; 'ain; lam], dan huruf-huruf wazan ini diharakati sesuai dengan harakat fi'il mujarrod tsulatsi tersebut.
أمثلة: وَقَفَ وزنه فَعَلَ، عَلِمَ وزنه فَعِلَ، قَرُبَ وزنه فَعُلَ
Contoh :
وَقَفَ wazannya adalah فَعَلَ
عَلِمَ wazannya adalah فَعِلَ
قَرُبَ wazannya adalah فَعُلَ

Wazan Fi'il Madhi Tsulatsi Mujarrad
Wazan Fi'il Madhi Tsulatsi Mujarrad

وتقابل أحرف الفعل المجرد الرباعي أحرف "فعلل" في الوزن "طَمْأَنَ وزنه فَعَلَلَ"
Huruf-huruf الفعل المجرد الرباعي [Fi'il ruba'i mujarrad/kata kerja yang murni terdiri dari 4 huruf tanpa huruf tambahan] berhadapan dengan huruf-huruf "فعلل" [fa'; 'ain; lam; lam] dalam wazan.
طَمْأَنَ wazannya adalah فَعْلَلَ

الخامسة : تكتب الحروف الزائدة في الوزن كما هي في الفعل الموزون
Kelima: Huruf-huruf tambahan pada wazan ditulis apa adanya persis sebagaimana yang tertulis di fi'il yang ditimbang.
أمثلة: قَاتَلَ وزنه فَاعَلَ، اِنْتَصَرَ وزنه اِفْتَعَلَ
Contoh :
قَاتَلَ wazannya adalah فَاعَلَ
اِنْتَصَرَ wazannya adalah اِفْتَعَلَ

Wazan Fi'il Madhi Tsulatsi Mazid
Wazan Fi'il Madhi Tsulatsi Mazid

السادسة : حروف الزيادة عشرة وهي مجموعة بكلمة "سَأَلْتُمُوْنِيْهَا"
Keenam : Huruf huruf tambahan ada 10, yang terkumpul dalam kata "سَأَلْتُمُوْنِيْهَا"


Sumber : Silsilah Ta'lim al Lughah al Arabiyah level 3 | Ash Shorf | Pelajaran Pertama h. 22-26

Pengumuman Seleksi Penerimaan Guru Kontrak Khusus Pendidikan Al Qur'an [BTQ] Tahun 2017 | Halalkah Gajinya?

2/02/2017 Add Comment
Pengumuman Seleksi Penerimaan Guru Kontrak Khusus Pendidikan Al Qur'an Tahun 2017



س: ما حكم الأجرة على تعليم القرآن الكريم؟
S: Apa hukum upah dari mengajarkan al Qur'an al Karim?

ج: الله سبحانه وتعالى أنزل القرآن الكريم ليعمل به وليتدبر ويتعقل كما قال عز وجل:
J: Allah subhanahu wata'ala menurunkan al Qur'an agar diamalkan, ditadabburi dan dipahami, sebagaimana firman Allah azza wajalla:
{كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ} [ص: 29]
{Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya} [Shaad: 29]

ولم ينزله سبحانه للأكل به، يقرأ ليعطى ويسأل به الناس لا، إنما أنزل للعمل به وتعليمه الناس، والأخذ بما فيه من الأوامر، وترك النواهي، أنزل لهذا الأمر ولهذا قال سبحانه:
Allah subhanahu wata'ala tidak menurunkan al Qur'an untuk cari makan, dengan cara dia membaca al Qur'an lalu diberi dan atau meminta minta kepada orang lain dengan ayat-ayat al Qur'an, tidak bukan itu. Sesungguhnya al Qur'an diturunkan hanya untuk diamalkan dan diajarkan kepada orang lain, mengamalkan kandungannya yang berupa perintah dan meninggalkan segala bentuk larangan. Al Qur'an diturunkan karena perkara yang tekah disebutkan ini, oleh karena itu Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ} [الأنعام: 155]
{Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.} [Al An'am: 155]

وقال:
Allah ta'ala juga berfirman:
{إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ} [الإسراء: 9]
{Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus} [Al Isra': 9]

فهو أنزل ليعمل به ليتعقل ويتدبر ولم ينزل ليؤكل به وتطلب به الدنيا، لكن تعليم الناس القرآن، يحتاج إلى فراغ وإلى تعب وإلى صبر فجاز على الصحيح أن يعطى المعلم ما يعينه على ذلك وليس هذا من التأكل بالقرآن، لكن هذا من الإعانة على تعليم القرآن، فإذا وجد من يعلم القرآن ويحتاج إلى مساعدة فلا بأس أن يعطى من بيت المال أو من أهل المحلة أو من أهل القرية ما يعينه على ذلك حتى يتفرغ وحتى يبذل وسعه في تعليم أبناء البلد، أبناء القرية كتاب ربهم عز وجل، هذا ليس من باب التأكل، ولكن من باب الإعانة على هذا الخير العظيم، حتى يتفرغ للتعليم وحتى يكفى المؤونة، حتى لا يحتاج إلى ضياع بعض الأوقات في طلب الرزق، طلب حاجة بيته وأهله، هذا كله من باب التعاون على البر والتقوى، وكذلك إذا قرأ على المريض يعطى أيضاً، إذا قرأ على المريض ورقاه، فلا بأس أن يعطى، لحديث:
Jadi, Al Qur'an itu diturunkan untuk diamalkan, dipahami dan ditadabburi, bukan diturunkan untuk dipakai cari makan dan mencari dunia. Namun mengajarkan al Qur'an kepada orang lain itu butuh meluangkan waktu, butuh tenaga dan butuh kesabaran, maka menurut pendapat yang shohih boleh saja seorang pengajar diberikan gaji/upah/insentif yang bisa membantunya dalam melaksanakan tugasnya tersebut, dan ini tidak termasuk memakai al Qur'an untuk mencari makan, akan tetapi ini termasuk membantu menyukseskan program pengajaran al Qur'an. Maka apabila didapatkan ada orang yang mengajarkan al Qur'an dan perlu dibantu maka tidak mengapa diberi, baik dari baitulmall, dari masyarakat setempat atau dari warga kampung, diberikan gaji/upah/insentif yang bisa membantunya menunaikan tugasnya tersebut hingga dia fokus meluangkan waktunya dan mengerahkan seluruh potensinya untuk mengajarkan kepada anak-anak di negeranya, anak-anak di kampungnya akan al Qur'an kitab Tuhan mereka. Ini tidak termasuk dalam "bab mencari makan" akan tetapi masuk dalam "bab memberi bantuan" atas terselenggaranya kebaikan yang besar ini, hingga dia bisa konsentrasi meluangkan waktu untuk mengajar, dan tercukupi beban hidupnya hingga tidak perlu menyia-nyiakan sebagian waktunya untuk mencari rezki, mencari kebutuhan rumah tangga dan keluarga. Semua ini termasuk dalam "bab tolong-menolong dan kebaikan dan taqwa". Demikian pula apabila dia membacakan al Qur'an kepada orang yang sakit, dia bisa diberi, apabila membaca al Qur'an untuk orang sakit dan meruqyahnya, maka tidak mengapa dia diberi, berdasarkan hadits:
«إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ»
«Sesungguhnya sesuatu yang paling berhak kalian ambil upah atasnya adalah kitab Allah al Qur'an» [HR. Bukhari]
ولقصة اللديغ الذي قرأ عليه بعض الصحابة، واشترطوا جُعْلاً فأمضاه النبي عليه الصلاة والسلام ، فالحاصل أن إعطاء الراقي، الذي يقرأ على الناس ، الذي يعالج بالقراءة، إعطاء الشيء على هذا الأمر، لا بأس به كما يعطى المعلم، وهذا كله من باب التعاون على ما ينفع الناس، فالمعلم ينفع الناس، بتعليمهم وتوجيههم وإرشادهم والذي يقرأ على المريض كذلك يحتاج إلى مساعدة، حتى يتفرغ لهذا الأمر، ويقرأ على هذا وهذا وهذا، قد جعل الله في كتابه شفاءً لمرض القلوب ومرض الأبدان، وإن كان أنزل في الأصل والأساس لإنقاذ القلوب وتطهيرها من الشرك، والمعاصي وتوجيهها إلى الخير، لكن الله سبحانه وتعالى جعل فيه أيضاً شفاءً لأمراض الأبدان جعل كتابه العظيم شفاءً للقلوب وشفاءً لكثير من أمراض الأبدان، إذا استعمله المؤمن مخلصاً لله عز وجل عالماً أنه سبحانه هو الذي يشفي، وأنه بيده كل شيء سبحانه وتعالى فإذا أعطي المعلم ما يعينه وأعطي الراقي الذي يعالج الناس بالرقية ما يعينه فلا بأس بذلك.
Dan berdasarkan kisah orang yang tersengat, yang sebagian shahabat membacakan al Qur'an padanya, dimana mereka mempersyaratkan agar diberi upah, lalu Nabi alaihissholatu wassalam melegalkan hal tersebut. Sebagai kesimpulan, bahwa orang yang meruqyah yang membacakan al Qur'an kepada orang lain, yang melakukan terapi penyembuhan dengan bacaan al Qur'annya, memberikan sesuatu kepadanya atas apa yang dikerjakannya tersebut tidaklah mengapa sebagaimana gaji yang diberikan kepada seorang guru. Semua ini masuk dalam "bab tolong-menolong atas segala yang bermanfaat bagi manusia". Seorang guru, dia memberikan manfaat kepada orang lain dengan mengajari dan mengarahkan serta membimbing mereka. Dan orang yang membacakan al Qur'an kepada orang yang sakit juga demikian, dia butuh bantuan, hingga bisa meluangkan waktu untuk pekerjaannya tersebut, hingga dia bisa membacakan al Qur'an kepada ini, itu dan yang lainnya. Sungguh Allah ta'ala telah menjadikan dalam kitabNya, obat bagi penyakit hati dan penyakit jasmani, meskipun al Qur'an asalnya dan prinsipnya diturunkan untuk menyelamatkan hati dan membersihkannya dari kesyirikan dan maksiat, serta mengarahkan hati kepada kebaikan, akan tetapi Allah subhanahu wata'ala juga menjadikan di dalamnya obat penyembuh bagi penyakit-penyakit jasmani. Allah ta'ala menjadikan kitab-Nya yang mulia sebagai penyembuh bagi penyakit hati dan penyembuh bagi banyak sekali dari penyakit-penyakit jasmani.
Apabila seorang mu'min mempergunakan al Qur'an dengan penuh keikhlasan hanya karena Allah azza wajalla, dalam keadaan mengetahui bahwasanya Allah subhanahu wata'ala dialah yang memberi kesembuhan dan bahwasanya di tangan-Nyalah segala sesuatu. Apabila seorang pengajar diberi sesuatu yang bisa membantunya demikian pula diberikan kepada peruqyah yang melakukan terapi penyembuhan kepada orang lain dengan ruqyah-nya, diberikan sesuatu yang bisa membantunya maka yang demikian itu tidaklah mengapa.



Sumber: http://www.alifta.net/fatawa/fatawachapters.aspx?languagename=ar&View=Page&PageID=7457&PageNo=1&BookID=5

Perayaan Maulid Hari Lahir Nabi dalam Tinjauan Sejarah dan Hukum Islam

1/21/2017 3 Comments
APAKAH PERLU KITA RAYAKAN ?  Sumber Dari -> http://wahdah.or.id/apakah-perlu-kita-rayakan/ .
APAKAH PERLU KITA RAYAKAN ?

Sesungguhnya kewajiban yang asasi yang wajib diyakini oleh seorang muslim bahwa Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan agama ini dan menyempurnakan nikmat-Nya dengan diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Allah Azza wa Jalla berfirman :
{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا} [المائدة: 3]
Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maaidah :3).

Oleh sebab itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang ummatnya untuk melakukan perkara-perkara baru dalam agama ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
وَإِيـَّاكُمْ وَ مُحْدَثــَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثـــَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلـــَةٌ. رواه أبو داود و ابن ماجه
“Jauhilah perbuatan baru (dalam agama), karena setiap perbuatan yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat” (HSR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Dan kata (Kullu) merupakan salah satu lafadz umum yang mencakup seluruh macam bid’ah tanpa ada pengecualian. Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata “Ikutilah dan janganlah mengada-ngadakan sesuatu hal yang baru karena (syariat ini) telah dicukupkan bagi kalian”.

Dan diantara perkara yang baru adalah Perayaan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Sejarah Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Al Hafidz Ibnu Katsir –rahimahullahu- menyebutkan dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah (11/172) bahwa yang mula-mula mengadakan perayan ini adalah Ubaidillah bin Maimun Al-Qidah Al-Yahudy pemerintah di Mesir pada zaman Daulah Faatimiyah Al-‘Ubaidiyah (357-567 H) yang mengadakan berbagai macam perayaan-perayaan dan diantara perayaan tersebut adalah Peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Jadi yang pertama kali mengadakan perayaan ini dari Az-Zanadiqah Al’Ubaidiyun Ar-Rafidhah, keturunan-keturunan orang Yahudi yaitu Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi, dan tidak mungkin yang melakukan hal tersebut adalah orang yang mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Hukum Perayaan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Dalam Islam

Orang yang mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengan beberapa ‘ibadah yang mana ‘ibadah tersebut tidak ada pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan shahabat maka ‘ibadahnya tertolak dan ia akan menanggung dosa walaupun ia mengikhlaskan diri serta bersungguh-sungguh dalam ‘ibadah tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنــَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ . متفق عليه
“Barangsiapa yang mengada-ngadakan sesuatu dalam urusan (agama) kami, yang tidak diperintahkan atasnya maka hal itu ditolak” (HSR. Bukhari dan Muslim)

Dan melakukan Perayaan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah termasuk perkara yang dilarang dalam Islam, hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :

  1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah melakukannya, begitu pula Khulafaur Raasyidin dan selain mereka dari kalangan shahabat Radhiyallahu ‘Anhum dan orang-orang yang datang setelah mereka dari kalangan Taabi’in dan Atbaa’ut taabi’in. Mereka adalah orang yang lebih mengetahui sunnah dan lebih sempurna kecintaaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan lebih sempurna dalam mengikuti syariat beliau dari pada orang-orang yang datang setelah mereka, dan seandainya peringatan maulid itu hal yang baik maka mereka akan mendahului kita untuk mengamalkan perayaan maulid tersebut.

  1. Peringatan tersebut merupakan perbuatan yang menyerupai orang-orang Nasrani yang memperingati kelahiran Isa Al-Masih ‘Alaihissalam sedangkan kita telah dilarang untuk menyerupai orang-orang Nasrani dan mengikuti peringatan-peringatan hari raya mereka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
مَنْ تــَـشَبــَّـهَ بـــِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ … رواه أبو داود و أحمد
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk didalamnya” (HSR. Abu Daud dan Ahmad)

  1. Mereka menganggap bahwa Allah Azza wa Jalla belum menyempurnakan agama ini untuk hamba-Nya dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam belum menyampaikan sesuatu yang sepantasnya diamalkan oleh ummatnya dan para shahabat belum menyampaikan tentang bagaimana cara mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mencintai serta menghormati Beliau dengan penghormatan yang semestinya, sebagaimana yang dilakukan orang yang datang setelah mereka.

Dan tidaklah diucapkan perkataan ini atau diyakini kecuali oleh orang-orang Zindiiq (perusak agama Allah Azza wa Jalla), sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda :
مَابَعَثَ اللهُ مِنْ نـــَبِيٍّ إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمــَّتـــَهُ عَلَى خَيْرٍ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ . رواه مسلم
“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, melainkan diwajibkan baginya agar menunjukkan kepada ummatnya jalan kebaikan yang diketahuinya kepada mereka” (HSR. Muslim)

Seandainya upacara peringatan maulid itu betul-betul datang dari agama yang diridhai Allah Azza wa Jalla, niscaya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menerangkan kepada ummatnya atau beliau menjalankan semasa hidupnya atau paling tidak dikerjakan oleh para shahabat Radhiayallahu ‘Anhum. Hudzaifah bin Yaman Radhiayallahu ‘Anhu berkata : “Setiap ‘ibadah yang tidak dilakukan oleh shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka janganlah kalian melakukannya”

Imam Malik –rahimahullahu- pernah berkata: “Barangsiapa yang melakukan bid’ah dalam Islam dan menganggapnya sebagai bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Maka sungguh ia telah menyangka bahwa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berbuat khianat dalam penyampaian risalah (tidak menyampaikan semua risalah)

  1. Menghidupkan malam perayaan tersebut bukan berarti menunjukkan rasa kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, berapa banyak orang yang menghidupkan perayaan ini mereka adalah orang-orang yang jauh dari petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, menganggap remeh shalat dan mereka dikenal sebagai pelaku ma’shiat, dosa dan lain-lain.

Kecintaan yang sebenarnya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah yang sebagaimana yang Allah Azza wa Jalla kehendaki dalam firman-Nya :
{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ} [آل عمران: 31]
“Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mengasihimu….” (QS. Ali Imran : 32)

Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
كُلُّكُمْ يــَدْخُلُ الْجَنـَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبــَى . قَالُوْا وَمَنْ َيأْبَى يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : . مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنــَّةَ وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبـــَى . رواه البخاري
“Setiap kalian akan masuk syurga kecuali yang enggan!” mereka (shahabat) bertanya :”Siapa yang enggan wahai Rasulullah ?” beliau bersabda :”Siapa yang taat kepadaku akan masuk Syurga dan siapa yang berbuat ma’shiat kepadaku maka ia adalah orang yang enggan (HSR. Bukhari).

Jadi, kecintaan yang sebenarnya terhadap beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan cara mengikuti beliau dengan berpegang teguh (konsekuen) kepada petunjuknya baik yang nampak maupun yang tidak tampak dan mengikuti jalannya, dan menjadikannya sebagai tauladan baik dalam ucapan maupun perbuatan serta kelakuan dan akhlaq beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

  1. Bersamaan dengan ini banyak ‘ulama-‘ulama yang datang belakangan telah menyebutkan kerusakan-kerusakan yang besar dan kemungkaran-kemungkaran yang buruk yang terjadi disebabkan karena perayaan seperti ini, bahkan orang yang ikut dalam perayaan tersebut mengakui akan kerusakan dan kemungkaran tersebut.

Diantaranya adanya ucapan yang menjurus kepada kesyirikan dan mengagung-agungkan secara berlebih lebihan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan adanya campur baur antara laki-laki dan wanita (bukan mahram), pemakaian lagu-lagu dan bunyi-bunyian, minum-minuman yang memabukkan dll. Kemungkaran-kemungkaran ini sulit untuk dibatasi karena satu daerah dengan daerah yang lain memiliki bidah-bidah tersendiri, bahkan sebagian mereka ada yang sampai mengkafirkan siapa yang meninggalkan perayaan maulid tersebut –Naudzu billahi min dzalik-

  1. Sesungguhnya hari kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merupakan hari wafat beliau juga yaitu pada 12 Rabiul Awwal, lalu mereka bergembira pada hari tersebut –Wallahu musta’an-

Setelah menyimak penjelasan diatas maka tidak ada ucapan yang pantas untuk diucapkan kecuali ucapan : “Janganlah engkau merayakan nya!!!” kita memohon taufiq dan kebenaran kepada Allah Azza wa Jalla.

Semoga kesejahteraan dan keselamatan dilimpahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarganya dan shahabat-shabatnya
-Muhammad Anas Syukur-

Maraji’: Lembar Da’wah “Hal Nahtafil” terbitan Al Maktab At Ta’awuny Lid Da’wah wal Irsyad -Jeddah- (Al Fikrah Tahun 1 Edisi 10)

Sumber Dari -> http://wahdah.or.id/apakah-perlu-kita-rayakan/

Link Download E-Book Pdf & Audio Kajian Kitab al Fiqh al Muyassar Fie Dhou'il Kitab was Sunnah [1]

1/06/2017 Add Comment
Kajian Kitab Setiap Malam Selasa Masjid Baiturrahman kemenag Selayar
Link Download Gratis E-Book Kitab Fiqih Muyassar versi Bahasa Arab dalam bentuk Pdf. :

Kitab al Fiqih al Muyassar fi Dhou'il Kitabi wa Sunnah (Muqaddimah)
Kitab al Fiqhu al Muyassar fi Dhou'il Kitabi wa Sunnah (Kitab Thaharah)

Link DOWNLOAD MP3 ceramah kajian kitab Fiqih Muyassar oleh Ustadz Askari bin Jamal hafizhahullah :

MUQADDIMAH
1.hal Nun-Metode Pembelajaran Kitab 
2.hal 'Ain-Pembukaan
3.hal Fa-Buah Mengetahui Ilmu Fiqih

KITAB ATH THAHARAH
BAB 1 : HUKUM SEPUTAR BERSUCI (THAHARAH) DAN AIR
hal 01-M1a.Makna Thaharah, Pentingnya dan Pembagiannya
hal 01-M1b.Makna Thaharah Secara Istilah
hal 02-M2.Air yang Digunakan untuk Bersuci 
hal 02-M3.Air Apabila Bercampur dengan Najis
hal 03-M4.Air Apabila Bercampur dengan Sesuatu yang Suci
hal 04-M5.Hukum Air Musta'mal (yang Telah Digunakan) untuk Bersuci
hal 04-M6a.Bekas Air Minum atau Liur Manusia atau Hewan Ternak
hal 04-M6b.Bekas Air Minum atau Liur Hewan yang Tidak Dimakan
hal 05-M6c.Bekas Air Minum atau Liur Anjing dan Babi

BAB 2 : BEJANA
hal 06-M1.Menggunakan Bejana Emas, Perak, atau Selain Keduanya untuk Bersuci 
hal 06-M2.Hukum Menggunakan Bejana yang Disambung dengan Emas atau Perak
hal 07-M3.Hukum Bejana Milik Orang Kafir
hal 07-M4.Sucinya Bejana yang Terbuat dari Kulit Bangkai
hal 08-M4.Kulit Bangkai yang Boleh dan Tidak Boleh Digunakan

BAB 3 : ADAB BUANG HAJAT
hal 09-M1a.Istinja dan Istijmar
hal 09-M1b.Istijmar
hal 09-M2.Hukum Menghadap atau Membelakangi Qiblat Saat Buang Hajat
hal 10-M2.Lanjutan Hukum Menghadap atau Membelakangi Qiblat Saat Buang Hajat
hal 10-M3.Apa yg Disunnahkan Saat Masuk ke Toilet
hal 11-M4a.Larangan Buang Air Kecil di Air Tergenang
hal 11-M4b.Larangan Buang Hajat di Jalan, Tempat Berteduh, dan sebagainya
hal 12-M5a.Apa yang Makruh Dilakukan oleh Orang yang Buang Hajat
hal 12-M5b.Makruh Buang Air Kecil di Lubang dan Semisalnya

BAB 4 : BERSIWAK DAN SUNNAH - SUNNAH FITRAH
hal 13-M1.Hukum Bersiwak
hal 13-M2.Waktu Dianjurkan Bersiwak
hal 14-M3.Yang Digunakan untuk Bersiwak
hal 14-M4.Manfaat Bersiwak
hal 14-M5.Sunnah - sunnah Fitrah
hal 15-M5.Mencukur Kumis dan Membiarkan Jenggot
hal 16a-M5.Memotong Kuku
hal 16b-M5.5 Sunnah Fitrah Lainnya

BAB 5 : WUDHU
hal 17-M1.Definisi Wudhu dan Hukum Berwudhu
hal 17-M2.Dalil Wajibnya Berwudhu, Siapa yang Diwajibkan Berwudhu, dan Kapan Diwajibkan Berwudhu
hal 18-M3.Syarat - syarat Berwudhu
hal 18-M3b.Lanjutan Syarat -syarat Berwudhu
hal 18-M4.Lanjutan Rukun - rukun Wudhu
hal 19-M5a.Sunnah-sunnah dalam Berwudhu
hal 19-M5b.Lanjutan Sunnah - sunnah dalam Berwudhu
hal 20-M5c.Lanjutan Sunnah - sunnah dalam Berwudhu
hal 21-M6a.Pembatal - pembatal Wudhu
hal 21-M6b.Lanjutan Pembatal - pembatal Wudhu
hal 22-M6c.Lanjutan Pembatal - pembatal Wudhu
hal 22-M6d.Lanjutan Pembatal - pembatal Wudhu (Makan Daging Onta)
hal 22-M7.Kapan Seseorang Diwajibkan Berwudhu
hal 23-M8.Kapan Seseorang Dianjurkan Berwudhu

BAB 6 : MENGUSAP KHUF, IMAMAH, DAN PERBAN
hal 24-M1a.Hukum Mengusap Khuf dan Dalilnya
hal 24-M1b.Bolehnya Mengusap Kaos Kaki
hal 25-M2a.Syarat - syarat Dibolehkannya Mengusap Khuf dan yang Semisalnya
hal 25-M2b.Lanjutan Syarat - syarat Dibolehkannya Mengusap Khuf dan yang Semisalnya
hal 25-M3.Tata Cara Mengusap Khuf dan Sifatnya
hal 26-M4.Batasan Waktu Dibolehkannya Mengusap Khuf
hal 26-M5.Pembatal - pembatal Mengusap Khuf
hal 26-M6.Awal Hitungan Waktu Mengusap Khuf
hal 27-M7a.Mengusap Jabirah, Perban, dan Semisalnya
hal 27-M7b.Lanjutan Mengusap Jabirah, Perban, dan Semisalnya
hal 27-M7c.Mengusap Imamah, Sorban, dan Kerudung Wanita

BAB 7 : HUKUM HUKUM SEPUTAR MANDI JUNUB
hal 28-M1a.Makna Mandi Junub, Hukum, dan Dalilnya
hal 28-M1b.Perkara - perkara yang Mewajibkan untuk Mandi
hal 29-M1c.Perkara - perkara yang Mewajibkan untuk Mandi
hal 29-M2.Sifat dan Tata Cara Mandi Junub
hal 29-M2b.Hukum Memakai Handuk Setelah Mandi
hal 30-M2c.Hukum Wanita Menguraikan Rambutnya saat Mandi Haidh
hal 30-M3a.Mandi - mandi yang Disunnahkan
hal 30-M3b.Mandi - mandi yang Disunnahkan
hal 30-M4a.Hukum - hukum atas Orang yang dalam Keadaan Junub atau Haidh
hal 31-M4b.Larangan Menyentuh Mushaf bagi Orang yang Junub atau Haidh
hal 31-M4c.Orang yang Junub atau Haidh Dilarang Membaca al Quran, Sholat, dan Thawaf di Kabah
hal 31-M4d.Fatwa tentang Orang yang Junub Menyentuh al Qur'an dan Memasuki Kamar Mandi Membawa Sesuatu yang Mengandung Qur'an

BAB 8 : TAYAMMUM
hal 32-M1.Hukum Tayammum dan Dalil Disyariatkannya Tayammum
hal 32-M2a.Syarat syarat Tayammum dan Sebab sebab yang Membolehkannya
hal 33-M2b.Lanjutan Syarat syarat Tayammum(Tidak Mendapatkan Air)
hal 33-M2c.Lanjutan Syarat syarat Tayammum (Menggunakan Tanah)
hal 34-M3.Pembatal pembatal Tayammum
hal 34-M4.Sifat dan Tata Cara Tayammum
hal 34-Tentang Orang yang Tidak Mampu untuk Bersuci

BAB 9 : NAJIS DAN BAGAIMANA CARA MEMBERSIHKAN NAJIS
hal 35-M1a.Definisi Najis dan Jenisnya
hal 35-M1b.Hukum Asal Membersihkan Najis adalah Menggunakan Air
hal 35-M2a.Yang Merupakan Najis Berdasarkan Dalil
hal 36-M2b.Darah yang Mengalir dari Hewan yang Dimakan termasuk Najis
hal 36-M2c.Kencing dan Kotoran Hewan yang Tidak Halal Dimakan termasuk Najis
hal 36-M2d.Bangkai, Madzi, Wadi, Darah Haidh termasuk Najis
hal 36-M2e.Beberapa Perselisihan Ulama tentang Najis
hal 36-M3.Tata Cara Menghilangkan Najis

BAB 10 : HAIDH DAN NIFAS
hal 38-Definisi Haidh dan Nifas
hal 38-M1.Permulaan dan Akhir Waktu Haidh
hal 38-M3.Mayoritas Kebiasaan Masa Haidh
hal 39-M4a.Hal hal yang Diharamkan bagi Wanita Haidh dan Nifas
hal 40-M4b.Lanjutan Hal hal yang Diharamkan bagi Wanita Haidh dan Nifas
hal 40-M5a.Hal hal yang Diwajibkan bagi Wanita Haidh
hal 40-M5b.Peringatan bagi Wanita yang Telah Suci Sebelum Tenggelam Matahari dan Sebelum Terbit Matahari
hal 42-M7.Tiga Keadaan Wanita yang Mengalami Istihadhoh

Sumber: Fiqih Muyassar Kitab Thaharah (Bersuci) - Ustadz Askari bin Jamal

Apakah Hewan Memiliki Ruh Layaknya Manusia?

12/19/2016 Add Comment
الروح مادة الحياة في الإنسان والحيوان
Roh Adalah Unsur kehidupan Dalam Diri Manusia dan Hewan

السؤال
Pertanyaan

أفيدونا أفادكم الله ما الدليل من الكتاب والسنة على أن للحيوان روحاً؟
Berikanlah faidah kepada kami, semoga Allah memberikan balasan faidah kepada kalian. Apa dalil dari al Kitab dan as Sunnah yang menunjukkan bahwa hewan memiliki ruh?

الإجابــة
Jawaban

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه وسلم أما بعد: فمن أدلة القرآن على أن للحيوان روحاً قصة البقرة التي أمر بنو إسرائيل بذبحها وقصة حمار عزير عليه السلام وقصة إبراهيم مع الطير وهذه القصص الثلاث كلها في سورة البقرة . ومن السنة حديث ابن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: " لا تتخذوا شيئاً فيه الروح غرضاً ". [ وهو حديث صحيح رواه مسلم]. وهذا كما يفعله بعض المترفين من وضع حمامة أو دجاجة أو أي حيوان في مكان معين ثم يقومون بعد ذلك بالتصويب إليه إما بالحجارة أو ببنادق الصيد ، وهذا من تعذيب الحيوان . وينبه الأخ السائل الكريم على أن المسلم من شأنه السؤال عما يهمه من أمر دينه ودنياه مما يشكل مثله عادة وما أظن أن أحداً يخفى عليه أن للحيوان روحاً . والله أعلم .

Roh Hewan

Segala puji hanya milik Allah, dan semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah dan keluarga serta para shahabatnya.
Diantara dalil-dalil di dalam al Qur'an yang menunjukkan bahwa hewan memiliki ruh adalah kisah sapi betina yang Bani Israil diperintahkan untuk menyembelihnya, dan kisah keledainya Uzair 'alaihissalam serta kisah Ibrahim bersama dengan burung. Tiga kisah ini semuanya terdapat dalam surah al Baqarah.
Dan dalil dari as Sunnah adalah hadits Ibnu Abbas radhiallohu 'anhuma, bahwasanya Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian menjadikan sesuatu yang ada ruhnya sebagai sasaran" [Hadits shohih riwayat Muslim]. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang yang suka berbuat sesuka hatinya dan sewenang-wenang dengan meletakkan burung merpati, ayam atau hewan apa saja diletakkan di tempat tertentu kemudian membidiknya, baik dengan batu atau senapan pemburu. Ini termasuk menyiksa binatang.
Dan sebagai peringatan bagi penanya yang mulia bahwasanya seorang muslim, diantara kebaikan urusannya adalah menanyakan perkara yang penting bagi dirinya dari urusan agama dan dunianya dari perkara yang biasanya tidak jelas. Dan saya tidak menyangka ada orang yang samar baginya perihal "hewan memiliki roh". Wallohu a'lam.

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=3242

Sekiranya KITA Punya ke-SABAR-an, Apa saja FADHILAH dan Keutamaannya?

11/27/2016 Add Comment
Fadhilah Keutamaan Sabar
Fadhilah SABAR di dalam al Qur'an al Karim:

1- علق الله الفلاح به في قوله: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} [آل عمران: 200].
1. Allah ta'ala mengaitkan antara keberuntungan dengan kesabaran, dalam firman-Nya: {Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.} [Ali Imran (3): 200].
2- الإخبار عن مضاعفة أجر الصابرين على غيره: {أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا} [القصص: 54] وقال: {إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ} [الزمر: 10]
2. Pemberitahuan tentang pelipatgandaan ganjaran pahala bagi orang-orang yang bersabar atas yang lainnya: {Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka,} [al Qosos (28): 54], dan Allah ta'ala berfirman: {Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.} [Azzumar (39): 10]
3- تعليق الإمامة في الدين به وباليقين: {وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ} [السجدة: 24].
3. Keterkaitan antara kepemimpinan dalam agama dengan kesabaran dan keyakinan: {Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.} [Assajadah (32): 24]
4- ظفرهم بمعية الله لهم : {إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ} [البقرة: 153].
4. Kemenangan mereka, karena Allah bersamanya: {sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.} [al Baqarah (2): 153 & al Anfal (8): 46]
5- أنه جمع لهم ثلاثة أمور لم تجمع لغيرهم: {أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ} [البقرة: 157].
5. Sesungguhnya Allah ta'ala mengumpulkan bagi mereka tiga perkara yang tidak terkumpul bagi selain mereka: {Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.} [al Baqarah (2): 157]
6- أنه جعل الصبر عوناً وعدة، وأمر بالاستعانة به : {وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ} [البقرة: 45].
6. Sesungguhnya Allah ta'ala menjadikan kesabaran sebagai bantuan dan pelengkap, serta Allah ta'ala perintahkan untuk meminta pertolongan dengan kesabaran: {Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.} [al Baqarah (2): 45]
7- أنه علق النصر بالصبر والتقوى فقال: {بَلَى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آلَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ} [آل عمران: 125].
7. Sesungguhnya Allah ta'ala mengaitkan pertolongan dengan kesabaran dan taqwa, Allah ta'ala berfirman: {Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.} [Ali Imran (3): 125]
8- أنه تعالى جعل الصبر والتقوى جنة عظيمة من كيد العدو ومكره فما استجن العبد بأعظم منهما: {وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا} [آل عمران: 120].
8. Sesungguhnya Allah ta'ala menjadikan kesabaran dan taqwa sebagai tameng yang kokoh dari tipu daya dan makar musuh, maka tidaklah seorang hamba memakai tameng dengan sesuatu yang sangat kokoh dibanding keduanya: {Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.} [Ali Imran (3): 120]
9- أن الملائكة تسلم في الجنة على المؤمنين بصبرهم {وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ * سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ} [الرعد: 23، 24].
9. Sesungguhnya malaikat memberikan salam di surga atas orang-orang yang beriman karena kesabaran mereka, {sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.} [Arro'du (13): 23-24]
10- أنه سبحانه رتب المغفرة والأجر الكبير على الصبر والعمل الصالح فقال: {إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ} [هود: 11].
10. Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala menetapkan maghfirah dan pahala yang besar diatas kesabaran dan amal sholeh, Allah ta'ala berfirman: {kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.} [Hud (11): 11]
11- أنه سبحانه جعل الصبر على المصائب من عزم الأمور: أي مما يعزم من الأمور التي إنما يعزم على أجلها وأشرفها: {وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ} [الشورى: 43].
11. Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala menjadikan kesabaran atas musibah termasuk perkara-perkara yang diutamakan yaitu termasuk dari perkara-perkara yang diniatkan dengan sungguh-sungguh yang diniatkan karena keagungan dan kemuliaannya : {Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.} [Asysyura (42): 43]
12- أنه سبحانه جعل محبته للصابرين: {وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ} [آل عمران: 146].
12. Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala menjadikan kecintaannya terhadap orang-orang yang bersabar: {Allah menyukai orang-orang yang sabar.} [Ali Imran (3): 146]
13- أنه تعالى قال عن خصال الخير: إنه لا يلقاها إلا الصابرون: {وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ} [فصلت: 35].
13. Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala berfirman tentang sifat-sifat yang baik: bahwasanya tidak ada yang bisa mendapatkannya kecuali orang-orang yang bersabar: {Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.} [Fushishilat (41): 35]
14- أنه سبحانه أخبر أنما ينتفع بآياته ويتعظ بها الصبار الشكور: {إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ} [الشورى: 33].
14. Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala mengabarkan bahwasanya yang mendapatkan manfaat dengan ayat-ayat-Nya dan mengambil wejangan dengannya hanyalah orang yang sangat penyabar dan banyak bersyukur: {Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat penyabar dan banyak bersyukur.} [Ibrahim (14): 5; Lukman (31): 31; Saba' (34): 19; Asysyura (42): 33]
15- أنه سبحانه أثنى على عبده أيوب أجل الثناء وأجمله لصبره فقال: {إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ} [ص: 44]، فمن لم يصبر فبئس العبد هو.
15. Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala memuji hamba-Nya Ayyub -alaihissalam- dengan pujian yang sangat agung dan indah karena kesabarannya, Allah ta'ala berfirman: {Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).} [Shod 38): 44], maka barangsiapa yang tidak bersabar maka dia adalah seburuk-buruk hamba.
16- أنه حكم بالخسران التام على كل من لم يؤمن ويعمل الصالحات ولم يكن من أهل الحق والصبر: {وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا...} [العصر: 1 - 3].
16. Sesungguhnya Allah ta'ala menetapkan kerugian yang sempurna atas setiap orang yang tidak beriman dan tidak beramal sholeh serta tidak termasuk orang -yang nasehat menasehati supaya menetapi- al Haq dan kesabaran: {Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman...} [Surah Al Ashr (103): 1-3]
قال الإمام الشافعي:"لو فكر الناس كلهم في هذه الآية لوسعتهم، وذلك أن العبد كماله في تكميل قوتيه: قوة العلم، وقوة العمل، وهما: الإيمان والعمل الصالح وكما هو محتاج لتكميل نفسه فهو محتاج لتكميل غيره، وهو التواصي بالحق، وقاعدة ذلك وساقه إنما يقوم بالصبر".
Al Imam Asy Syafi'i berkata: Sekiranya manusia seluruhya mau memikirkan tentang ayat ini tentu telah mencukupi bagi mereka, dan itu karena sesungguhnya seorang hamba, kesempurnaannya terletak pada penyempurnaan kekuatannya: kekuatan ilmu dan kekuatan amal, dan keduanya adalah -sama dengan- iman dan amal sholeh, kemudian sebagaimana dia perlu menyempurnakan dirinya maka dia juga perlu menyempurnakan orang lain, dan itu dengan nasehat menasehati supaya menetapi al Haq, dimana pondasi serta bangunan utama hal tersebut hanya bisa tegak dengan kesabaran.
17- أنه سبحانه خص أهل الميمنة بأنهم أهل الصبر والمرحمة الذين قامت بهم هاتان الخصلتان ووصوا بهما غيرهم فقال تعالى: {ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ * أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ} [البلد: 17، 18].
17. Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala memberikan kekhususan kepada -orang-orang- golongan kanan karena mereka adalah orang-orang yang punya kesabaran dan kasih sayang, mereka adalah orang-orang yang tegak pada mereka kedua sifat ini dan mereka memberikan pesan -nasehat- akan kedua sifat ini kepada orang selain mereka, Allah ta'ala berfirman: {Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (yaitu orang-orang yang memiliki sifat demikian itu) adalah golongan kanan.} [Al Balad (90): 17 & 18]
18- أنه تبارك وتعالى قرن الصبر بمقامات الإيمان وأركان الإسلام وقيم الإسلام ومثله العليا، فقرنه بالصلاة {وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ} [البقرة: 45] وقرنه بالأعمال الصالحة عموماً {إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ} [هود: 11]، وجعله قرين التقوى {إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ} [يوسف: 90]، وقرين الشكر {إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ} [إبراهيم: 5]، وقرين الحق {وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ} [العصر: 3]، وقرين المرحمة {وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ} [البلد: 17]، وقرين اليقين {لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ} [السجدة: 24]، وقرين التوكل {نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ * الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ} [العنكبوت: 58، 59]، وقرين التسبيح والاستغفار {فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ} [غافر: 55]، وقرنه بالجهاد {وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ } [محمد: 31].
18. Sesungguhnya Allah tabaraka wata'ala menggandengkan kesabaran dengan berbagai penegak keimanan dan rukun islam dan dengan hal berharga dan sifat tertinggi dalam islam. Allah ta'ala menggandengkan kesabaran dengan sholat {Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.} [Al Baqarah (2): 45]. Allah menggandengkan kesabaran dengan amal sholeh secara umum {kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh;} [Hud (11): 11]. Allah ta'ala menjadikan kesabaran bergandengan dengan taqwa {Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar,} [Yusuf (12) : 90], dan bergandengan dengan syukur {Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat penyabar dan banyak bersyukur.} [Ibrahim (14): 5; Lukman (31): 31; Saba' (34): 19; Asysyura (42): 33], dan bergandengan dengan al Haq {dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.} [Al Ashr (103): 3], dan bergandengan dengan berkasih sayang {dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.} [Al Balad (90): 17], dan bergandengan dengan keyakinan {ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.} [Assajadah (32): 24], dan bergandengan dengan tawakkal {Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya.} [Al Ankabut (29): 58-59], serta bergandengan dengan tasbih dan istighfar memohon ampun: {Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.} [Ghafir (40): 55]. Allah ta'ala juga menggandengkan kesabaran dengan jihad {Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu,} [Muhammad (47): 31].
19- إيجاب الجزاء لهم بأحسن أعمالهم {وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [النحل: 96].
19. Penetapan balasan pahala bagi mereka -orang yang sabar- dengan pahala yang lebih baik dari amal mereka: {Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.} [Annahl (16): 96].

Sumber: الصبر في القرآن - محمد بن عبدالعزيز الخضيري

Pengertian HIKMAH Menurut Etimologi dan Terminologi

11/23/2016 Add Comment
Arti Hikmah | Pengertian Hikmah | Islam
معنى الحِكْمَة لغةً واصطلاحًا
Arti HIKMAH menurut bahasa Arab dan secara istilah

معنى الحِكْمَة لغةً: الحَكَمَةُ: ما أحاط بحَنَكَي الفرس، سُمِّيت بذلك؛ لأنَّها تمنعه من الجري الشَّديد، وتُذلِّل الدَّابَّة لراكبها، حتى تمنعها من الجِماح [1]
Makna HIKMAH secara bahasa: الحَكَمَةُ (tali kekang): Sesuatu yang mengitari dua bibir/mulut kuda, disebut demikian karena الحَكَمَةُ (tali kekang) ini mencegah kuda lari kencang, dan menundukkan binatang tunggangan bagi pengendaranya hingga mencegahnya dari lari tak terkendali, mogok atau tak mau lari.
، ومنه اشتقاق الحِكْمَة؛ لأنَّها تمنع صاحبها من أخلاق الأراذل.
dan darinyalah diambil pecahan kata الحِكْمَة (hikmah) karena hikmah ini mencegah pemiliknya dari akhlak yang jelek.
وأَحْكَمَ الأَمْرَ: أي أَتْقَنَه فاستَحْكَم، ومنعه عن الفساد، أو منعه من الخروج عمَّا يريد [2] .
أَحْكَمَ الأَمْرَ (mengerjakan suatu perkara dengan sempurna): artinya menyempurnakannya sehingga menjadi kuat dan kokoh, serta mencegahnya dari kerusakan atau mencegahnya keluar -jauh- dari apa yang dia inginkan.

معنى الحِكْمَة اصطلاحًا: قال أبو إسماعيل الهروي: (الحِكْمَة اسم لإحكام وضع الشيء في موضعه) [3] .
Makna HIKMAH secara istilah: Abu Ismail al Harawi berkata: Hikmah adalah nama yang disematkan bagi pelaksanaan dengan sempurna dari peletakan sesuatu pada tempatnya.
وقال ابن القيِّم: (الحِكْمَة: فعل ما ينبغي، على الوجه الذي ينبغي، في الوقت الذي ينبغي) [4] .
Ibnul Qoyyim berkata: Hikmah adalah mengerjakan sesuatu yang seharusnya -dikerjakan-, sesuai dengan bentuk yang seharusnya dan pada waktu yang seharusnya.
وقال النَّووي: (الحِكْمَة، عبارة عن العلم المتَّصف بالأحكام، المشتمل على المعرفة بالله تبارك وتعالى، المصحوب بنفاذ البصيرة، وتهذيب النَّفس، وتحقيق الحقِّ، والعمل به، والصدِّ عن اتِّباع الهوى والباطل، والحَكِيم من له ذلك)
An Nawawi berkata: Hikmah adalah ibarat tentang ilmu yang disifati dengan ketetapan, -ilmu- yang mencakup atas pengenalan akan Allah tabaraka wata'ala, -ilmu- yang disertai dengan pelaksanaan hujjah yang nyata, perbaikan diri, pelaksanaan al Haq dan pengamalannya serta pencegahan dari pengikutan terhadap hawa nafsu dan kebatilan. al Hakim (ahli hikmah) adalah orang yang memiliki hal tersebut.[5]



[1] dari kata جمح الفرس: Apabila kudanya pergi berlari dengan kencang dan menjadi kuat serta mengalahkan pengendaranya. [Lisan al Arab 2/426]
[2] [al Qamus al Muhith] Fairuz Abadi h. 1415, [Lisan al Arab] Ibnu Manzhur 12/143, [Mukhtar ash Shihah] Arrozi h. 62, [An Nihayah fie Garib al hadits] Ibnu al Atsir 1/119, [al Mishbah al Munir] al Qoyyumi 1/145, [Taj al Arus] az Zubaidi 8/253, [al Jami' li Ahkami al Qir'an] al Qurthubi 1/288, [al Mu'jam al Washith] 1/19
[3] [Manazil as Sa'irin] h. 78
[4] [Madarij as Salikin] Ibnul Qoyyim 2/449
[5] [Syarh an Nawawi ala Muslim] 2/33



Sumber: http://www.dorar.net/enc/akhlaq/452