APA YANG KITA UCAPKAN JIKA SAUDARA KITA MENGUCAPKAN, "JAZAKAALLAAHU KHAIRAN"?

8/29/2016 Add Comment
Ucapan: Jazaakallohu Khoir

Ini adalah beberapa fatwa yang bermanfaat dari Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah Ta’ala, menjawab beberapa pertanyaan setelah Beliau menjelaskan hadits Usamah bin Zaid radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

من صُنِعَ إليه مَعْرُوفٌ فقال لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ الله خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ في الثَّنَاءِ
“Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan: jazaakallahu khaer (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.”

(HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi)

Berikut ini fatwa Al-Allamah Abdul Muhsin hafizhahullah, semoga bermanfaat.

Pertanyaan 1:
Sebagian ikhwan ada yang menambah pada ucapannya dengan mengatakan “jazakallah khaeran wa zawwajaka bikran” (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan menikahkanmu dengan seorang perawan), dan yang semisalnya. Bukankah tambahan ini merupakan penambahan dari sabda Rasul shallallahu alaihi wasallam, dimana beliau mengatakan “sungguh dia telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.?

Beliau menjawab:
Tidak perlu (penambahan) doa seperti ini, sebab boleh jadi (orang yang didoakan) tidak menginginkan do’a yang disebut ini. Boleh jadi orang yang dido’akan dengan do’a ini tidak menghendakinya. Seseorang mendoakan kebaikan, dan setiap kebaikan sudah mencakup dalam keumuman doa ini. Namun jika seseorang menyebutkan do’a ini, bukan berarti bahwa Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam melarang untuk menambah dari do’a tersebut. Namun beliau hanya mengabarkan bahwa ucapan ini telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya. Namun seandainya jika dia mendoakan dan berkata: “jazakallahu khaer wabarakallahu fiik wa ‘awwadhaka khaeran” (semoga Allah membalas kebaikanmu dan senantiasa memberkahimu dan menggantimu dengan kebaikan pula” maka hal ini tidak mengapa. Sebab Rasul Shallallahu alaihi wasallam tidak melarang adanya tambahan do’a. Namun tambahan do’a yang mungkin saja tidak pada tempatnya, boleh jadi yang dido’akan dengan do’a tersebut tidak menghendaki apa yang disebut dalam do’a itu.

Pertanyaan 2:
Ada sebagian orang berkata: ada sebagian pula yang menambah tatkala berdo’a dengan mengatakan: jazaakallahu alfa khaer” (semoga Allah membalasmu dengan seribu kebaikan”?
Beliau -hafidzahullah- menjawab:
“Demi Allah, kebaikan itu tidak ada batasnya, sedangkan kata seribu itu terbatas, sementara kebaikan tidak ada batasnya. Ini seperti ungkapan sebagian orang “beribu-ribu terima kasih”, seperti ungkapan mereka ini. Namun ungkapan yang disebutkan dalam hadits ini bersifat umum.”

Pertanyaan: Apakah ada dalil bahwa ketika membalasnya dengan mengucapkan “wa iyyakum” (dan kepadamu juga)?

Beliau menjawab:
“Tidak, sepantasnya dia juga mengatakan “jazakallahu khaer” (semoga Allah membalasmu kebaikan pula), yaitu didoakan sebagaimana dia berdo’a, meskipun perkataan seperti “wa iyyakum” sebagai athaf (mengikuti) ucapan “jazaakum”, yaitu ucapan “wa iyyakum” bermakna “sebagaimana kami mendapat kebaikan, juga kalian”, namun jika dia mengatakan “jazaakalallahu khaer” dan menyebut do’a tersebut secara nash, tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdhal.”

(transkrip dari kaset: durus syarah sunan At-Tirmidzi,oleh Al-Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah, kitab Al-Birr wa Ash-Shilah,nomor hadits:222).

(Diterjemahkan oleh Abu Karimah Askari bin Jamal)

Berikut ini transkrip dalam bahasa Arab:

يقول السائل : بعض الإخوة يتطرق فيزيد على (جزاك الله خيرا وزوجك بكرا) ونحو ذلك. أليس في هذا استدراك على قول النبي صلى الله عليه وسلم فإنه يقول ((فقد أبلغ في الثناء))
فأجاب: ولا حاجة بهذا الدعاء قد يكون ما يريد هذا الشيء الذي دعي به, أي نعم قد يكون الإنسان الذي دعي بهذا أنه لا يريده. فالإنسان يدعو بالخير وكل خير يدخل تحت هذا العموم. فالإنسان يأتي بهذا الدعاء وليس معنى ذلك أن الرسول صلى الله عليه وسلم نهى عن ذلك يعني لا يزيد على هذا وإنما أخبر أن هذا فيه إبلاغ بالثناء, لكنه لو دعا له فقال: جزاك الله خيرا وبارك الله فيك وعوضك خيرا ما فيه بأس, لأن الرسول صلى الله عليه وسلم مامنع من الزيادة .لكن مثل هذه الزيادة التي قد تكون في غير محلها ,قد يكون صاحب المدعو له لا يريد هذا الشيء الذي دعي له به .
السؤال: والآخر يقول :يزيد البعض فيقول : جزاك الله ألف خير
فأجاب: والله الخير ليس له حد ,ليس له حد والألف هذا محدود,والخير بدون حد. لكن هذا مثل عبارات بعض الناس: ألف شكر شكر مثل ما يعبرون. لكن التعبير بهذا الذي جاء في هذا الحديث عام
السؤال: هل هناك دليل على أن الرد يكون بصيغة (وإياكم)؟
فأجاب: لا, الذي ينبغي أن يقول :(وجزاكم الله خيرا) يعنى يدعى كما دعا, وإن قال (وإياكم) مثلا عطف على جزاكم ,يعني قول (وإياكم) يعني كما يحصل لنا يحصل لكم. لكن إذا قال: أنتم جزاكم الله خيرا ونص على الدعاء هذا لا شك أنها أوضح وأولى
(مفرغ من شريط دروس شرح سنن الترمذي, كتاب البر والصلة ,رقم:222)
http://ibnulqoyyim.com/index.php?option=com_content&task=view&id=36&Itemid=1



Sumber : http://www.darussalaf.or.id/fatwa-ulama-tanya-jawab/ucapan-jazaakallohu-khoir/

Kumpulan Do'a dalam Ayat Al Qur'an Lengkap dengan Terjemahan [Seri 2]

8/05/2016 Add Comment
Lanjutan dari Kumpulan Do'a dalam Ayat Al Qur'an Lengkap dengan Terjemahan [Seri 1]

{رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ} [الأنبياء: 89]
"Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik." [Al Anbiya': 89]

{رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ * وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ} [المؤمنون: 97، 98]
"Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku". [Al Mu'minun: 97-98]

{رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ} [المؤمنون: 109]
"Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik." [Al Mu'minun: 109]

{رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ} [المؤمنون: 118]
"Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik". [Al Mu'minun: 118]

{رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا * إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا} [الفرقان: 65، 66]
"Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal". Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman." [Al Furqan: 65-66]

{رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا} [الفرقان: 74]
"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." [Al Furqan: 74]

{رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ * وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ * وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ} [الشعراء: 83-85]
"Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," [Asy Syu'ara': 83-85]

{وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ (87) يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ} [الشعراء: 87 - 89]
dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih," [Asy Syu'ara': 87-89]

{رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ} [النمل: 19]
"Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". [An Naml: 19]

{رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي} [القصص: 16]
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku" [Al Qasas: 16]

{رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ} [القصص: 21]
"Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu". [Al Qasas: 21]

{رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ} [القصص: 24]
"Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". [Al Qasas: 24]

{رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ} [العنكبوت: 30]
"Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu". [Al Ankabut: 30]

{رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ} [الصافات: 100]
Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. [Ash Shoffat: 100]

{رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ} [الأحقاف: 15]
"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". [Al Ahqaf: 15]

{رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ} [الحشر: 10]
"Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". [Al Hasyr: 10]

{رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ} [الممتحنة: 4]
"Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali". [Al Mumtahanah: 4]

{رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ} [الممتحنة: 5]
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". [Al Mumtahanah: 5]

{رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ} [التحريم: 8]
"Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". [AT Tahrim: 8]

{رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ} [نوح: 28]
Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. [Nuh: 28]

Kumpulan Do'a dalam Ayat Al Qur'an Lengkap dengan Terjemahan [Seri 1]

8/04/2016 Add Comment
{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 6، 7]
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [Al Fatihah : 6, 7]

{رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ} [البقرة: 127]
"Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" [Al Baqarah : 127]

{وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ} [البقرة: 128]
dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [Al Baqarah :128]

{رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ} [البقرة: 201]
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". [Al Baqarah : 201]

{سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ} [البقرة: 285]
"Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali". [Al Baqarah : 285]

{رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ} [البقرة: 286]
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". [Al Baqarah : 286]

{رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ} [آل عمران: 8]
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)". [Ali Imran : 8]

{رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ} [آل عمران: 16]
Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka [Ali Imran : 16]

{رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ} [آل عمران: 38]
"Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa". [Ali Imran : 38]

{رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ} [آل عمران: 53]
Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah) [Ali Imran : 53]

{رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ} [آل عمران: 147]
"Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". [Ali Imran : 147]

{رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191) رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (192) رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ (193) رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ} [آل عمران: 191 - 194]
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji". [Ali Imran : 191-194]

{رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ} [المائدة: 83]
"Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam)." [Al Maidah : 83]

{رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [الأعراف: 23]
"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." [Al A'raf : 23]

{رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ} [الأعراف: 47]
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu". [Al A'raf : 47]

{أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ * وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ} [الأعراف: 155-156]
Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya, Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat [Al A'raf : 155-156]

{حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ} [التوبة: 129]
"Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung". [At Taubah : 129]

{رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ * وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ} [يونس: 85، 86]
Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang'zalim,
( 86 ) dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir [Yunus: 85-86]

{رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [هود: 47]
Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi [Hud: 47]

{رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ} [يوسف: 101]
Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. [Yusuf: 101]

{رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ} [إبراهيم: 35]
"Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala." [Ibrahim : 35]

{رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ} [إبراهيم: 40]
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. [Ibrahim: 40]

{رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ} [إبراهيم: 41]
"Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". [Ibrahim : 41]

{رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا} [الكهف: 10]
"Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)". [Al Kahfi: 10]

{رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي * وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي * وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي * يَفْقَهُوا قَوْلِي} [طه: 25 - 28]
"Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku," [Tho-ha: 25-28]

{رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا} [طه: 114]
"Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan". [Tho-ha: 114]

{لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ} [الأنبياء: 87]
"Tidak ada Tuhan -yang berhak disembah- selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim".[Al Anbiya: 87]

Selanjutnya : Kumpulan Do'a dalam Ayat Al Qur'an Lengkap dengan Terjemahan [Seri 2]

[Khotbah Idul Fitri] Syarat, Sebab dan Tanda Diterimanya Amal Sholeh

7/06/2016 Add Comment
Naskah Khotbah Hari Raya Teko Bontokoraang
الحمد لله وكفى وصلاةً وسلاماً على عبده المصطفى وعلى آله وصحبه ومن اقتفى
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد

Ayyuhannas, Allah subhanahu wata'ala berfirman :
{وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ} [البقرة: 185]
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. [al Baqarah : 185]

Alhamdulillah bulan ramadhan telah kita lalui dengan menyempurnakan jumlah bilangannya dengan melaksanakan ibadah puasa di siang harinya, puasa tersebut kita awali dan akhiri berdasarkan tuntunan Nabi shollallahu 'alaihi wasallam dalam sabdanya :
«إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ» رواه البخاري
Apabila kalian melihat hilal maka perpuasalah dan apabila kalian melihatnya maka berbukalah (idul fitri), lalu jika kalian terhalangi -sehingga tidak mampu melihatnya- maka sempurnakanlah bilangannya. [HR. al Bukhari]

«لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلَالَ، وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ» رواه البخاري
Janganlah kalian berpuasa hingga melihatnya, dan janganlah kalian berbuka (idul fitri) hingga kalian melihatnya, lalu jika kalian terhalangi -sehingga tidak mampu melihatnya- maka sempurnakanlah bilangannya. [HR. al Bukhari]

«صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ» رواه البخاري
Berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah kalian karena melihatnya, lalu jika kalian terhalangi -sehingga tidak mampu melihatnya- maka sempurnakanlah bilangan sya'ban menjadi 30 hari. [HR. al Bukhari]

Selanjutnya Allah ta'ala melanjutkan firman-Nya :
{وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ} [البقرة: 185]
dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, [al Baqarah : 185]

Hidayah petunjuk ini senantiasa kita minta dalam do'a kita sebanyak 17 kali sehari semalam, ketika membaca surah al Fatihah;
{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ} [الفاتحة: 6]
Tunjukilah kami jalan yang lurus, [al Fatihah : 6]

Oleh karena itu hendaknya kita menghadirkan hati khususnya ketika membaca do'a ini agar permintaan kita dikabulkan oleh Allah ta'ala. Hidayah yang kita minta disini adalah hidayah irsyad berupa ilmu dan hidayah taufiq untuk mengamalkan ilmu tersebut.

Tujuan dari semua hal tersebut -menyelesaikan puasa dan bertakbir mengangungkan Allah atas hidayahnya- adalah :
{وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ} [البقرة: 185]
supaya kamu bersyukur. [al Baqarah : 185]

Syukur itu bukan hanya sekedar ucapan tahmid, tapi syukur itu adalah menggunakan segala nikmat untuk ber-ibadah kepada Allah.

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلَاهُ، قَالَتْ عَائِشَةُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَتَصْنَعُ هَذَا، وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ، فَقَالَ: «يَا عَائِشَةُ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا» رواه مسلم
Dari Aisyah radhiallohu 'anha, dia berkata : Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam apabila sholat dia berdiri hingga bengkak kedua kakinya, Aisyah bertanya : mengapa kamu melakukan hal ini, sementara itu sungguh telah diampuni segala dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, beliau bersabda : "Wahai Aisyah, apakah saya tidak ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur" [HR. Muslim]

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد

Jama'ah sekalian rahimani warahimakumullah, agar rasa syukur kita dalam bentuk ibadah diterima disisi Allah ta'ala hendaknya ibadah tersebut memenuhi dua syarat :

Yang Pertama : Ikhlas
Allah ta'ala berfirman :
{وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ} [البينة: 5]
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, [al Bayyinah : 5]

Keikhlasan itu orientasinya hanya akhirat.

Allah ta'ala berfirman :
{مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ} [الشورى: 20]
Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. [asy Syuura : 20]

Keikhlasan itu bukan sekedar rasa cinta tapi disertai dengan rasa harap akan rahmat Allah dan rasa takut akan adzab-Nya, sebagaimana keadaan para Nabi, para wali dan orang-orang sholeh yang Allah ceritakan dalam firman-Nya :
{إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ} [الأنبياء: 90]
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami. [al Anbiya' : 90]

{أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا} [الإسراء: 57]
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.

Ini syarat diterimanya amalan yang pertama.

Syarat yang kedua : Mutaba'ah -Mengikuti tuntunan Nabi shollallahu 'alaihi wasallam-

عن عائشةَ، رَضِي اللَّه عنها، قَالَتْ قَالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: "منْ أَحْدثَ في أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فهُو رَدٌّ" متفقٌ عَلَيهِ. وفي رواية لمسلمٍ: "مَنْ عَمِلَ عمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُو ردٌّ"
Dari Aisyah radhiallohu 'anha, dia berkata, Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama kita ini suatu perkara yang tidak berasal darinya, maka perkara tersebut tertolak." Muttafaq 'alaih. Dalam riwayat Muslim : "Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari urusan agama kami maka amalannya itu tertolak"

Allah subhanahu wata'ala berfirman :
{الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ} [الملك: 2]
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, [al Mulk : 2]

al Fudhail berkata :
أحسن عملاً : أخلصه وأصوبه
Amalan yang paling baik : Yang Paling ikhlas dan yang paling tepat -sesuai tuntunan-

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد

Tiga Sebab dan Tanda Diterimanya Amalan

Pertama : Adanya Rasa Khawatir Amalan Tidak Diterima

Disebutkan dalam sebuah riwayat :

فعن عائشة ـ رضي الله عنها ـ قالت: سألت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - عن هذه الآية: {وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ} [المؤمنون: 60]
أهم الذين يشربون الخمر ويسرقون؟! قال: (لا يا ابنة الصديق! ولكنهم الذين يصومون ويصلّون ويتصدقون، وهم يخافون أن لا يقبل منهم، أولئك الذين يسارعون في الخيرات)
Dari Aisyah -radhiallohu 'anha- dia berkata : saya pernah bertanya kepada Rasulullah -shollallahu 'alaihi wasallam- tentang ayat ini : {Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut,} [al Mu'minun : 60]
Apakah mereka orang-orang yang meminum khomer dan mencuri?!, Beliau menjawab : (Bukan wahai putri ash-shiddiq, akan tetapi mereka orang-orang yang berpuasa, sholat dan bersedekah dalam keadaan mereka takut tidak diterima amalan tersebut dari mereka, mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan)

Kedua : Adanya Rasa Harap dan Banyak Berdo'a

Allah subhanahu wata'ala berfirman :
{وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ} [البقرة: 127]
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". [al baqarah : 127]

Ketiga : Terus Menerus Mengerjakan Amalan Sholeh
Disebutkan dalam beberapa riwayat, diantaranya :
فعن عائشة- رضي الله عنها - قالت: (كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا عمل عملاً أثبته) رواه مسلم
Dari Aisyah -radhiallohu 'anha- dia berkata : (Adalah Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam apabila mengerjakan suatu amalan dia teguh dalam mengerjakannya) [HR. Muslim]

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا، وَإِنْ قَلَّ»، قَالَ: وَكَانَتْ عَائِشَةُ إِذَا عَمِلَتِ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ. رواه مسلم
dari Aisyah, dia berkata : Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Amalan yang paling dicintai disisi Allah adalah amalan yang berkesinambungan". Periwayat berkata : Dahulu Aisyah, apabila mengerjakan sesuatu pasti dia akan konsisten mengerjakannya. [HR. Muslim]

Istiqomah mengerjakan ibadah tertentu merupakan sebab mengalirnya pahala meski kita tidak lagi mengerjakannya karena ada atau telah udzur.

Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"إِذَا مرِضَ الْعبْدُ أَوْ سافَر كُتِب لَهُ مَا كانَ يعْملُ مُقِيماً صحيِحاً" رواه البخاري
"Apabila seorang hamba sedang sakit atau melakukan perjalanan jauh (safar), maka dicatat baginya apa saja yang dia senantiasa kerjakan ketika tidak bepergian lagi sehat." [HR. al Bukhari]

Jama'ah sekalian rahimani wa rahmakumullah,
Sebagai kesimpulan, Ramadhan telah melatih kita untuk bersyukur kepada Allah dengan berbagai bentuk ibadah, mulai dari puasa, sholat tarawih hingga kajian-kajian untuk memperdalam ilmu agama, oleh karena itu mari kita terus mensyukuri nikmat Allah dengan berbagai bentuk ibadah dan amal sholeh terlebih nikmat hidayah berupa ilmu yang Allah tambahkan dan nikmat pemahaman yang Allah rezkikan kepada kita sekalian, tentu dengan memperhatikan dua syarat yang telah disebutkan agar ibadah kita bernilai pahala disisi Allah dan dengan memperhatikan sebab-sebab dan tanda diterimanya amal kita disisi Allah. Dan semoga Allah senantiasa memberikan hidayah ilmu dan taufiq untuk mengamalkannnya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللهم تقبل صيامنا وقيامنا، واجعلنا من عبادك الفائزين المرحومين، اللهم أعد علينا رمضان ومن َّعلينا بالصيام والقيام، رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سبحان ربك رب العزة عما يصفون، وسلام على المرسلين، والحمد لله رب العالمين

Anda Rutin Membaca Al Qur'an? Sudahkah Anda Mengamalkan Perkara Berikut Ini?

6/03/2016 Add Comment
Kajian Kitab Setiap Malam Sabtu Masjid Al Ikhwan Bo'dia Tabang
Majelis Ta'lim Setiap Malam Sabtu
Pasal [Berkaitan Tentang Memperindah Suara]

Dianjurkan untuk memperbagus bacaan, jika suaranya kurang bagus, maka tetap berusaha memperindahnya sesuai kemampuan. Adapun membaca dengan banyak kekeliruan, maka salaf dahulu tidak senang dengan yang demikian itu.
Dianjurkan membaca dengan suara pelan, sungguh telah datang dalam sebuah hadits :
"فضل قراءة السر على قراءة العلانية كفضل صدقة السر على صدقة العلانية"
"Keutamaan membaca dengan suara pelan dibanding membaca dengan suara besar sama seperti keutamaan sedekah sembunyi-sembunyi dibanding sedekah terang-terangan".[1]
Namun tetap dianjurkan untuk memperdengarkannya kepada dirinya sendiri.
Namun tidak mengapa mengeraskan bacaan dalam beberapa waktu untuk tujuan yang benar, baik untuk memperbaiki hafalan atau untuk menghilangkan rasa malas dan kantuk dari diri sipembaca, atau agar orang yang mengantuk bisa terjaga.
Adapun : hukum membaca al Qur'an di dalam sholat, ukuran ayat/surah yang dibaca pada saat sholat fardhu, dan letak membaca dengan keras dan pelan, hal tersebut telah diketahui bersama, masyhur di dalam kitab-kitab fiqh.
Barangsiapa yang memiliki mushaf, maka sebaiknya dia membaca isinya setiap hari beberapa ayat yang ringkas agar tidak menjadi layaknya sesuatu yang ditinggalkan.
Sebaiknya bagi pembaca al Qur'an al Adzhim memperhatikan bagaimana kelembutan Allah kepada makhluq-Nya, ketika menyampaikan kepada mereka pemahaman terhadap makna perkataan-Nya, dan hendaknya dia mengetahui bahwa apa yang dibacanya bukanlah perkataan manusia, dan hendaknya dia hadirkan keagungan zat yang berbicara yaitu Allah subhanahu wata'ala dan mentadabburi kata-kata-Nya. Karena tadabbur itu merupakan tujuan dari membaca al Qur'an, sekiranya tidak dapat mentadabburinya kecuali dengan mengulang-ulangi dalam membaca satu ayat, maka hendaknya dia terus mengulang-ulanginya. Sungguh Abu Dzar radhiallohu 'anhu telah meriwayatkan dari Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau berdiri menegakkan sholat malam dengan membaca ayat yang diulang-ulanginya :
{إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ} [المائدة: 118]
{Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau} [QS. Al Maidah : 118]
Tamim ad Dari radhiallohu 'anhu berdiri menegakkan sholat dengan membaca satu ayat yaitu firman Allah ta'ala :
{أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ} [الجاثية: 21]
{Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh,} [QS. Al Jatsiyah : 21]
Demikian pula ar Rabi' bin Khutsaim -rahmatullah 'alaih- berdiri menegakkan sholat malam dengan membaca ayat tersebut.
Sebaiknya bagi orang yang membaca al Qur'an meneliti agar nampak jelas dari setiap ayat, apa saja yang sesuai dengan makna ayat tersebut, dan dia berusaha memahami sedikit demi sedikit hal itu. Apabila dia membaca firman Allah ta'ala :
{خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ} [الأنعام: 1]
{-Segala puji bagi Allah Yang- telah menciptakan langit dan bumi} [QS. al An'am : 1]
Hendaknya dia mengetahui keagungan-Nya dan mengagumi keMahaKuasaan-Nya, pada setiap yang dia lihat.
Apabila dia membaca :
{أَفَرَأَيْتُمْ مَا تُمْنُونَ} [الواقعة: 58]
{Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan.} [QS. Al Waqi'ah : 58]
Maka hendaknya dia pikirkan tentang nutfah yang bentuknya seragam, bagaimana bisa terbagi-bagi menjadi daging dan tulang, urat dan syaraf, dan menjadi bentuk yang beraneka ragam, mulai dari kepala dan tangan serta kaki, kemudian terbagi-bagi lagi kedalam beberapa sifat yang mulia yang nampak padanya, seperti pendengaran, penglihatan, akal dan lain sebagainya, maka hendaknya dia memperhatikan keajaiban-keajaiban ini.
Apabila dia membaca keadaan orang-orang yang "mendustakan" hendaknya dia merasakan takut akan hantaman keras yang akan menimpanya jika dia lalai dari melaksanakan perintah.
Hendaknya orang yang membaca al Qur'an melepaskan diri dari berbagai hal yang bisa menghalangi pemahamannya. Misalnya, setan membisikkan khayalan kepadanya, bahwa dia belum benar dalam membaca sebuah huruf dan belum membacanya sesuai dengan makhrajnya, sehingga sipembaca terus mengulang-ulangi bacaannya tersebut, dan akhirnya memalingkan niat dan keinginannya dari paham akan makna ayat yang dibacanya. Diantara contoh hal yang bisa menghalangi pemahaman adalah terus menerus berbuat dosa, atau memiliki sifat sombong, atau diuji dengan penyakit memperturutkan hawa nafsu. Sesungguhnya perkara tersebut merupakan sebab gelap dan berkaratnya hati. Hal itu seperti karat di cermin, bisa menghalangi dari tampaknya kebenaran, karena hati ibarat cermin, sementara syahwat ibarat noda karat, dan makna al Qur'an ibaratnya seperti berbagai macam gambar yang bisa nampak di balik cermin, lalu melatih hati dengan menyingkirkan noda syahwat ibaratnya seperti menjadikan bening sebuah cermin.
Sebaiknya bagi pembaca al Qur'an mengetahui bahwa dialah yang dituju dari apa yang disampaikan didalam al Qur'an dan ancaman-ancamannya. Dan dia harus pahami bahwa kisah-kisah yang terdapat didalamnya, tujuannya bukan sekedar menyampaikan peristiwa dan berita, akan tetapi untuk diambil hikmah dan pelajaran didalamnya, maka hendaknya dia memperhatikan hal ini. Dengan demikian dia membaca layaknya bacaan seorang budak yang tuannya menulis sesuatu dengan tujuan tertentu yang ditujukan kepadanya.
Hendaknya dia memperhatikan al Qur'an dan mengamalkan kandungannya, sesungguhnya perumpamaan orang yang durhaka ketika membaca dan membolak-balik al Qur'an, seperti orang yang membolak-balik kitab sang raja dan berpaling dari memakmurkan kerajaannya serta berpaling dari apa yang sang raja perintahkan dalam kitab tersebut, maka dia merasa cukup dengan apa yang ada padanya dan enggan mempelajarinya, serta menyelishi perintah-perintahnya. Maka sekiranya dia enggan mempelajari disertai dengan penyelisihan terhadapnya maka hukumannya tentu lebih jauh (lebih parah) dibanding sekedar mendapat olok-olokan dan kelayakan mendapatkan murka.
Hendaknya dia berlepas diri dari daya dan upayanya, sehingga tidak menoleh kepada dirinya dengan pandangan telah diridhoi dan telah suci, karena sesungguhnya orang yang memandang dirinya dengan pandangan penuh kekurangan maka hal tersebut menjadi sebab dekatnya kepada Allah.

Sumber : Mukhtashar Minhajil Qosidin hal. 52-52 [Maktabah Syamilah]

[1] Tidak ada hadits dengan lafadz seperti diatas, namun dia semakna dengan hadits shohih :
"الجاهر بالقرآن كالجاهر بالصدقة، والمسر بالقرآن كالمسر بالصدقة"
"Orang yang mengeraskan suara dalam membaca al Qur'an sama seperti orang yang terang-terangan dalam bersedekah, dan Orang melembutkan suara dalam membaca al Qur'an sama seperti orang yang sembunyi-sembunyi dalam bersedekah
HR. Abu Daud (1333) dan At Tirmidzi (2920) dari hadits Uqbah bin Amir, sanadnya shohih, karena Ismail bin Ayyasy, meriwayatkannya dari Juhair bin Sa'ad al Himshi, dan dia termasuk penduduk kampungnya, dan riwayatnya dari mereka adalah riwayat yang lurus bisa diterima.

Penjelasan Ringkas Pembatal Syahadat | Contoh Syirik | Pihak Ketiga dalam Hubungan Antara Hamba & Tuhannya

6/02/2016 Add Comment
Syarah Pembatal Keislaman | Syaikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan
Majelis Ta'lim Antara Magrib - Isya
Diantara contoh kesyirikan adalah : Menyembelih bukan karena Allah, seperti menyembelih untuk jin atau untuk kuburan

Asy Syaikh rahimahullah menyebutkan contoh ini karena hal itu memang kenyataan, dan orang-orang menganggapnya biasa, mereka menyembelih bukan karena Allah, mereka menyembelih untuk jin karena takut keburukannya, mereka menyembelih untuk mereka karena terapi penyembuhan penyakitnya, manusia menganggap remeh hal tersebut. Hal ini banyak terjadi meskipun termasuk syirik besar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari agama, dan itu tentu bukan hal yang gampang. Setan mengatakan kepada mereka : Sembelihlah seekor kambing, sembelihlah seekor ayam, itu mudah, akan tetapi dia tidak perhatikan kesyrikan yang terjadi. Orang yang menyembelih lalat saja bisa masuk neraka, bukan sembelihannya yang dilihat, akan tetapi aqidahnya yang dilihat, yang dilihat adalah niat di dalam hati, yang dilihat adalah ketidakpeduliannya terhadap kesyirikan, bukan nilai sesembelihan yang dilihat, karena orang yang menyembelih lalat saja bisa masuk neraka. Manusia menganggap remeh hal ini, karena ingin ditunaikan hajatnya, atau agar jin tersebut mengajarinya perkara gaib, atau menunjukkan kepadanya letak barang yang hilang, atau selain itu dari perkara-perkara yang dia tanyakan kepada jin tersebut. maka dia keluar dari agamanya -wal 'iyadzu billah-, dia murtad hanya karena perkara yang dianggapknya biasa, padahal masalah ini sangat mengkhawatirkan sekali.

Pembatal Keislaman yang Kedua : Orang yang menjadikan perantara antara dirinya dan Allah, dia berdo'a kepada perantara tersebut, meminta dan bersandar kepadanya; Orang seperti ini kufur berdasarkan ijma.

Ini sebenarnya masih termasuk pembatal keislaman yang pertama yaitu kesyirikan; yaitu orang yang menjadikan perantara antara dirinya dan Allah, akan tetapi Asy Syaikh menyebutkannya sebagai salah satu pembatal keislaman, dan menjadikannya sebagai bagian yang berdiri sendiri, karena hal ini banyak terjadi; karena ini terjadi dari kalangan orang-orang yang mengaku Islam, dan ini banyak terjadi disisi penyembah kuburan, mereka mendekatkan diri kepada seorang wali agar bisa memberi syafaat kepada mereka disisi Allah, atau agar menyampaikan segala kebutuhan mereka kepada Allah -menurut sangkaan mereka-, ini termasuk mengambil perantara selain Allah azza wajalla, dia menyembelih untuk mereka, bernazar untuk mereka dan istigotsah kepadanya.

Dan Dia katakan : ini bukanlah kesyirikan, ini hanya penengah, hanya meminta penengah dan syafaat yang menghubungkan saya kepada Allah, ini adalah orang sholeh yang memiliki kedudukan tertentu disisi Allah, maka saya mendekatkan diri kepadanya agar dia mendekatkanku kepada Allah.

Itu alasannya, dan itu sama saja dengan alasannya orang-orang musyrik dahulu :
{وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى} [الزمر: 3]
Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". [QS. Azzumar : 3]

Mereka mengatakan : kami tidak menjadikan mereka sebagai sekutu-sekutu bagi Allah, akan tetapi kami jadikan mereka sebagai penengah untuk mendekatkan kami, sementara Allah menamakannya dengan kesyirikan;
{وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ} [يونس: 18]
Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). [QS. Yunus : 18]

Allah menamakannya dengan kesyirikan, sementara mereka menamakannya dengan meminta syafaat. Inilah yang terjadi, bahwasanya banyak dari orang-orang yang mengaku Islam dan apa yang mereka kerjakan di kuburan saat ini, mereka menjadikannya penengah antara mereka dengan Allah. Masalah ini samar bagi kebanyakan orang bahkan dikalangan penuntut ilmu, dan disana ada ulama yang membela mereka. Mereka mengatakan : Ini bukan kesyirikan, syirik itu adalah menyembah berhala, sementara mereka tidaklah menyembah berhala.

Ya Subhanallah, menyembah berhala itu salah satu bentuk dari berbagai bentuk kesyirikan, syirik itu adalah menyembah selain Allah, baik itu menyembah berhala, pepohonan, batu, kuburan, wali atau menyembah satu malaikat dari kalangan malaikat, atau seorang wali dari kalangan para wali, atau seorang sholeh dari kalangan orang-orang sholeh, ini adalah kesyirikan, kesyirikan itu bukan hanya sekedar menyembah berhala saja.



Sumber : Syarah Nawaqidh al Islam Karya Asy Syaikh Sholeh bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan hal. 17-20

Kaidah Nahwu 009 || Mubtada' Mufrad Mudzakkar dan Mufrad Muannats (المبتدأ المفرد المذكر والمفرد المؤنث)

6/01/2016 Add Comment
Sebelum mempelajari kaidah berkaitan dengan Mubtada' Mufrad Mudzakkar dan Mufrad Muannats, pelajari dulu kaidah sebelumnya yaitu :
  1. Kaidah Nahwu 006 || Mudzakkar dan Muannats (المذكر والمؤنث) 
  2. Kaidah Nahwu 007 || Mufrad, Mutsanna dan Jamak (المفرد والمؤنث والجمع) 
  3. Kaidah Nahwu 008 || Mubtada' dan Khobar (المبتدأ والخبر)

Kaidah Nahwu || Mubtada' Mufrad Mudzakkar dan Mufrad Muannats (المبتدأ المفرد المذكر والمفرد المؤنث)
المبتدأ المفرد المذكر والمفرد المؤنث

القَاعِدَةُ :
  1. يَأْتِي خَبَرُ الْمُبْتَدَأِ مُفْرَداً مُذَكَّراً إِذَا كَانَ الْمُبْتَدأُ مُفْرَداً مُذَكَّراً، مِثْلُ : النَّهْرُ صَغِيْرٌ، مَاءُ النَّهْرِ قَلِيْلٌ.
  2. وَيَأْتِي خَبَرُ الْمُبْتَدَأِ مُفْرَداً مُؤَنَّثاً إِذَا كَانَ الْمُبْتَدأُ مُفْرَداً مُؤَنَّثاً، مِثْلُ : السُّلَحْفَاةُ وَاقِفَةٌ.

Kaidah :
  1. Khabar mubtada' datang dalam bentuk mufrad mudzakkar apabila mubtada'nya berbentuk mufrad mudzakkar, contoh :
اَلنَّهْرُ صَغِيْرٌ = Sungai itu kecil
مَاءُ النَّهْرِ قَلِيْلٌ = Air sungai itu sedikit
  1. Khabar mubtada' datang dalam bentuk mufrad mu'annats apabila mubtada'nya berbentuk mufrad mu'annats, contoh :
اَلسُّلَحْفَاةُ وَاقِفَةٌ = Kura-kura itu berhenti



Sumber : Silsilah Ta'lim Al Lugah Al Arabiyah - Al Mustawa Ats Tsani - Pelajaran Kedelapan